Samakah Karakter Anak dengan Orang tuanya?

Samakah Karakter Anak dengan Orang tuanya?

karakter anak Karakter anak nggak bisa dilihat dari bagaimana orang tuanya. Walaupun memang, secara genetika sifat tetap diturunkan beberapa persen dan karakter itu bisa ditularkan, ditumbuhkan dan dibangun. Tapi setiap anak tetap membawa karakter dasarnya masing-masing. Saya pernah membaca sedikit uraian psikologi tentang core true self dan developed self, yang membedakan karakter dasar bawaan dan karakter yang ditumbuhkan dari lingkungan. Dikatakan, sifat karakter kita bisa berubah seiring didikan lingkungan, tapi pada dasarnya karakter bawaan itu akan selalu tetap ada.

(Baca juga sekilas tentang core true self/developed self dalam postingan: Gara-gara Selalu Dicurangi Main Monopoli).

Kalau kita mengingat ulang kisah Umar bin Khattab, Sang Al Faruq atau Singa Padang Pasir, dari julukannya kita bisa melihat bahwa beliau adalah orang yang mempunyai karakter keras. Memang benar. Bagaimana nggak, saat beliau belum masuk Islam, tangannya begitu ringan membunuh siapa saja yang menghalangi langkahnya. Bahkan, Rasulullah SAW dan adik kandung Umar sendiri hendak dibunuh karena upaya mereka menda’wahkan Islam di awal-awal kenabian Sang Rasul.

Tapi lihatlah bagaimana karakter Umar setelah berinteraksi dengan Rasulullah SAW. Beliau tetap orang yang keras namun untuk membela sahabat yang sangat dikasihi dan agama yang amat dicintainya. Bahkan Umar siap pasang badan bagi siapa saja yang berani menghentikan da’wah Islam saat itu.

Bicara tentang karakter anak pun demikian. Anak-anak kita akan membawa sifatnya masing-masing yang mungkin sama atau berbeda dengan kita. Dengan interaksi bersama orang tuanya bisa jadi sifat itu berubah sedikit demi sedikit, atau justru menguat.

Sebetulnya saya sempat kaget juga melihat karakter anak perempuan saya, semakin besar sifat feminimnya makin tumbuh. Dan kelihatan sekali dia nggak seperti saya dalam beberapa hal. Yang paling jelas ya sifat feminimnya itu.

Sejak kecil, saya suka pakai celana pendek (memang dapatnya lungsuran celana pendek dari kakak sepupu cowok). Bahkan sampai SMA saya lebih suka pakai jeans belel dan T-shirt gombrong. Sekali-kalinya pakai blus yang agak feminim saat diundang ultah sweet seventeenan teman, dan itupun ujung-ujungnya diledekin teman-teman.

Baru benar-benar “dipaksa” pakai rok itu saat kuliah karena kuliah di FKG wajib pakai rok panjang. Tetap aja pakaian kebangsaannya standar, nggak suka pakai aksesoris sama sekali. Di tangan paling ada jam tangan aja. Anting-anting pun nggak pake. Cincin kawin dipake tiga bulan pertama nikah aja. Sampai sekarang style masih ngoboy, meski pakai gamis tapi sendal masih setia pakai sendal gunung.

Nah, anak saya ini beda banget. Dari kecil sudah paham baju mana yang matched, sampai ke jilbab-jilbabnya. Bisa memilih sepatu yang trendi dan manis (dia pernah minta boots merah yang memang pas banget di kakinya). Suka pakai aksesoris juga, seperti gelang cantik, jepit rambut lucu (kalau di rumah) dan bros jilbab warna-warni.

gelang cantik

gelang Kay yang dibeli di atas bus di Probolinggo 🙂

Sampai saat ini saya belum pernah melarang dia dengan apapun yang dipakainya, karena sejauh ini masih wajar. Gelangnya juga bukan gelang yang heboh dan menyolok perhatian. Justru dia suka gelang yang sederhana dan etnik gitu. Saya sempat kepikiran sih sesekali memberi dia surprise gelang cantik tapi murmer.

Sempat saya cari-cari di beberapa toko online, dan menemukannya di Zalora. Ini gambar gelang incaran saya. Cantik, kan.

gelang wanita zalora

naksir gelang yang paling kiri, yang paling sederhana

Kembali ke karakter, bahwa anak-anak membawa sifat bawaannya masing-masing menandakan bahwa anak bukan kertas kosong yang berhak kita corat-coret sesuka kita. Kita bisa belajar dari cara Rasulullah SAW mengondisikan sahabatnya yang keras ini dengan pendidikan Islam yang baik sehingga Umar bin Khattab kemudian tumbuh menjadi ksatria yang gagah berani hingga Rasul menjulukinya Al Faruq yang artinya Sang Pembeda, atau orang yang tahu perbedaan yang haq dan yang bathil. Di beberapa riwayat dikatakan juga Al Faruq juga diartikan Penjaga Rasulullah SAW.

Dengan sifat feminimnya, saya berharap kelak anak saya tahu kedudukannya sebagai muslimah. Tampil cantik dan rapi itu sangat baik selama tidak berlebih-lebihan dan sesuai kondisi.

Sampai saat ini sih dia senang pakai gelang dan aksesori lainnya saat di rumah atau pergi berdua saya aja. Katanya sih, “Malu kalau dilihat orang dan takut diambil pencuri.” Hehehe.

Share:

19 Comments

  1. January 21, 2016 / 3:02 pm

    kalo anak perempuan saya, kayaknya sama dgn saya, cuek. tapi entah nanti kalo udah besar 🙂

    • Anne Adzkia
      January 21, 2016 / 3:10 pm

      Nah, yang rada ngoboy juga anak cowok saya mbak. Dia lebih parah malah 😉

  2. January 21, 2016 / 7:55 pm

    gelangnya lucu. anak-anak sekarang emang lebih ngerti gimana padu padanin baju dan aksesoris daripada kita dulu yach mbak. rasanya dulu aku nga pernah mau dipakain geleng dan kalung gitu pasti langsung putus karena dibawa main.

    • Anne Adzkia
      January 21, 2016 / 7:58 pm

      Nah iyaaa. Betul bgt, anak2 lebih ngeh gaya ya 🙂

  3. widyanti yuliandari
    January 21, 2016 / 6:07 pm

    Anak perempuanku dalam hal kesukaan pada pernik2, niru aku. Bedanya, dulu aku bisa nyimpen dan selalu mau make koleksiku. Anakku beda, doyan beli aja, jarang make. Trus cuma dimainin sebelum akhirnya rusak atau hilang. Ah.. anak tetap membawa karakterya sendiri 🙂

    • Anne Adzkia
      January 21, 2016 / 6:09 pm

      Sepakat mbak 🙂

  4. January 21, 2016 / 11:24 pm

    Tapi kayaknya bisa berubah ya, Mbak? Aku dulu juga tomboy, sekarang udah bisa feminin dikit sih. Hihihi

    • Anne Adzkia
      January 21, 2016 / 11:31 pm

      Bisaa. Krn ada developed self yg bisa berubah krn lingkungan 🙂

  5. January 22, 2016 / 1:05 am

    basicly aku lebih mirip bapak sih kaarkternya..tapi mix sebenrnya..dan ada pengaruh lingkungan juga

  6. January 22, 2016 / 12:07 pm

    kalo aku lebih mirip ke ibu keknya karakternya, tapi kadang lingkungan dan pergaulan juga bisa ngebentuk karakter anak juga ya mbak

    • Anne Adzkia
      January 22, 2016 / 12:08 pm

      Betuul. Sangat mbak.

  7. January 23, 2016 / 9:40 am

    ceritanya aku mau feminim gitu mbak beli gelang2 eh yg ada cuma disimpan lupa dipake hehehe. Oh ya sampai skr aku gak pake cincin kawinnya juga loh mbak, enak polos gini

    • Anne Adzkia
      January 23, 2016 / 10:43 am

      Hahaha…
      Aku pake cincin kawin malah dibilang aneh

  8. evrinasp
    January 23, 2016 / 2:24 pm

    suka banget sama kalimat bahwa anak bukan kertas kotong yang berhak kita corat coret sesukanya , makjleb mengingatkan lagi nih gak boleh sembarangan atau memaksakan sesuatu ke anak

    • Anne Adzkia
      January 23, 2016 / 2:27 pm

      Bener Ev. Aku jg masih belajar utk ini.

  9. January 24, 2016 / 8:26 pm

    gelangnya lucu ya mba. Memang karakter bawaan pada anak itu berbeda2 seiring tumbuh kembangnya lingkungan juga ikut mempengaruhi.

    • Anne Adzkia
      January 24, 2016 / 9:21 pm

      Betul bgt mbak Meutia

  10. Rosanna Simanjuntak
    February 5, 2016 / 11:49 am

    Wah, seperti bercermin nii, gue bingit yaaak 🙂
    Putriku juga menjelang remaja, mulai menunjukkan pemilihan fashion yang beda dengan emaknya.
    Senang pasang tatooo meski setiap mandi hilang. Hahaahha…
    Pakai baju ala rapper, dengan dalaman T-shirt padu padan dengan kemeja gombrang sana sini plus sweater yang dililit di pinggul *hadeh!
    Welcome a board, Mom
    Btw, salam kenal dari bumi Borneo yaaa

  11. February 6, 2016 / 8:15 pm

    Waah gelangnya unik ya, aku juga suka dengan gaya mendidikmu Mbk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *