Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua

ppaq

Butiran debu memenuhi ruang udara. Siang hari yang panasnya membara membakar tiap jengkal ruas tubuh yang terpapar di bawahnya. Suara desing peluru tidak pernah berhenti mengistirahatkan pendengaran kami. Suasana semakin mencekam. Raga kami lelah. Jiwa kami hancur.

Sudah dua hari perutku berhenti mencerna makanan. Tak apa. Biar dia beristirahat dari kerja panjangnya. Toh aku masih kuat. Tapi bagaimana dengan adikku? Dia juga belum makan. Dua hari ini kiriman makanan tidak singgah di kamp kami. Padahal sebelumnya tidak pernah absen, meskipun hanya sekali dalam sehari.

Lihat, tubuh adikku sangat lemah. Demamnya tak kunjung turun. Kami juga tidak punya persediaan obat.

“Ummi… ummi.”

Haifa, adikku terus mengigau. Suara lirihnya menyayat telingaku. Dia rindu Ummi. Sebulan sudah kami berdua terdampar di kamp pengungsian Yabana ini.

“Ummi, makan… makan.”

Adikku lapar. Tubuhnya semakin kurus dan pucat. Usianya baru 6 tahun dan masih membutuhkan Ummi untuk selalu berada di dekatnya.

Ya, Allah. Apa dayaku. Aku sudah berkeliling di seluruh kamp ini. Mencari makanan. Barangkali ada remah-remah yang tercecer. Hanya untuk adikku. Tapi semua yang ada disini kondisinya sama. Mereka semua shaum. Tanpa makanan sebagai hidangan sahur maupun berbuka. Hanya ada beberapa galon air minum tersisa yang harus kami bagi bersama dan sebisa mungkin kami hemat sampai tiba kiriman lagi yang entah kapan datangnya.

“Sabar, Sayang. Kakak akan mencarikanmu makanan.”

Kuelus rambut ikalnya yang kusam. Ah, Haifa… hidupmu kini bergantung padaku. Sedangkan akupun masih terlalu kecil untuk bisa menopang kebutuhanmu. Aku belum bisa bekerja demi sesuap makanan bagi tubuhmu. Aku belum bisa mengangkat senjata untuk memerangi Zionis laknatulLah itu. Akupun masih anak-anak. Sama sepertimu. Hanya usiaku yang lebih tua 5 tahun saja darimu.

Mata Haifa membuka sejenak, kemudian kembali menyipit. Tubuhnya terlalu ringkih, bahkan hanya untuk membuka kedua kelopak matanya. Andai aku tahu apa yang harus kulakukan untukmu. Semua orang disini sibuk dengan deritanya masing-masing. Karena kelaparan dan wabah penyakit yang melanda. Meskipun ada satu dua orang yang membantu kita. Tapi kau tetap membutuhkan Ummi. Hanya namanya yang kerap kau panggil dalam tidurmu.

***

Satu Bulan yang Lalu…

Suara bom membahana dan menghembuskan api dan asap tebal. Bangunan SD Al Khansa tempat aku dan adikku menimba ilmu runtuh. Luluh lantak dalam sekejap. Beberapa perabot sekolah terbang tertiup hembusan bom yang meledak tepat di ruang guru. Hanya satu yang aku ingat. Adikku.

“Haifa… Haifa, dimana kau? Haifaaa…..” Suaraku tenggelam dalam kepanikan orang-orang yang berlarian kesana kemari. Semua ingin menyelamatkan diri. Di ujung koridor sekolah adikku sedang berjongkok sambil menangis ketakutan. Tubuhnya menggigil. Trauma itu masih membekas dalam jiwanya. Suara ledakan bom yang harus kami dengar hampir setiap hari selalu membuatnya menggigil seketika.

Kurengkuh tubuh kecilnya. Serta merta Haifa memelukku. Erat sekali.

“Kak Akhtar… aku takut.”

“Iya Sayang. Mari kita pulang. Lebih baik kita berkumpul bersama Ummi di rumah.”

Kami hanya tinggal bertiga. Aku, Haifa dan Ummi. Abi sudah syahid 5 tahun yang lalu. Tentara Zionis itu kerap mencarinya karena Abi adalah seorang pejuang militan Palestina. Hingga akhirnya mereka berhasil menangkap Abi saat bersembunyi di rumah, dan sejak saat itu kami tak pernah lagi berjumpa dengannya. Kakakku Hanan lebih dulu syahid. Kami sedang dalam perjalanan menuju Khan Yunis ketika sebuah peluru menembus keningnya.

Haifa kugendong di punggungku. Tangisnya sudah mulai reda. Meski setengah berlari aku berusaha bernyanyi untuk menghiburnya. Jarak sekolah dan rumahku hanya 500 meter. Namun kali ini terasa panjang karena suasana di sekitar kami begitu penuh dengan kepanikan.

Aku menurunkan Haifa tepat dimuka rumah. Mungkin kini sudah tidak layak disebut rumah. Karena dindingnya telah roboh. Atapnya rata dengan tanah.

Dan dimana Ummi……?

“Ummiiiiii…. Ummiiii…. Ummiiiii.” Kami berteriak memanggil Ummi sambil berkeliling di sisa-sisa puing rumah kami, barangkali Ummi masih ada disana. Meskipun sudah tidak bernyawa. Tapi nihil. Tak ada jawaban maupun tanda-tanda keberadaan Ummi.

Sebuah truk kap terbuka lewat di depan kami. Dua orang tentara membopong tubuh kami naik ke atas bak belakangnya yang sudah dipenuhi beberapa orang. Sebagian kami kenali, karena mereka adalah tetangga kami.

Sejak saat itu, kami bergabung bersama orang-orang di atas truk ini di kamp pengungsian Yabana, kota Gaza.

***

Pagi yang berselimutkan dingin. Aku terjaga. Suara itu masih terdengar sesekali. Bahkan disaat orang-orang masih terlelap. Aku melangkah perlahan. Kuambil tayyamum dan kudirikan shalat Lail. Aku pun rindu Ummi. Kini rindu ini akan aku sampaikan pada Sang Rabb, penggenggam rindu.

“Aku harus mencari Ummi. Aku yakin Ummi masih hidup. Aku masih mendengar suaranya memanggilku.”

Siang terus merangkak. Suasana hening kembali berganti warna. Bising itu semakin marak. Bahkan sebuah ledakan bom sempat terdengar hanya berjarak beberapa meter dari kamp. Zionis itu memang sedang kalap. Pemukiman penduduk kerap menjadi sasaran kebrutalan mereka. Benci mereka pada kami begitu meraja. Hingga mereka tak memilih siapa yang akan menjadi sasaran tembakan atau lemparan bom.

Aku titipkan Haifa pada seorang kerabat.

Amah, bolehkah aku menitipkan Haifa sebentar?”

“Hendak kemanakah kau, Akhtar?”

“Aku mau mencari Ummi. Aku dengar suara rindunya memanggil.”

“Kemana hendak kau cari? Situasi Gaza sedang siaga satu. Tak seorangpun diizinkan berkeliaran. Apalagi kau pergi seorang diri. Bahaya sekali, Akhtar.”

“Tak apa, Amah. Aku berani. Aku tak takut mati. Sebab dengan mati aku kelak akan bertemu Tuhanku.”

“Tapi adikmu masih membutuhkan seorang kakak.”

“Aku percaya Amah dapat menjaganya. Insya Allah aku akan kembali. Bersama Ummi.” Tekadku sudah bulat. Aku akan mencari Ummi. Demi Haifa-ku sayang. “Aku berangkat, Amah. Tolong sertakan aku dengan do’a.”

“Kau terlalu dewasa untuk anak-anak seusiamu, Akhtar. Hati-hati di jalan.”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

***

Angin panas menerpa wajahku. Mendaratkan butiran-butiran debu di pori-porinya. Wajah ini diliputi kekhawatiran. Akankah aku menemukan Ummi-ku kembali? Akankah aku bisa kembali pada adikku lagi? Ah, kematian adalah hal yang sangat akrab dengan kami sekarang. Aku tak perlu takut menghadapinya.

Semakin mantap aku berjalan melintasi jalur tepi pemukiman yang hanya tersisa puing-puingnya. Seluruh penduduknya sudah pindah ke kamp-kamp atau bahkan menemui Rabb-nya. Sempat kulihat kekejian tentara Israel yang menyiksa seorang pemuda hingga akhirnya si pemuda syahid. Gegas aku menjauhi tempat itu. Mencari jalur yang lebih aman. Perlahan aku berjalan sambil terus memutar otak. Kemana harus kucari Ummi-ku? Dimana gerangan dia berada?

Di rumahku rasanya tak mungkin. Karena sudah tak ada tempat untuk berlindung. Menuju kamp pengungsian lainnya rasanya aku tak sanggup. Letaknya cukup jauh dan harus melewati pos penjagaan tentara Israel yang tak punya hati dan siap menembak siapa saja yang ingin mereka tembak.

Satu-satunya tempat yang mungkin adalah Rumah Sakit. Ya, Rumah Sakit el-Shifa masih mungkin aku tuju dengan berjalan kaki. Tak terlalu dekat memang. Tapi disana tidak akan banyak tentara Yahudi beroperasi.

Ternyata hiruk pikuk Rumah Sakit membuatku bingung dan mual. Bau darah dimana-mana, mayat berserakan, brankar berisikan para korban luka berbaris menunggu antrian perawatan. Aku terus berdoa dan berharap semoga Ummi bukanlah salah satu dari mereka.

Tak ada wajah yang kukenal. Hingga sebuah panggilan mengagetkanku…

“Akhtar… Engkaukah itu?”

Aku menengok ke arah datangnya suara. Seseorang yang tidak aku kenal.

“Akhtar. Kemarilah, Nak.” Tangan wanita itu menggamit lenganku menuju ke sebuah tempat yang lebih sepi. “Aku Shafna, teman ibumu. Ibumu pernah memperlihatkan fotomu. Karenanya aku mengenalimu barusan.”

“Amah teman Ummi?”

“Ya.”

“Dimana Ummi?”

“Ummi-mu ada di rumahku. Dia sakit. Dia selalu menyebut nama kalian dalam tidurnya. Akhtar dan Haifa.”

“Aku ingin bertemu Ummi.”

“Mari. Rumahku tak jauh dari sini.”

Aku bahagia. Tak lama lagi akan segera bertemu dengan Ummi. Allah telah mengabulkan doa yang baru saja kupanjatkan. Ternyata Ummi masih hidup, meskipun ternyata sedang sakit. Tapi aku akan merawatnya dengan baik.

Rumah Amah Shafna sudah tidak jelas pula bentuknya. Namun sebagian dinding dan atapnya masih utuh. Ummi sedang berbaring pada sebuah dipan besi tua. Wajahnya pucat, seperti tak ada darah lagi yang mengalir disana. Tampaknya dia sedang tertidur, tapi tak nyenyak.

Segera kurengkuh tubuhnya. Kuciumi pipinya. Ummi-pun terjaga dan membalas ciumanku serta memelukku erat sekali.

“Akhtar, Akhtar… Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar.”

“Ummiiiii…. aku bahagia bisa bertemu Ummi lagi. Aku sangat rindu.”

“Ummi pun sama, Sayang. Dimana Haifa?”

“Selama ini kami tinggal di kamp Yabana. Tadi Haifa aku titipkan pada Amah Zalfa. Dia sedang sakit, Ummi. Badannya panas terus-menerus. Dia belum makan selama 3 hari. Dan selalu menyebut nama Ummi.”

Mendengar uraianku air mata Ummi mengalir tak terbendung. Tangisnya pecah. Aku tahu hati Ummi pasti perih mendengar kabar anak-anaknya tak makan. Tapi aku tetap harus tampak kuat dihadapannya. Agar beban Ummi tak bertambah berat, juga sakitnya.

Saat ini perutku juga sakit. Mungkin inilah puncak dari rasa lapar yang menderaku tiga hari belakangan. Tapi deritaku pasti tak seberapa dibanding derita Ummi dan Haifa. Buktinya aku masih kuat berjalan sejauh ini.

“Akhtar, antarkan Ummi ke tempat kalian. Ummi ingin bertemu Haifa. Ummi rindu Haifa. Ummi ingin selalu bersama kalian.”

“Tapi Hanna, kau masih sakit. Kau pasti tak kuat berjalan sejauh itu menuju kamp Yabana. Patroli Israel pun terus beroperasi di sepanjang jalan. Anakmu bisa selamat sampai disini karena dia masih anak-anak. Para Zionis tak mencurigainya. Tapi tidak denganmu. Sebaiknya kau tidak kemana-mana dulu sampai keadaan lebih aman.” Amah Shafna menjelaskan panjang lebar.

“Tapi, Shafna. Anakku sakit. Dia membutuhkan aku.”

“Baiklah. Aku akan membantumu. Sebentar, aku akan menghubungi kakakku Kareem. Mungkin dia bisa mengantar dan melindungi kalian sampai sana.”

Jazakillah khair, Shafna atas segala pertolonganmu selama ini.”

Wa iyyakiUkhti. Aku adalah saudaramu.”

***

Kini aku dan Ummi sedang dalam perjalanan menuju kamp tempat aku dan adikku tinggal. Ummi masih berbaring di bangku belakang, sementara aku duduk di samping Ami Kareem sebagai penunjuk jalan. Perjalanan kami sangat tidak lancar. Beberapa kali mobil ini dihentikan tentara Israel, diinterogasi dan digeledah. Namun beberapa kali pula kami bebas untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Pada saat perjalanan kami tinggal sepertiganya, sekawanan tentara Zionis dengan jeep terbuka menghadang di hadapan mobil. Seseorang bergerak turun membawa senapan laras panjang di pundaknya. Dia mendekati sisi jendela sopir seraya menodongkan ujung laras senapannya ke pelipis Ami Kareem.

“Buka jendela. Cepat!”

Perlahan jendela dibuka.

“Lebih lebar lagi!”

Jendela dibuka seluruhnya.

“Sebutkan nama, domisili dan pekerjaan!” Lelaki berseragam tentara, dengan jambang lebat dan bentuk rahang lebar, berbicara sangat kasar pada Ami Kareem.

“Kareem Athaillah bin Jafar Shiddiq. Domisili Jabalyah. Pekerjaan guru madrasah.”

“Turun!” perintah tentara itu. Jantungku berdegup sangat cepat. Ingatanku kembali ke saat-saat kakakku Hanan ditembak oleh Zionis kejam ini. Kulirik Ummi yang masih terbaring lemah di jok belakang. Matanya menyiratkan ketakutan yang sama denganku. Sebenarnya ingin sekali aku pindah ke belakang. Ke samping Ummi. Tapi aku tak kuasa bergerak. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam.

Di luar kudengar Zionis itu membentak-bentak Ami Kareem. Hingga terdengar sebuah tembakan yang sangat nyaring dan membuatku kaget buka alang kepalang. Aku tak sanggup mengangkat kepala. Rasa takut menguasai diriku begitu dalam. Lututku gemetar. Tanganku dingin. Aku segera teringat Allah. Allah Yang Maha Melindungi. Aku minta pertolonganNya.

Hening sesaat. Derap langkah sepatu bersuara berat terdengar menghampiri lagi. Aku masih melipat kepalaku ke bawah. Tiba-tiba suara nyaring itu terdengar kembali.

“Hai, wanita jalang! Turun kamu!” Laras senapan itu sekarang tertuju pada Ummi. Ummi yang lemah karena sakit dan shock, tak dapat menjawab sepatah katapun. “Ayo turun! Cepaaat! Atau kau kutembak ditempat!”

Darahku seketika bergejolak. Ada suatu dorongan keberanian muncul. Ketidakrelaan akan tindakan tidak sopan Israel laknatulLah kepada ibuku, membuat urat-urat tubuhku mengejang. Kepalaku tegak. Dan dengan lantang aku berteriak.

“Tidaak! Jangan kau ganggu ibuku! Dia sedang sakit. Kalau kau berani tembak saja aku. Tapi jangan lukai ibuku.”

“Hai, Setan Cilik! Sungguh berani benar ucapanmu, hah! Kita lihat seberapa berani kau membela ibumu yang sudah sejengkal lagi mati itu!”

“Demi Allah, aku rela syahid demi ibuku. Aku tidak takut padamu, wahai Manusia Jahanam!”

“Setan jalanan. Sudah bosan hidup kau rupanya!”

Keberanianku sampai pada puncaknya. Harum syurga terasa memenuhi ruang kalbuku. Aku, Akhtar Syahdan el-Kayyish. Rela mati demi ibuku. Rela mati demi negaraku. Rela mati demi agamaku. Tapi ingat wahai musuh Allah, jiwaku tak akan pernah mati. Jiwaku akan terus mengembara menemani jiwa-jiwa pejuang Islam yang masih hidup di dunia. Jiwaku akan selalu dimiliki oleh mereka yang istiqomah di jalan Allah.

Kudengar suara lirih Ummi memanggilku.

“Akhtar, anakku sayang. Sudahlah, jangan kau lanjutkan ucapanmu. Biar Ummi yang menjadi perisaimu. Teruslah berjuang untuk negeri ini. Hingga kekejaman kaum musyrikin lenyap di muka bumi.”

Si tentara Yahudi itu berteriak kembali. Sepertinya dia sungguh-sungguh menantangku.

“Hai, wanita pelacur! Turun! Atau kau akan melihat isi kepala anakmu terburai disini!”

“Demi Allah! Aku bilang sekali lagi. Jangan ganggu ibuku!”

“Baiklah. Aku tak akan membunuh ibumu. Tapi kaulah penggantinya!”

Laras senapan itu kini berpindah ke arahku. Sungguh aku tak gentar. Sebaliknya kurasakan ketenangan jiwa yang luar biasa. Sekelilingku seakan dipenuhi warna-warni bunga, beserta aromanya yang segar menggoda.

“Aku tidak takut ma…….”

Belum selesai kuucapkan kalimatku, tiba-tiba kurasakan sensasi panas luar biasa di kepalaku. Berlanjut dengan leleran cairan hangat melewati pipiku. Kuraba. Warnanya merah. Darahkah itu? Aku tak sempat menemukan jawaban. Sayup, kudengar jeritan tertahan Ummi dari tempatnya berbaring. Sempat aku tak sadar akan sekelilingku, sampai akhirnya kurasakan tubuhku begitu ringan. Teramat ringan. Dan kulihat ada dua orang manusia menyambutku dengan tangan terbuka. Seorang laki-laki dewasa, yang kukenali sebagai Abi. Dan seorang gadis kecil yang sangat dekat denganku. Haifa.

 

End-notes:

1.  Amah                  :  Panggilan kepada bibi.

2.  Jazakillah khair    :  Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan (digunakan untuk   perempuan)

3.  Ukhti                   :  Panggilan kepada saudara perempuan.

4.  Waiyyaki             :  Dan untukmu juga (digunakan untuk perempuan).

5.  Ami                     : Panggilan kepada paman.

*diterbitkan dalam buku Pengantin-pengantin Al-Quds (ProU Media).

Share:

7 Comments

  1. ayanapunya
    April 19, 2013 / 10:04 am

    kerennn! kapan ya saya bisa nulis cerita begini?

    • anneadzkia
      April 19, 2013 / 10:07 am

      Jiaaah, antuung. Jangan begetohh. Aku lebih pemula nulisnya drpada dirimuh yg sudah lama ngider di dunia menulis…

      • ayanapunya
        April 20, 2013 / 1:15 am

        jiaaah… sama aja kali lamanya, teh anne 😀

  2. iwan
    April 20, 2013 / 12:48 am

    mantap. btw. Buku Pengantin-Pengantin Al-Quds ini hasil karya Mbak ya? syukran dah berbagi

    • anneadzkia
      April 20, 2013 / 2:28 am

      Makasih, mas Iwan. Pengantin-pengantin Al-Quds itu kumpulan cerpen kompilasi bbrp penulis. Saya cuma nyempil sedikit diantara penulis2 keren yg mengisi buku itu 🙂

      • iwan
        April 20, 2013 / 3:32 am

        O gitu. anyway, makasih aja dah share. oya, aku sempat tahu info lomba penulisan novel dari blog ini. Emang Mbak sering ikut lomba?

        • anneadzkia
          April 20, 2013 / 4:03 am

          Iya, saya mmg suka posting bbrp lomba novel yg pengen saya ikutin, biar nggak lupa. Saya msh belajar nulis, blm bisa bikin novel 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.