
Ruth Maureen, Kepala Sekolah Cita Persada mengatakan, bahwa dalam pendidikan karakter anak ada satu karakter yang sangat penting, yaitu SELF CONTROL, atau mampu mengendalikan diri. Menurutnya, karakter ini merupakan salah satu yang tersulit untuk diaplikasikan dalam keseharian, karenanya perlu dilatih sejak dini. (Baca tulisan sebelumnya: Mendidik Karakter Anak, Pentingkah?)
Mungkin dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat kegagalan dalam SELF CONTROL ini. Contohnya:
- Orang yang melanggar lampu merah
- Tidak mau antri
- Marah-marah ketika menemukan sedikit saja hal yang tidak sesuai dengan harapan
Bagaimana mengajarkan anak tentang pengendalian diri? Yang harus diajarkan oleh orang tua adalah:
- Ajarkan kepada anak untuk datang saat dipanggil, meski saat sedang melakukan sesuatu yang digemarinya.
- Ajak anak untuk memberikan tanggapan positif saat ditegur. Kenapa? Karena sebenarnya manusia itu mempunyai sifat dasar yang cenderung agresif saat diberi peringatan atau ditegur.
Lalu, bagaimana jika anak melakukan kesalahan? Saya pribadi, sudah meninggalkan pemberian REWARD dan PUNISHMENT pada anak-anak. Namun menjelaskan pada mereka tentang KONSEKUENSI.
Jika anak melakukan hal yang baik, konsekuensinya dia akan mendapatkan sesuatu yang baik. Begitu pula sebaliknya. Konsekuensi ini bukan berupa hadiah, tapi berupa efek langsung tindakannya. Misalnya, ketika si anak bangun lebih pagi, dia bisa memulai aktifitas lebih cepat sehingga pekerjaannya lebih cepat selesai dan dia punya waktu lebih untuk bermain.
Sebaliknya, jika dia kesiangan, maka jam untuk bersenang-senang jadi berkurang.
Jika si anak melakukan kesalahan atau lalai, bukan punishment atau hukuman yang didapatnya. Melainkan konsekuensi, sesuai kesepakatan sebelumnya. Misal, jika si anak terlalu banyak main game, dia tidak bisa mendapat dongeng sebelum tidur.
Konsekuensi ini, harus diberikan melalui kesepakatan dahulu sebelumnya. Jadi si anak tidak menganggapnya sebagai hukuman. Dan hal-hal yang menjadi konsekuensi adalah berkurangnya kesenangan yang harusnya bisa didapatkan si anak kalau dia bersikap baik.
Ada beberapa hal terkait keahlian sosial dalam membangun self control, diantaranya:
- Puji anak saat positif. Hal-hal yang perlu dipuji yaitu ketika anak berhasil melakukan sesuatu yang membutuhkan effort. Bukan memuji penampilan atau hal-hal yang tidak substansial.
- Sikap dasar yang kerap diabaikan, namun sangat penting. Yaitu kemampuan mendengarkan, interupsi pembicaraan (kapan dan bagaimana cara yang tepat), mengendalikan marah dan melapor saat selesai melakukan sesuatu.
Penting lhoo mendukung anak untuk membangun self discipline (ini terkait self control juga), dalam aktifitasnya. Misalnya, support anak-anak dalam kegiatan olah raga. Banyak sekali manfaat olahraga dalam membangun karakter, seperti team work, membangun sportifitas, berani menerima kekalahan dan rendah hati saat menang, fokus pada target, tenang, koordinasi otak dan anggota tubuh, dan sebagainya. Lalu bisa juga dengan aktifitas bermusik dan chores dalam keseharian di rumah.
Kunci Pendidikan Karakter Anak adalah
- Hubungan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.
- Kesepakatan orang tua/pendidik dalam proses pendidikan karakter anak ini. Kesepakatan ini penting agar pola pendidikan berkesinambungan.
Misalnya, ayah dan ibu harus mempunyai frame of thinking yang sama. Jika ada nenek/kakek atau pengasuh yang terlibat juga disamakan dahulu visi misinya. Sekolah juga, harus mempunyai idealisme yang sama untuk membangun karakter anak.
Good character is caught more than it is taught.
Kenalan dengan Ibu Ruth Maureen dan Sekolah Cita Persada
Dari tadi kita menyebutkan nama Ruth terus, siapa sih beliau? Berikut profil pendidikan dan profesi beliau:
- 1995 BSc dari University of Colorado USA
- 2003 MM dari Prasetya Mulya Business School
- 2013 Diploma di bidang Learning Disorder Management and Child Psycology
- Sedang mengikuti pendidikan di Monash University untuk gelar Med
- Director (Principal) of Sekolah Cita Persada
- Pengajar Paruh Waktu di Prasetya Mulya Business School
Nah, keren banget kaan. Ibu Ruth yang ramah ini mengundang para blogger untuk bercengkrama dan berbagi ilmu tentang Mendidik Karakter Anak seperti yang telah saya uraikan di atas dan dalam postingan sebelumnya.
Beliau adalah Kepala Sekolah Cita Persada, sekaligus pemiliknya. Karena sangat peduli pada pendidikan karakter anak, maka konsep sekolah yang dibangunnya ini adalah sekolah yang mengutamakan pendidikan karakter.
Wah, sebagai homeschooler yang juga sangat mengutamakan pendidikan karakter anak, saya senang sekali mendengar informasi bahwa sekolah ini sangat peduli pada pendidikan karakter.
Saat berkeliling sekolah ditemani oleh salah seorang staff, kami disuguhkan pemandangan yang rapi dan tertata. Sekolah yang berada di bilangan Cinere Depok ini, cukup megah dan memunyai fasilitas lengkap.
Keren, ya.
Jika perlu kontak Sekolah Cita Persada, silakan hubungi alamat berikut:
Sekolah Cita Persada
Jl. Cinere Raya No.3
Cinere Depok 16514
+62217541010/7531010
Email: [email protected]
mulai belajar self kontrol deh. Aku suka sekolahnya menerapkan pendidikan berkarakter
Sama mbak. Orang tua dulu self control spy bisa mendidik anak2 kita mbak. Saya juga mau belajar trs ttg ini.
Jadi ingat, waktu masih di Jawa Tengah saya menjadi pengurus sebuah Yayasan yang mendirikan TK, tugas saya mengasuh para orang tua, untuk memberikan pengasuhan karakter pada anaknya.
Segala sesuatu memang mulainya dari rumah ya mba, menurut saya, rumah adalah sekolah pertama, ibu dan ayah adalah guru pertama
Iya mbak. Ini salah satu alasan saya jd homeschooler 🙂
haiiii mbak kapan2 kita sharing lagi ya, ini nih pendidikan yang kadang terlewat sama saya, seringnya aspek kognitif mulu tetapi karakter dilupakan
Yuk, mangga 🙂
Waah dalem banget nih materinya mbak…self control harus dimulai dari diri sendiri dulu nih. PR banget yang poin menahan marah, anak2 juga agak sulit untuk hal yang satu ini.
Trus kunci membangun karakter yang kedua tuh menjadi masalah juga nih, di rumah anak2 ditemani uti n akungnya, yang kadang2 nilai yg kami terapkan berbeda. Anak2 akhirny memilih yg lebih longgar. meski sudah dikomunikasikan, gak semuanya bs inline, hiks.. masih banyak PR nih
btw TFS mbak…
Iyaaa..jadi orang tua belajarnya lebih banyak dibanding anaknya. Banyak kesentil banget pas ikut seminar ini 🙁
Self kontrol itu yg susaah, tp kudu belajar, demi anak-anak supaya berkarakter baik yaa
Iyaaa…susyaaah 🙁
Susah ya Mba menerapkan disiplin SELF CONTROL ini, tapi memang harus diusahakan.
Ya, ini jadi bagian yg nggak dipisahkan dr tugas orang tua…ternyata.