Manusia dan Sampah, dan Dunia Pengangkutannya

Manusia dan Sampah, dan Dunia Pengangkutannya
Urusan manusia dan sampah tampaknya masih merupakan unsolved problem di negara kita. Dimulai dari yang paling mendasar, yaitu kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah bukan di tempat semestinya sampai penempatan sampah di tempat pembuangan akhir.

Gerakan-gerakan peduli sampah memang sudah mulai banyak, seperti komunitas zero waste sampai aktivitas go green, yang khusus memerhatikan dan peduli untuk mengurangi produksi sampah.

manusia-dan-sampah

Namun berbanding jumlah penduduk Indonesia yang buesaaar dan belum meratanya program ini (kebanyakan aktivitas masih terpusat di kota-kota besar), tampaknya problem sampah masih berumur panjang.

Disini, saya tidak akan membahas tentang aktivitas peduli sampah, melainkan ingin membahas bagaimana para tukang sampah bekerja mengumpulkan sampah rumah tangga dan membuangnya. Di daerah rumah saya, pengambilan sampah cukup teratur. Menggunakan truk dan dilakukan oleh 2-3 orang petugas. Sampah-sampah dari tempat sampah besar yang disediakan perumahan diangkat (kadang hanya diambil sampah yang dibungkus plastik saja) dan dimasukkan ke dalam truk.

Saya sering perhatikan bapak-bapak petugas sampah itu. Mereka kok mau ya, tanpa pakaian khusus dan sarung tangan mengambil sampah-sampah itu (kita tidak sedang bicara tentang pemulung yang bahkan bisa memungut makanan bekas dan memakannya). Tahu kan, mikroorganisme dalam sampah yang membusuk itu segimana banyaknya. Belum lagi belatung. Mudah-mudahan bapak-bapak ini rajin bersih-bersih.

Masih mending deh, kayaknya. Karena tukang sampah di tempat saya hanya memungut dan memasukkannya ke dalam truk. Bagaimana dengan tukang sampah gerobak. Ini yang sering bikin saya iba. Mereka bekerja di lingkungan kotor, dan dibayar dengan upah rendah. Seolah tidak dihargai sekali jerih payahnya. Padahal, kalau dua hari aja tukang sampah absen, emak-emak pasti kalang kabut juga. Karena sampah rumah tangga menggunung.

Manusia dan Sampah di Australia

Di sana, sampah rumah tangga harus sudah dipisahkan dalam 2 tempat sampah berbeda (di negara bagian Victoria malah 3 macam termpat sampah). Yang satu untuk sampah umum (kresek, sampah rumah tangga, sampah non recylable), dan yang satu sampah yang bisa di daur ulang (kardus, botol/wadah plastik, wadah gelas/kaca, kertas).

Sampah ini harus dimasukkan ke tempat yang benar. Kalau tidak, kita bisa ditegur oleh petugas, atau bahkan sampahnya tidak diambil. Yang artinya, harus menunggu lagi sampai pekan depannya. Di setiap rumah harus tersedia 2 tempat sampah besar, merah dan kuning. Petugas mengambil sampah hanya sekali dalam seminggu. Makanya tempat sampahnya besar. Di area saya, saat itu sampah diangkut setiap hari Kamis. Jadi, Kamis pagi, kita harus meletakkan tempat sampah besar di pinggir jalan supaya mudah diambil.

Bagaimana sampahnya diangkut? Tentu dengan truk. Tapi, truknya bukan truk dengan bak terbuka seperti di Indonesia, melainkan truk tanki. Dan sampah ini tidak diangkat oleh si petugasnya. Petugas sampah, yang hanya seorang, dengan seragam oranye lengkap dengan helm lapangan, hanya bertugas mengemudikan truk. Truk ini kemudinya di kanan dan kiri, lho. Jadi sopirnya bisa pindah-pindah sesuai lokasi sampah yang mau diangkat.

manusia dan sampah

Truk yang dikelola oleh perusahaan JJ. Richards ini dilengkapi elevator yang dioperasikan oleh sopir untuk mengangkat tempat sampah dan menumpahkannya ke dalam tanki truk. Petugas sampah sama sekali tidak menyentuh sampah, dia bahkan tidak turun dari truknya. Kerja elevator ini seperti robot, mengangkat dan menurunkan wadah sampah. Tidak ada bau ketika truknya lewat, karena sampah ada di dalam tanki tertutup. Dan, gaji petugas sampah di sana bisa sama besar dengan gaji seorang operator tambang batu bara.

truk sampah

Pengolahan sampah di negara-negara maju memang sudah sangat baik. Tapi fenomena menggunungnya sampah juga menarik perhatian saya. Di Australia, hampir semua produk rumah tangga menggunakan kemasan yang menghasilkan banyak sampah. Tidak ada, tuh kemasan-kemasa ekonomis menggunakan sachet. Semua dikemas rapi, dengan wadah yang tebal (baik plastik maupun glass). Saya jadi ingat tentang zero waste. Sepertinya akan sulit dilakukan karena hampir semua produk menghasilkan sampah.

Yah, urusan sampah memang selalu menjadi PR besar manusia. Karena selama manusia hidup, sampah akan selalu ada, bukan? Hanya perlu kepedulian kita saja, untuk bijaksana membuang sampah terutama sampah dari rumah tangga.

Share:

4 Comments

  1. Ety Abdoel
    December 1, 2015 / 12:22 pm

    Sampah dimana-mana jadi masalah. Nggak ada yang mau ketempatan jadi TPA. Semoga sih ada solusi permanen buat masalah sampah.

    • Anne Adzkia
      December 1, 2015 / 12:25 pm

      Duh iya nih. Jakarta lagi punya masalah sampah ya.

  2. Haryadi Yansyah | Omnduut.com
    December 2, 2015 / 3:48 pm

    Hal sederhana semacam penyebutan “Tukang Sampah” diganti menjadi “Petugas Kebersihan” pun jadi sorotan kalau sudah ngomongin sampah. Aku banyak baca buku parenting yang membahas mengenai sampah ini. Sukaaa.

    • Anne Adzkia
      December 2, 2015 / 3:55 pm

      Eh aku nulisnya apa ya? Di Aussie kalau gak salah disebutnya garbage man juga, padahal mereka gak kotor2an dan nyentuh sampah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *