Siapakah Pemenangnya?

Siapakah Pemenangnya?

Ultraman mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengalahkan Alien Baltan yang merupakan raksasa penjelmaan Little Baltan yang awalnya seukuran manusia. Yang dengan kekuatannya, ingin menghancurkan seluruh kota.

Ditengah pertempuran yang sengit tampak monster melemparkan serangan demi serangan hingga membuat Ultraman kalah. Lampu biru di perutnya menyala, menandakan kekuatannya yang hampir habis.

Namun tak lama kemudian, Ultraman mengeluarkan jurus pamungkas, jurus Specium Ray. Diserangnya Alien Baltan dengan serangan energi beam bertubi-tubi hingga terkapar. Ultraman berhasil memenangkan pertempurannya.

Disetiap pertarungan, pemenang diambil berdasarkan atas siapa yang berhasil bertahan sampai akhir. Meskipun senjata dan kekuatannya habis terkuras, yang penting dia tetap berdiri tegak, mampu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan berkata “Saya berhasil”.

Kalau Ramadhan ini kita sebut sebagai pertarungan, maka petarungnya adalah kita dan lawannya adalah hawa nafsu. Mulai dari nafsu makan dan minum, nafsu birahi, nafsu amarah dan lain-lain.

Di awal Ramadhan, petarung dan lawannya tampak berperang secara seimbang, bahkan musuh lebih mudah dikalahkan. Orang-orang dengan niat yang kuat akan dengan mudah menaklukkan musuhnya pada fase ini. Rasa lapar bisa ditahan, emosi dengan mudah ditundukkan, masih rajin tilawah minimal 1 juz sehari, sholat berjamaah ke masjid pun tak ada bolong.

Pertengahan Ramadhan, mulai tampak tanda-tanda melemahnya kekuatan. Butuh amunisi yang banyak untuk bisa bertahan. Makan harus lebih banyak, menu harus lebih menarik, aktivitas dikurangi supaya tidak cepat lelah.
Sebagian orang yang puasanya hanya ingin menahan lapar, sudah mulai mengurangi tilawah Al Qur’annya, karena yang penting puasanya tidak batal. Ke masjid pun selang sehari, itu pun harus buru-buru pulang karena takut tertinggal episode sinetron kegemaran.

Bagaimana dengan di sepertiga akhir Ramadhan? Disinilah para calon pemenang akan melewati ujian paling berat. Semangat-semangat yang membara di awal mulai luntur. Mushaf-mushaf sudah kembali ke raknya. Masjid-masjid kosong, karena pengunjungnya pindah ke pusat perbelanjaan dan restoran. Alih-alih mengisi ulang amunisi ruhiyah yang mulai luntur, kegembiraan merayakan Idul Fitri menjadi lebih utama. Apalagi pada masa ini sudah banyak yang mudik ke kampung halaman.
Perpindahan lokasi seringkali berpengaruh terhadap konsistensi ibadah, karena suasana rumah ramai, bincang akrab dengan sanak saudara dan kesibukan menyiapkan hari raya.
Padahal bonus terbesar dari ibadah Ramadhan ada di sini. Ada malam Laylatul Qadr yang menjanjikan pahala ibadah bagaikan beribadah selama 1000 bulan.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amalan itu (tergantung) pada penutupnya.”(HR. Bukhari)

Apabila petarung Ramadhan ini berhasil memenangkan pertarungan hingga akhir, maka dialah yang berhasil menjadi finalis. Sayangnya, hanya sedikit saja petarung yang berhasil memasuki babak final ini. Termasuk saya. Sudah sulit untuk konsisten beribadah karena godaan-godaan yang saya sebutkan di atas.
Ditambah kondisi fisik yang mulai melemah, semangat pun terasa ikut melemah.

Teman, Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Saya membuat catatan ini sebagai pendorong untuk diri sendiri agar kembali bangkit, sebelum terlambat dan menyesal. Saya ingin menjadi pemenangnya. Pemenang yang berhasil menaklukkan segala musuh-musuh berupa nafsu dan godaan dari luar dan dalam.
Karena saya tidak tahu, apakah akan bisa mengulanginya tahun depan.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *