Terus terang sebelum membaca buku ini, saya sempat berniat membuat sebuah tulisan dengan ide yang mirip. Nggak persis sama isinya, tapi judulnya miriiiiip banget. Ya, tapi baru sebatas ide di kepala. Belum sempat saya realisasikan dalam tulisan satu paragraf pun. Judulnya keduluan, dooong? 😀 Ya, nggak lah. Setelah saya baca isinya, ternyata jauh beda dengan ide saya. Bedanya lagi, Deasylawati udah menuliskannya dalam bentuk buku, saya belum sama sekali. Heuheu. Oke, langsung deh cerita tentang isi buku ini. Dari awal, saya sudah tahu genre buku ini komedi teenlit. Dan benar, tokohnya adalah dua orang remaja cowok pelajar SMA. Kolaborasi kedua tokoh ini dikemas apik dan menarik. Perbedaan kedua tampak jelas, nggak bikin pembaca bingung, mana si Rama mana si Julian.

   Buat yang pernah ibadah haji, pasti tahu rasanya duduk di pesawat selama 9-10 jam. Pegelnya bukan main. Nah, saya kan belum pernah ibadah haji. Jadi praktis, perjalanan Jakarta – Sydney selama 7 jam itu melelahkan dan membosankan.    Meskipun di pesawat tersedia multimedia, tetep aja kaki kayaknya pengen loncat-loncat. Bokong tipis karena digencet terus. Apalagi anak-anak, jadinya ngomel terus. Untungnya, mereka bawaannya ngantuk kalo di perjalanan, jadi saya suruh aja tidur terus *nggak pake dibekep bantal atau suntik bius lho*.    Setelah 7 jam di pesawat pertama, kami harus lanjut penerbangan berikutnya yaitu Sydney – Brisbane selama kurang lebih 1,5 jam. Dan yang terakhir Brisbane – Emerald selama 1,5 jam. Eneg banget deh. Berangkat dari Jakarta lepas isya, sampe tujuan ba’da dzuhur besok paginya.   wajah-wajah lelah di perjalanan    Soal makanan, di pesawat pertama dari Jakarta nggak masalah. Masih tersedia menu nasi kuning dan lauk cita rasa tanah air. Tapi begitu di pesawat domestik, makanannya…eeewwww. Nggak bisa dibilang makanan, kata saya mah.    Kita kan terbiasa makan nasi, kentang boleh lah. Ini cuman dikasih biskuit, cereal dalam bentuk single pack kecil yang dipadatkan (apa ya namanya? lupa euy) dan mini burger (isi ham pula). Wadoooowww….mati Belanda.      Badan lemes, karena capek. Perut laper, tapi nggak ada makanan yang bisa dibilang makanan. Hampir bikin saya pengen pulang kampung. Soalnya kesan pertama nggak dapat sambutan enak. Langsung deh terbayang indomie telor pake sawi dan bakso, trus ditambah sambel ABC. Nggak… View Post

Berikut adalah beberapa quotes yang saya suka dari film The Vow. Diambil dari sini. I vow to live within the warmth of your heart. -Paige I hope one day I can love the way you love me. -Paige   Coming home to a life I don’t know, that’s a lot to take in. -Paige I vow to help you love life, to always hold you with tenderness and to have the patience that love demands, to speak when words are needed and to share the silence when they are not and to live within the warmth of your heart and always call it home. -Paige

The vow adalah sebuah judul film Holywood yang dibintangi oleh Rachel McAdams (memerankan Paige) dan Channing Tatum (memerankan Leo). Film bergenre drama romantis ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Layak ditonton, deh. Berawal ketika Paige dan Leo usai menonton film di bioskop, mereka berdua mengendarai mobil untuk pulang ke rumah. Di pemberhentian lampu merah, Paige melepaskan seatbelt-nya untuk mencium Leo, suaminya. Dan disanalah sebuah kecelakaan terjadi. Singkat cerita, keduanya dibawa ke Rumah Sakit. Kondisi Leo tidak separah Paige, dimana Paige sempat koma. Dan ketika terbangun dari koma, dia mendapati dirinya tak mengenali wajah Leo.