Organised Mom, Anugerah atau Bencana?

Organised Mom, Anugerah atau Bencana?

Kalau denger kata organised mom atau emak-emak yang serba teratur, kayaknya too good to be true. Emang bener. Apalagi kalau punya bayi atau balita, dan bukan cuma satu anak pula. Jangankan rapi-rapi rumah, bisa mandi aja udah keajaiban. Hehehe.

Pengalaman saya nih, saat kuliah, saya memang clean-freak and teratur banget. Untungnya, dulu saya belum kenal dengan istilah OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Yaitu sebuah masalah kejiwaan yang membuat seseorang terobsesi dengan segala sesuatu yang tidak masuk akal. Kalau sudah kenal, kayaknya saya akan dikasih label penderita OCD deh.

Menurut artikel yang saya baca di sebuah website, Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah sebuah kondisi psikologis yang ditandai dengan perilaku pengulangan yang disebabkan oleh ketakutan atau pikiran yang tidak masuk akal. Seseorang yang didiagnosis menderita OCD mungkin tidak menyadari kalau obsesinya tidak masuk akal. Namun, ia akan merasa harus melakukan tindakan tertentu untuk meredakan stres akibat kondisi tertentu.

Kondisi tersebut seringkali membawa rasa takut, dan meskipun ia telah berusaha untuk meredakan rasa takutnya, rasa takut itu semakin bertambah, sehingga menghasilkan sebuah tindakan yang dilakukan berulang-ulang (sumber: www.docdoc.com).

Salah satu gejala OCD misalnya keteraturan atau ketakutan akan sesuatu yang kotor.

Naah, ini pernah tuh menghinggapi saya. Meski kalo dibilang sampe mengidap OCD mah yaa…amit-amit. Nggak gitu-gitu amat, karena kalo OCD beneran butuh terapi dari ahli kejiwaan. Tapi kalau temen-teman baca tulisan suami saya yang ini “Tentang Aku, Kau dan Kebersihan”, bisa nebak seperti apa saya di masa itu.

Kini, saya sudah sem…eh sudah mulai cuek dengan urusan kotor-kotor. Masih clean freak , tapi bisa laah dibikin santai. Buktinya rumah saya sekarang cukup berantakan. Tapi, dalam keseharian, saya masih mempertahankan kebiasaan lama, yaitu being organised.

Keuntungan dan Kekurangan Menjadi Organised Mom

Dalam aktivitas saya sebagai orangtua homeschooler, yang harus mengikuti jadwal anak namun juga harus punya waktu untuk membangun jati diri eeh maksudnya membangun kebiasaan baik buat diri sendiri, saya butuh organiser.

jurnal-homeschooling

jurnal kegiatan anak-anak

Meski jatuh benjol (iya, habis jatuh bukannya bangun melainkan nyungsep), saya berusaha mengatur waktu yang cuma 24 jam ini agar cukup untuk semua. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah Manajemen Waktu (pernah saya tulis, klik deh linknya). Untuk melakukan pengaturan waktu, saya membutuhkan time keeper.

Satu-satunya time keeper yang saya andalkan hingga saat ini adalah AGENDA/ORGANISER. Saya pernah menggunakan alarm, tapi sepertinya kurang efektif. Saya juga pernah menggunakan to do list atau agenda yang ada di smartphone, tapi juga nggak membantu. Entah kenapa, nggak asyik aja meskipun memang dari segi kepraktisan, ini praktis banget.

Keuntungan menjadi organised mom, menurut saya adalah:

  • Kita punya target harian. Jadi tidak ada tuh yang namanya bingung hari ini mau ngapain aja, karena agenda kita dalam sehari sudah disusun sebelumnya.

Dalam menyusun target, saya biasanya punya long term target (resolusi tahunan) dan short term target (target mingguan dan harian). Ini saya tulis secara rinci di agenda dalam bentuk daily checklist. Untuk resolusi kami sekeluarga, saya tulis di Evaluasi Homeschooling dan Resolusi 2017.

daily checklist

daily checklist, daftar target harian pribadi. anak-anak punya daftarnya sendiri-sendiri

Bukan hanya kerjaan, tapi ibadah harian juga jadi lebih terukur. Kalau belum konsisten kelihatan, kalau sudah apalagi. Seneng lho kalau ternyata kita bisa memberi tanda “checked” pada target harian kita.

  • Mencatat hal-hal penting jadi nggak kelupaan.

Yang suka kelupaan itu adalah urusan bayar-membayar bills. Apalagi karena suami saya gajiannya di tengah bulan, sementara bayar-membayar ini dilakukan di awal bulan. Kadang kelupaan atau duitnya keburu habis, wkwkwk.

Nah, kalau ditulis kan nggak lupa ya. Dan agenda itu memang harus sering-sering dilihat. Jangan ditulis trus dilupakan. Nggak ngaruh dong.

  • Melanjutkan pekerjaan yang tertunda sebelumnya.

Sekarang saya mulai mencoba membuat bullet journaling, yaitu menulis daftar target seminggu atau lebih, yang ingin saya kerjakan. Bisa jadi daftarnya memang banyak. Tapi saya tulis semua supaya bisa jadi gambaran saya, yang mana dulu yang mau saya kerjakan.

Lalu dari daftar itu, saya beri tanda mana yang sudah dan mana yang tertunda. Dari tertunda ini, saya catat ulang di agenda esok harinya. Begitu terus. Ini membuat saya aware terhadap tanggung jawab saya yang ternyata banyaaak banget.

bullet journal

salah satu contoh bullet journal

Tanggung jawab kita lebih banyak dari waktu yang tersedia, kata Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna Rahimanullah, ternyata memang benar.

  • Kegiatan lebih rapi dan teratur

Dalam tulisan saya sebelumnya tentang Manajemen Dapur, ini membuktikan kalau dengan being organised, banyak hal bisa kita lakukan lebih teratur dan terencana.

Nggak hanya dapur, urusan manajemen keuangan juga secara otomatis lebih rapi dan tercatat. Semua ini akhirnya menjadi kebiasaan jangka panjang.

  • Lebih konsisten mengerjakan pekerjaan-pekerjaan marathon

Ini salah satu penyakit kronis yang lama saya miliki. Saya hanya punya nafas pendek dan nggak mampu bertahan mengerjakan tugas-tugas marathon. Nafasnya nggak cukup panjang. Padahal menjadi homeschol mom, bukan pekerjaan satu dua bulan saja, melainkan super marathon.

Juga pekerjaan yang berhubungan dengan menulis, juga butuh konsistensi. Dengan menuliskannya dalam agenda, saya jadi punya reminder. Yaah, setidaknya nggak lepas banget lah. Macam blogging ini sih, saya memang lagi agak loose, tapi di pekerjaan lain saya sedang berusaha konsisten kok.

 

Nah, bagaimana dengan kekurangannya menjadi organised mom:

  • Jadwal harian jadi kaku

Ini pernah saya alami, karena terpaku pada jadwal saya jadi nggak mau melakukan hal lain. Merepotkan juga jadinya. Solusinya, saya mencoba lebih lentur dan fleksibel. Kalau ada ajakan berkegiatan yang tiba-tiba, tinggal geser jadwal yang ada ke hari lain.

  • Gampang jenuh

Iya sih, kalau kita terus-terusan melakukan hal yang terencana. Naah, solusinya pas weekend jangan bikin jadwal apa-apa. Lakukan kegiatan yang spontan bareng keluarga. Sesekali ignoring the schedule juga boleh kok, asalkan bukan yang penting banget.

  • Boros uang

Ini mah saya aja kaliiii. Karena lagi keranjingan beli pernak-pernik organiser, jadi rajin nongkrongin online shop buat hunting barang-barang lucu. Tapi kan ini bukan esensial ya, lama-lama juga bosan kok. Apalagi saya bukan termasuk orang yang betah belanja online sebenernya.

Setelah dilihat kekurangan dan kelebihannya, menurut saya menjadi organised mom itu banyak keuntungannya kok. Jadi jawaban pertanyaan yang saya tuliskan di judul, apakah Menjadi organised mom itu Anugerah atau Bencana? Jawaban saya adalah ANUGERAH. Karena manfaatnya banyak.

Oya, satu yang terlewat. Ternyata dalam proses mengatur dan menulis agenda ini, membangun dan merangsang kreatifitas juga lho. Kita bisa membuat agenda kita menarik dan sedemikian cantik jadi enak dilihat.

daily planner

orat-oret yang menyenangkan

Saya senang menghiasnya dengan stiker lucu, menulis handlettering (sambil belajar) dan menambahkan gambar-gambar menarik. Kita bisa mencari inspirasi dan beragam teknik yang bagus di Pinterest atau Instagram.

Eh iyaaa, sekarang saya punya akun instagram baru khusus tentang dunia planner dan craft. Belum banyak isinya sih, tapi kalau berkenan silakan follow @anneadzkia21 ya. Hehehe. Makasih sudah membaca dan happy organising yaa teman-teman.

 

Share:

11 Comments

  1. January 24, 2017 / 8:25 am

    Mbak Anne aku mulai menerapkan bullet journal. Seneng deh liat punya orang di pinterest. Tapi aku mah sederhana aja. Yang penting inget harus ngapain aja. Hehehe.

    Nanti ku follow ya IG barunya 🙂

  2. January 24, 2017 / 11:45 am

    Sudah follow ig nya dari lamaaa..hihi
    Aku baru nyoba planning tahun ini. Setelah evaluasi tahun kmrn kayaknya kok banyak waktu tp cuma dikit hal2 yg dilakuin. Dan planning dgn dihias2 gitu bikin semangat jg malahan. ^^

    • Anne Adzkia
      January 24, 2017 / 2:25 pm

      Huaaa makasih yaaaa ❤️❤️❤️❤️

  3. January 24, 2017 / 2:20 pm

    Aku malah nga betah ama menghias-hias organizer nya Anne.

    Biasanya cukup tulis makanan yang masuk ke tubuh, rincian pengeluaran sama aktivitas apa atau target yang harus kukerjakan dalam hari tersebut.

    • Anne Adzkia
      January 24, 2017 / 2:26 pm

      Seneng yg simpel2 aja ya, yg penting fungsi. That’s cool 🙂

  4. January 25, 2017 / 2:29 pm

    hwaa mbaa…aku klo journal oret oret aja hihi…ini superr cuteee

    • Anne Adzkia
      January 25, 2017 / 3:24 pm

      Ini juga orat-oret koq, hihi

  5. kholil
    January 26, 2017 / 12:01 pm

    orat oretannya bagus

  6. January 27, 2017 / 7:55 am

    Wuah aku suka cara memvisualkanya mbak… letteringnya asik sekali…
    As visualizer saya juga mencorat-coret jadual , atpi tak serpi dan organised punya Mbak Anneadzkia..

    Kadang ngisi google callendr, time table di dinding. Ternyata memang sangat berguna untuk manajeman waktu

    Salam Dari Rembang

  7. January 28, 2017 / 9:02 am

    mbakkk rajin sekali dirimu bikin organize kegiatan sehari2, aku masih jalanin aja gitu, ada sih beberapa catatan di whiteboard rumah, menurut ku anugerah juga sih kalo serba teratur tapi jangan kaku

  8. February 5, 2017 / 1:27 pm

    Sepertinya Ibu suka menggambar. Soalnya buku catatannya warna-wanri. Bagus lagi, jadi enak dilihat. ????

Leave a Reply

Your email address will not be published.