Sleepover

Sleepover
credit: fitforafeast.com

credit: fitforafeast.com

Setahun tinggal di kampungnya Julia Gillard ini ternyata masih menyisakan banyak culture shock di beberapa hal. Hal-hal kecil yang bikin saya harus berputar otak dan bingung kemana mencari tahu, ujung-ujungnya pake metode standar. Yaitu tebelin muka.

Terus terang, saya masih sering minder kalau gaul dengan orang-orang bule ini. Apalagi kalau belum kenal banget. Mereka tuh rata-rata seneng ngobrol, dan saya sering kehabisan kata-kata, bingung harus bereaksi terhadap situasi tertentu.

Contohnya gini, seorang ibunya temen anak saya bilang, “Your daughter was really good in her writing and in creating small parts that other students couldn’t.

Saya cuma komentar, “Really? Oh, thank you.” Trus senyum. Well, the conversation ended at that point. Garing banget ya, gue.

Lalu, kejadian serupa saya alami. Giliran saya yang kepingin bilang ke tetangga tentang anaknya, kalau anaknya itu serius banget saat mengerjakan sesuatu, nggak banyak omong kayak anak-anak yang lain. Lalu si ibu jawab, “Thank you for letting me know. It’s kind of hard to say things like that.”

Oh, harus gitu tho kalau komentar setelah orang lain memuji anak kita. Hehehehe.

Nah, ada lagi kebingungan saya. Yaitu ketika mau berkunjung ke rumah seseorang. Kebiasaan orang Indonesia kan, kita bawain oleh-oleh berupa makanan. Nah, saya lakukan demikian. Beberapa kali saya berkunjung ke rumah teman atau tetangga, saya bawa makanan dan minuman. Anehnya, pas pulang, si makanan itu disuruh dibawa lagi. Plus, mereka nggak makan sedikitpun makanan yang kita bawa. Kesannya kita bekel doang buat dimakan sendiri. Kok gitu, ya? Padahal maksud saya kan mau ngasih buat mereka sebagai oleh-oleh.

Jadi, urusan bertetangga ini masih menyimpan banyak tanda tanya buat saya. Bagaimana kebiasaan mereka, apa seneng berbagi masakan, kirim-kiriman oleh-oleh kalau habis bepergian jauh. Kayaknya nggak, ya. Mereka cenderung makan makanan untuk masing-masing, yang dibuat oleh masing-masing. Kecuali kalau mereka mengundang kita, kita wajib makan makanan mereka.

Itu semua terjadi beberapa hari dan minggu yang lalu. Ada satu kejadian yang baru saya alami tadi sore. Saya mengantar anak saya ke rumah temannya, dalam rangka sleepover at friend’s house. Saya kembali bingung, kalau acara nginep-nginepan gini, apa yang harus dibekelin ke anak, ya? Berbekal pengalaman makanan tadi, akhirnya saya siapkan anak saya dalam kondisi kenyang. Alias dia saya suruh makan malem lebih cepet (sekitar jam 5 sore), dan saya bekelin makanan dalam kotak yang cukup banyak. Tujuannya supaya dia bisa berbagi sama temennya sekaligus nggak ngerepotin tuan rumah kalau tiba-tiba kelaparan malem-malem.

Sampai rumah temannya, saya lihat ada teman lainnya yang mau nginap juga. Saya kaget, ternyata anak itu bawa bantal sendiri (mungkin plus selimut juga di dalam tasnya). Ooh, jadi gitu ya. Kalau nginep di rumah teman, harus bawa bantal sendiri. Nggak sekalian aja bawa kasurnya, hehehe. Akhirnya saya harus balik lagi deh ke rumah buat ngambil bantal dan selimut.

Setahu saya, kalau dulu temen saya nginep di rumah, kita tidur aja bareng pake perlengkapan saya. Kadang-kadang temen malah pinjem baju tidur saya. Kalau disini bisa dikeplok kali ya kalau pinjem baju orang lain, hehehehe.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *