A Memorable Story

A Memorable Story

write Pernah nggak baca buku, yang meskipun sudah usai dibaca, tapi kita masih terbayang-bayang isinya. Buku itu sangat memorable, daleeeem banget. Nah, mbak Ifa Avianty share ilmu tentang membuat cerita fiksi yang bagus, dan nggak mudah dilupakan pembacanya.

1. Ambience atau suasana cerita.

Terdiri dari tokoh, setting, dan seluruh faktor yang membuat cerita menjadi hidup dalam suasananya. Hidup dan membuat pembaca masuk ke dalam suasana cerita tersebut. Ini penting banget. Sekali seorang pembaca merasa dia tetap di luar cerita, dia akan malas masuk ke dalamnya. Seperti sebuah tempat yang nyaman, buatlah cerita Anda seperti itu. Seseram apapun ceritanya.

2. Emotion.

Adalah emosi di pengarang yang terpancar dalam karakter si tokoh, konflik dan suspense. Emosi ini harus balance, positif dan negatif. Kalau mayoritas emosi negatif, kisah yang terbangun adalah kisah murung, sedih, seram atau malah menjijikkan. Tapi kalau hanya positif aja, pasti membosankan.

3. Authorical cruelty and mercy.

Atau bhs lainnya “author as a god” (short “g”) atau playing favorism. Disini penulis membuat scene per scene dengan memanfaatkan otoritas kepenulisannya. Bagaimana dia menggerakkan tokoh-tokohnya, yang baik dan jahat. Yang untung dan buntung. Yang dia suka atau benci. Tapi ada prinsip yang harus diingat. Be humane, tetap jadi manusia dan memanusiakan tokoh Anda. Jangan buat dia sepenuhnya malaikat atau sepenuhnya setan. Biarkan mereka bergerak dan berkembang. Kita hanya menambahkan tenaga ke dalam jiwa mereka.

4. Intimacy narrative.

Ika Natassa (penulis Divortiare) mengartikan ini sebagai gabungan antara sex, violence dan mission dalam narasi. Kalau mbak Ifa Avianty sendiri, memaknainya sebagai paparan dialog yg dekat dan berasa ngomong/cerita langsung ke pembaca, sehingga misi sampai ke mereka. Disini apapun misi kita, combine dengan hal-hal lain, seperti romance, sejarah, apapun, termasuk yg menggambarkan kekerasan. Perlu diingat batasan-batasan saat memaparkan seks dan kekerasan.

5. Complicity atau kelengkapan cerita.

Data yang lengkap dan detail dalam melukiskan plot ke plot. Gak usah pakai bahasa panjang, ribet, dan bunga-bunga. Pakai kalimat pendek juga oke. Mbak Helvy mengistilahkan complicity ini sebagai memindahkan data ke dalam fiksi, sedangkan mbak Ifa mengartikannya sebagai mengintegrasikan data dan imajinasi dalam cerita dan memaparkannya dalam bahasa tulisan yang detail dan runut.

Nah, segitu dulu tipsnya kali ini. Semoga bermanfaat. Yuk, menulis lagi ^^.

Share:

4 Comments

  1. iwan aster
    May 20, 2013 / 1:16 am

    Thanks Mbak dah share.
    Btw, sekarang lagi ikutan lomba atau sayembara nulis novel ga, Mbak?

    • anneadzkia
      May 20, 2013 / 1:22 am

      Sama-sama. Lagi nulis sih, tp nggak tahu sempet nggak untuk lomba Bentang…:)

  2. Tanti Amelia
    August 31, 2013 / 11:02 pm

    bagus nih blognya jadi betah berlama-lama… btw, apa tulisan2 yang ada dibotong kesini lalu blog lama dihapus apa gimana.. blogku ancur nih, akibat pergaulan bebas..eh..menerapkan tulisan cara membuat menu bar dan menambah font.. hiksss :'(

    • Anne Adzkia
      September 1, 2013 / 3:29 am

      Semua tulisan dr blog lama di eksport ke sini. Di blog lama dikasih pemberitahuan kalau orangnya pindah ke alamat baru 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *