Bersambung dari postingan sebelumnya tentang #5+1, saya kembali menuliskan tentang apakah yang dimaksud indera keenamnya Kang Tasaro GK. Ini hasil diskusi di kelas menulis online beliau.   Unsur keenam, atau kalau boleh disebut sebagai indera keenam, adalah KONEKSITAS Sederhananya begini. Kalau kita perhatikan bagaimana penulis-penulis terkenal (yang karyanya bagus, pen.) membuat naskah mereka, yang sebenarnya sederhana tapi terasa kereeeen banget. Kadang-kadang pembaca bingung, apanya sih yang bikin bagus. Nah, selain berhubungan dengan lima indera ‘dasar’, koneksitas ini merupakan gabungan kelimanya yang dibuat sedemikian rupa berdasarkan pengetahuan atau wawasan penulis. Dari sini bisa tampak seberapa banyak buku yang dibaca oleh penulis atau film yang ditonton, sehingga wawasannya begitu luas. Contoh, ketika kita ingin menceritakan kisah remaja sekarang, yang karakteristiknya seputar jago basket, bintang sekolah, idola lawan jenis (saya mengganti istilah pacaran), lalu saingan dengan anak yang punya yayasan. Kalau penulis punya “koneksitas” bagus, cerita se-klise ini akan jadi menarik. Caranya dengan membuat cerita dengan memasukkan data-data yang tidak biasa ke dalam alur cerita. Sehingga konflik antara si jago basket dengan anak ketua yayasan jadi lebih menarik.

By. TASARO GK (Resume kelas menulis online #5+1 di Facebook) Feature merupakan sebuah istilah Jurnalistik. Meskipun demikian, istilah ini cukup lekat dengan karya fiksi bahkan sangat dibutuhkan. Tanpanya, sebuah karya fiksi akan terasa hambar dan tidak enak dibaca. Apa sih Feature itu? Dalam bahasa jurnalistik, FEATURE adalah tulisan  hasil reportase (peliputan) mengenai suatu objek atau peristiwa yang  bersifat memberikan informasi, mendidik, menghibur, meyakinkan serta  menggugah simpati atau empati pembaca (LeSPI, 1999-2000). Saat ini, feature merupakan senjata pamungkas segala jenis media massa untuk merangkul pembaca, terutama ketika pergerakan dunia  pemberitaan sudah sangat gencar. Siaran berita langsung (live report) yang  dulunya menjadi raja tergeser oleh feature yang mengakomodasi kebutuhan  media massa harian, majalah, tabloid, berita TV dll.

Mulai sekarang, malam Minggu adalah malam spesial. Karena, tiap jam 8 malam (wib), yang artinya jam 11 malam waktu Queensland, Mas Tasaro GK membuka kelas menulis gratis di facebook. Wuih, senengnya bukan main. Dan setelah saya mengikuti rangkaian kelas menulis yang sudah sampai di minggu ke-3), saya menemukan sebuah ilmu baru yang belum pernah saya dapatkan di buku atau pelatihan menulis lain. Subhanallah, ternyata ilmu menulis ini sangat luas, ya. Berikut saya rangkumkan beberapa point yang dibahas pada kelas menulis yang pertama. Kalau ada kesempatan, insyaAllah akan saya lanjutkan merangkum kelas menulis Mas Tasaro berikutnya (atas izin beliau, tentunya). Bismillahirrahmaanirrahiim…   Tasaro GK: Sejauh mana jurnalistik bisa membantu kita menulis fiksi (terutama novel) dengan baik? Salah satu jenis produk jurnalistik yang legendaris disebut  FEATURE. Feature adalah senjata pamungkas segala jenis media massa saat  ini untuk merangkul pembaca, utamanya ketika pergerakan dunia  pemberitaan sudah sangat gencar. Berita langsung/stright news yang  dulunya menjadi raja tergeser oleh feature yang mengakomodasi kebutuhan  media massa harian, majalah, tabloid, berita TV, dll.

Publisher Searching for Author Punya Gagasan Unik dan Impian Menjadi Penulis Terkenal? Wujudkan mimpi itu! Siapa tahu Anda dapat menginspirasi orang lain. Tulis dan kirimkan naskah Anda ke Redaksi Grasindo. Kami menantang Anda menghasilkan naskah yang original, out of the box, outstanding untuk tema-tema: Fiksi: remaja, komedi, umum Non Fiksi: pendidikan, buku soal, buku pengayaan (education), buku anak/aktivitas (children), pengalaman perjalanan (traveling), hobi yang mencerahkan (hobby), motivasi (motivation), panduan ringkas (how to), gaya hidup (lifestyle), atau pengetahuan umum (general)

Terus terang sebelum membaca buku ini, saya sempat berniat membuat sebuah tulisan dengan ide yang mirip. Nggak persis sama isinya, tapi judulnya miriiiiip banget. Ya, tapi baru sebatas ide di kepala. Belum sempat saya realisasikan dalam tulisan satu paragraf pun. Judulnya keduluan, dooong? 😀 Ya, nggak lah. Setelah saya baca isinya, ternyata jauh beda dengan ide saya. Bedanya lagi, Deasylawati udah menuliskannya dalam bentuk buku, saya belum sama sekali. Heuheu. Oke, langsung deh cerita tentang isi buku ini. Dari awal, saya sudah tahu genre buku ini komedi teenlit. Dan benar, tokohnya adalah dua orang remaja cowok pelajar SMA. Kolaborasi kedua tokoh ini dikemas apik dan menarik. Perbedaan kedua tampak jelas, nggak bikin pembaca bingung, mana si Rama mana si Julian.