Tarbiyah Membentuk Syakhsiyyah Islamiyyah

Landasan

Seorang mu’min terhadap mu’min lainnya bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan (HR Bukhari-Muslim).

Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam (HR. Muslim).

 

Ada 4 karakteristik ideal umat Islam:

1. Umat Islam seperti bangunan utuh.

2. Setiap komponen saling memelihara kebaikan.

3. Selalu saling mencari solusi.

4. Saling menjaga, memelihara dan mendukung.

Keempat karakteristik inilah yang akan menjadi pondasi terbentuknya kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah).

 

Ada 10 kepribadian yang harus dimiliki oleh orang muslim:

1. Salimul Aqidah (akidah yang lurus)

Aqidah yang benar akan melahirkan muraqabatullah, juga melahirkan jiwa yang terbebas dari kultus individu.

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)

Yaitu ibadah yang sesuai Al Qur’an dan Hadits. Allah swt berfirman, “Dialah yang telah menjadikan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang lebih baik amalnya.”

3. Matinul Khuluq (akhlaq yang kokoh)

Merupakan pantulan dari aqidah yang baik. Islam menghendaki seorang muslim untuk menjadi penyebar rahmat dan kebaikan Allah.

4. Mutsaqafatul Fikr (pemikiran yang tajam)

Akhlaq baik, disertai intelektualitas tinggi dan pemikiran cerdas. “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka (QS 3:191).

5. Qawiyyul Jism (tubuh yang kuat)

Sabda Rasulullah saw, “Orang mu’min yang kuat lebih baik dan lebih Allah sukai daripada mu’min yang lemah.”

6. Qadirun ‘alal Kasbi (mampu mencari rezeki)

Muslim yang mampu membangun umat adalah yang memiliki daya saing tinggi, bukan menjadi beban. “Tidaklah seseorang memakan sesuatu yang lebih baik daripada hasil kerjanya sendiri (Al Bukhari).

7. Mujahidun Linafsihi (mampu mengendalikan hawa nafsu)

Ibnul Qayyim menyebutkan, salah satu kendaraan syetan untuk mengendalikan manusia adalah hawa nafsu. “Tidakkah seseorang beriman kepadaku hingga haawa nafsunya menjadi pengikut terhadap apa yang kubawa.”

8. Munazhzhamun Fii Syu’unihi (rapi segala urusannya)

Sabda Rasul, “Allah itu indah dan mencintai keindahan”. Segala sesuatu yang rapi membuat pekerjaan menjadi optimal.

9. Harisun ‘ala Waqtihi (menjaga waktunya)

Menurut Yusuf Qardhawi, waktu begitu murah di kalangan kaum muslimin. Menurut Hasan Al Banna, waktu adalah kehidupan. Dan kewajiban lebih banyak dibandingkan waktu yang tersedia.

10. Nafi’un Lighairihi (bermanfaat bagi orang lain)

Sabda Rasulullah saw, “Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Manfaat paling minimal adalah menahan diri dari menyaliti dan merugikan orang lain. Muslim sejati adalah orang yang menahan tangan dan lidahnya dari menyakiti muslim lainnya.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *