Menghidupkan Scene, Memilih Diksi

Pas sedang ngutak-ngatik blackberry lama yang nggak dipakai lagi karena beberapa alasan (pendahuluan nggak penting banget), saya menemukan banyaaaak banget catatan dan tips-tips menulis yang tersimpan dan lama nggak dibuka. Ternyata tips-tips itu bermanfaat banget buat saya yang lagi belajar menulis novel.

Jadi, biar nggak hilang ilmunya (apalagi kalau BBnya keburu mati suri), saya salin aja disini. Sekalian berbagi, barangkali ada yang perlu ilmu yang sama.

Ilmu yang satu ini saya dapat dari diskusi bareng mbak Ifa Avianty di kelas menulis (kelasnya maya dan gak resmi banget ;p) bareng anak-anak IWS (Ifa Writing School). Membahas tentang teknik membuat sebuah scene jadi lebih intens, tapi nggak lebay. Lebih filmis dan hidup sehingga pembaca seperti menonton adegan film.

Bagaimana caranya?

1. Lukiskan pergerakan dari tokoh, terutama tokoh utama.

Misal: Dea merubah posisi duduknya, kini agak menyimpang. Maksudnya tentu saja agar dia bisa terhindar dari tatapan elang laki-laki itu. Namun juga agar dia bisa punya akses untuk mengamati lebih jauh sosok indah itu.

Bandingkan dengan: Dea duduk menyamping agar terhindar dari tatapan laki-laki itu.

Mana yang lebih intens?

2Lukiskan interior dan eksterior pada scene/adegan tersebut, tapi tidak lebih dari dua alinea ukuran sedang (maksudnya, jangan kepanjangan. Bikin boring!)

Misalnya dengan melukiskan detil ruangan, warna pencahayaan, cuaca, dan semacamnya. Apa aja yang ada di dalam ruangan? Kursi tempat duduk si tokoh warnanya apa? Panjang atau pendek? Dsb.

Sebenarnya lukisan tentang interior/eksterior itu tambahan aja. Kalau dialog atau konflik si tokoh udah jelas banget, nggak terlalu perlu eksplore di sini.

3. Jika menggambarkan konflik di dalam diri seseorang, kisahkan pertentangan demi pertentangan yang dialami. Bisa dalam bentuk dialog atau narasi.

4. Jika menggambarkan dialog antara dua orang, buatlah percakapan yang “tek-tok” dan tidak terputus sebelum tercapai apa amanat dari scene tersebut, kecuali akan disambung ke scene berikutnya. Bila akan disambung, buatlah jeda yang memancing keingintahuan pembaca.

5. Show, Don’t Tell!

6. Capture and Paint!

Segitu dulu untuk pembahasan ini. Pembahasan serupa, akan dibahas selanjutnya oleh Kang Tasaro GK. Stay tune, ya 😀

Share:

3 Comments

  1. ayanapunya
    April 9, 2013 / 1:15 am

    capture and paint maksudnya apa, teh?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *