Peneliti vs Tukang Jahit

peneliti

Menyusun skripsi di fakultas saya bukanlah merupakan hal yang begitu bersejarah dan penting sehingga membuat kami mengerjakannya dengan serius sepenuh jiwa raga. Karena setelah skripsi dan wisuda sarjana, kami tidak serta merta lulus kuliah, melainkan masih harus menjalankan program profesi/ko-ass sebelum resmi dilantik sebagai dokter gigi. Namun karena skripsi merupakan syarat kelulusan untuk meraih gelar SKG (Sarjana Kedokteran Gigi) yang menjadi pintu untuk memasuki gerbang ko-assistensi klinik, mau nggak mau kami kerjakan.

Menulis skripsi, lumayan bikin saya bangga juga. Karena kalau ada yang nanya, “Kuliahnya udah semester berapa?”.

Dengan bangganya saya akan menjawab,”Lagi nyusun skripsi.”

Kesannya sebentar lagi lulus gitu. Ya memang, lulus sarjana. Tapi belum lulus jadi dokter gigi, sesuai impian.

Waktu mau mulai menulis skripsi, saya bingung. Mulai dari mana ya? Tema belum dapat. Sementara teman-teman sudah melesat jauh ninggalin saya yang masih terbengong-bengong dengan pilihan, cabang apa yang mau saya pilih. Dalam Ilmu Kedokteran Gigi ada beberapa cabang ilmu yang dipelajari. Yaitu Ortodonsia, Pedodonsia, Prostodonsia, Oral Medicine, Oral Surgery, Periodonsia, Operative Dentististry, Public Health, Biomaterial for Dentistry, Oral Biology, dan lain-lain. Nggak usah dijelasin ya, definisi ilmu-ilmu di atas. Bikin pusing :).

Akhirnya saya sering mengunjungi perpustakaan. Melototin skripsi-skripsi tua, buat cari inspirasi. Barangkali si Om Inspirasi tiba-tiba muncul di antara rak-rak buku dan ngasih saya judul yang mantap. Tapi ternyata susah banget. Sempet iseng-iseng saya ajukan sebuah judul ke bagian Ortodonsia (ilmu yang mempelajari tentang perkembangan gigi dan rahang, beserta kelainan dan penatalaksanaan (penanganannya); yang secara umum dikenal dengan perawatan untuk meratakan gigi dengan kawat/behel). Tapi ditolak mentah-mentah. Putus asa? Oww, tentu tidak. Saya orangnya berani malu dan nekat mengajukan judul lain di bagian yang sama, dan akhirnya….. ditolak lagi. Lebih mentah dari sebelumnya.

Saya ngambek. Akhirnya pindah bagian aja. Berkat bantuan seorang senior memperlihatkan sebuah jurnal ilmiah, Om Inspirasi mampir ke otak saya. Menumbuhkan sebuah ilham untuk kemudian jadilah sebuah judul cantik, menggemaskan dan ilmiah tentu saja. Kali ini bidang ilmu yang akan saya masuki adalah bagian Bedah Mulut.

Singkat cerita, saya sedang berada di depan sebuah ruang sidang di Rumah Sakit Umum Pendidikan di kota tempat saya menimba ilmu. Hari itu adalah hari Jum’at. Dan di ruang sidang tersebut setiap hari Jum’at berlangsung pertemuan rutin para dokter gigi yang terdiri dari Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut/Konsulen/Dosen Senior Ahli Bedah Mulut dan para Residen/Dokter Gigi Umum yang sedang mengambil Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut (PPDGS BM) di Universitas kami. Berarti peserta pertemuan dalam ruang tersebut bisa dibilang kalangan senior semua. Bahkan para mahasiswa ko-ass (sarjana yang sedang menjalankan program klinik untuk meraih gelar Dokter Gigi) pun  tidak ikut serta di dalamnya. Dan kami para mahasiswa calon sarjana S1 harus ikut dalam pertemuan itu untuk mempresentasikan usulan judul skripsi, usulan penelitian, hasil penelitian dan sidang skripsi kami.

Walaupun dengan perasaan dag dig dug tak karuan, akhirnya judul yang saya ajukan diterima. Dengan dosen pembimbing yang dipilihkan adalah drg. Alvin, Sp.BM (nama samaran), yang terkenal baik hati dan tidak sombong, jagoan lagipula pintar (eh, itu mah lagu Catatan Si Boy-nya Ikang Fawzi yang jadul pisan). Alhamdulillah. Sementara teman saya ada yang kebagian dosen pembimbing drg. Rusmadi, Sp.BM yang terkenal killer, atau drg. Elka, Sp.BM yang super sibuk dan susah ditemui.

Bimbingan berlanjut, dan lancar. Meskipun ada aja kerikil-kerikilnya. Apalagi kalau mulai masuk poli Bedah Mulut dan mulai celingukan nyari drg. Alvin buat bimbingan, suka ada residen yang jahil ngerjain mahasiswa lugu dan polos kayak saya ini.

Tibalah masa penelitian. Yang artinya saya harus bergabung ke poli Bedah Mulut RSUP XYZ tempat pendidikan ko-ass dan residen Bedah Mulut (BM) berada. Awalnya agak-agak serem masuk ke poli BM. Karena kasus-kasus pasien yang datang kesana aneh-aneh, yang saya kira hanya ada dalam textbook. Ternyata semua ada di tempat itu. Sumbing pada bibir dan langit-langit dengan berbagai macam tipe, tumor dan kanker rongga mulut dari yang kecil sampai yang merusak separuh wajah pasien, dari yang cuma kelihatan kalau si pasien buka mulut sampai yang sudah tercium baunya dalam radius 5 meter meskipun sosok si pasien belum kelihatan.

Selama tiga bulan saya nongkrong di poli tersebut, nunggu kasus yang masuk dalam daftar penelitian saya. Ngapain aja tuh, kok lama amat? Penelitian saya adalah menilai adanya komplikasi pasca odontektomi (pencabutan gigi bungsu/wisdom tooth yang dilakukan melalui teknik bedah minor), yang berupa trismus (gangguan pembukaan mulut) dan swelling (pembengkakan).

Caranya adalah dengan mengukur pipi pasien pada titik yang telah ditentukan dengan menggunakan sebuah meteran (yang saya pakai saat itu adalah meteran tukang jahit) untuk mengetahui adanya swelling, dan dengan jangka sorong untuk mengukur besar pembukaan mulut dan kemudian menilai adanya trismus.

Jadilah selama 3 bulan itu saya mengalungkan meteran dan mengantungi jangka sorong terus menerus. Lebih mirip tukang jahit ketimbang mahasiswa kedokteran. Dan itu bukan hanya dilakukan di poli, melainkan di rumah-rumah pasien yang jadi bahan penelitian saya.

Kenapa demikian? Karena dalam penilitian saya, pasien tersebut harus diukur pada hari ke-1, ke-3 dan ke-5 setelah mereka dilakukan bedah minor. Sementara untuk minta mereka datang lagi kontrol ke Rumah Sakit susahnya minta ampun. Musti dirayu dulu pake bunga mawar, bunga matahari sampai bunga tujuh rupa. Itupun belum tentu mau.

Jadi satu-satunya cara demi sebuah kertas bertanda tangan Rektor disertai gelar Sarjana tertulis diatasnya adalah saya yang nyamperin mereka. Dan Alhamdulillah mereka setuju, daripada disuruh bolak balik ke Rumah Sakit, yang selain berat di ongkos juga bikin mereka eneg karena lingkungan Rumah Sakit yang nggak se-nyaman mall. Dan… taraaaaa…. saya tampak sempurna bagai penjahit keliling yang cari order jahitan demi sebuah tiket bus buat mudik pulang kampung.

Bekal saya saat itu cuman dua. Tebel kantong buat ongkos mulai dari naik buskota, angkot, ojeg sampai becak, dan tebel muka buat ngetuk-ngetuk pintu rumah pasien dan bilang….”Permisi, saya mau ukur pipinya lagi.”

Sejak saat itu tiap saya mulai nongol di poli BM Rumah Sakit, para residen jail mulai godain saya dengan berbagai pertanyaan, “Baju pesenan saya udah dijahit belum?” atau “Tolong kecilin celana gue, sok diukur dulu sini” dan lain-lain. Karena saya pendiem (ngakunya sih, padahal…….), mereka jadi tambah kalap ngegodain tiap hari. Lama-lama saya jadi tambah mirip tukang jahit beneran, dan sempet kepikiran buka bisnis aja, gara-gara makin akrab sama si meteran biru bulukan yang saya dapet dari tetangga sebelah yang buka jasa jahitan.

Hari demi hari saya lalui bagai sebuah penderitaan tanpa akhir (hiperbola dikit). Sampai akhirnya sampel penelitian telah memenuhi jumlah yang diharapkan. Tinggalah masa-masa pengolahan data yang bikin pusying tujuh ratus keliling. Saya yang terkenal sebagai mahasiswa lambat dalam berhitung, sampai-sampai untuk ngitung kembalian setelah jajan di warung pun harus pake kalkulator terus, tentu saja akan mengalami kesulitan luar biasa dalam urusan statistika. Walaupun saya mendapat pembimbing khusus dosen dari jurusan statistika, tetep aja nggak menyelesaikan masalah.

Tau nggak bagaimana akhirnya saya bisa menyelesaikan bagian ini? Hehehe, saya juga nggak ngerti bagaimana akhirnya saya bisa keluar dari semua urusan angka njelimet ini. Mungkin setelah itu saya langsung amnesia permanen sampe sekarang, sampe nggak inget waktu proses itu berjalan.

Masa-masa bimbingan yang melelahkan pun harus saya lalui. Meskipun dapet dosen yang luar biasa baik dan yang pasti…… ganteng (hehehe, gatel), tetep aja banyak masalah saat bimbingan. Menghadapi dosen yang cukup sibuk, sampe sempet nongkrong seharian di depan kamar operasi nunggu beliau selesai melakukan tindakan operasi, yang ujung-ujungnya tetep nggak ketemu sama itu dosen karena saya nunggu di tempat yang salah. Saat itu saya nunggu di ruang tunggu tempat pasien masuk sebelum di operasi, sementara sang dosen keluar lewat pintu lain dekat Recovery Room tempat pasien yang selesai di operasi, tentu saja.

Begadang hampir tiap malam, ditemani segelas coffeemix, jadi kebiasaan baru saya. Walopun kalau bete-nya kumat, segala diktat tebal dan kertas print out literatur yang saya print dari warnet akhirnya dicuekin. Dan saya malah pindah ke komik Detektif Conan atau malah genjrang-genjreng nggak jelas dengan gitar Yamaha klasik kesayangan sambil nyanyiin lagu ‘Tik Tik Bunyi Hujan’.

Kelelahan dan kejenuhan ngerjain skripsi cukup terhibur setelah denger kata-kata seorang senior yang bilang, ”Sabar aja, dek. Skripsi mah nggak ada apa-apanya dibanding penderitaan kalo udah masuk ko-ass nanti.” Terhibur sejenak untuk kemudian malah bikin saya tambah males nyeleseinnya. Soalnya kalo cepet-cepet selesai, berarti saya makin cepet masuk ko-ass yang katanya penuh penderitaan dan membutuhkan pengorbanan keringat, darah dan airmata itu.

Namun satu hal yang membuat saya berpikir ulang untuk malas-malasan dalam belajar dan berjuang adalah ketika melihat kedua orang tua saya.

Melihat Papa yang bekerja dari pagi sampai sore, mencari nafkah untuk membiayai kuliah saya yang sangat tidak sedikit itu dan kebutuhan hidup saya yang berbeda kota dengan mereka. Melihat Mama yang tak henti berdoa dalam sholat fardhu-nya, shalat tahajjud-nya, bahkan senantiasa shaum sunnah, agar do’a-do’anya lebih dikabulkan Allah dalam kondisi shaum.

Semua itu telah menanamkan suatu tekad kuat dalam batin saya, bahwa saya harus segera lulus. Minimal sebagai seorang Sarjana. Dan selanjutnya kembali berjuang dalam kawah Candradimuka bernama ko-ass. Untuk mempersembahkan gelar dokter gigi untuk mereka. Walau secuilpun tidak akan membayar jerih payah dan do’a tulus mereka untuk saya. Paling tidak bisa membuat mereka tersenyum bangga melihat puteri pertamanya ini selesai kuliah. Untuk kemudian membaktikan ilmu yang telah  saya peroleh ini kepada masyarakat. Bukan semata untuk mencari seonggok materi. Tapi untuk meraih kemuliaan dunia dan akhirat.

Share:

4 Comments

  1. February 24, 2016 / 1:38 pm

    Mbak Anneeee…. Baru di tulisan ini menemukan dirimu pake bahasa yang (agak) lebhey yang bikin semakin enak bacanya. Bihihihik. Ada potonya gak mbak pas jadi tukang jahit eh jadi tukang ukur pipi. Hehehe.
    Baguuuus tulisannyaaa.. Sukak..

    • Anne Adzkia
      February 24, 2016 / 1:41 pm

      Ini tulisan lamaku. Kayaknya nulis ini tahun 2010 deh. Hahaha

  2. nanny
    January 12, 2018 / 8:26 am

    Heee… Salut mbak… (eh… Mungkin saya lebih tua di umur, tp saya bnyak cri n blajr dr tulisan2 njenengan ttg HS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *