Jurnal Jo

Jurnal Jo

jurnal jo Namanya Jo, kependekan dari Josephine, seorang calon remaja yang merasa tertinggal oleh teman-temannya. Baru masuk SMP dan terkaget-kaget dengan dunia barunya. Sahabat meninggalkannya karena ingin eksis bersama gank keren, tanggung jawab organisasi, urusan penampilan, sampai masalah cowok menjadi hal-hal yang mengisi kesehariannya. Jo berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi internal dan eksternalnya yang membuatnya merasa, “Nggak gampang jadi remaja.”

Siapa bilang jadi remaja awal itu gampang? Menaklukkan kondisi tubuh sendiri aja nggak gampang. Perubahan emosional, pertumbuhan bagian-bagian tubuh tertentu, perlakuan orang lain terhadap kita dan macam-macam. Nggak sedikit yang menganggap masa yang disebut pubertas ini adalah masa penuh tantangan.

Anak-anak remaja tanggung ini rentan terpengaruh lingkungannya. Seperti Sally, yang punya nama gaul Ally, sahabat Jo yang ingin dianggap keren dengan bergabung bersama gank paling keren di sekolahnya. Akibatnya, dia kehilangan jati diri. Alih-alih gaya, dirinya merasa tertipu oleh gemerlap dunia remaja yang harus diisi dengan kemewahan.

Namun Jo, berkat kecupuannya dia agak telat terkena pengaruh itu. Meskipun pada akhirnya kena juga, terbawa arus gank keren.

Membaca Jurnal Jo karya Ken Terate ini seperti membaca ulang kisah hidup pribadi. Gaya bahasanya ringan banget, khas Teenlit, tapi rasanya masih bisa diterima oleh pembaca dewasa.

Biasanya saat membaca teenlit, saya seakan masuk ke dunia lain yang memunyai tembok tinggi sehingga susah untuk menyatu dengan diri saya. Tapi untuk buku ini nggak sama sekali. Mungkin karena kondisi remaja yang diceritakan oleh Ken merupakan gambaran remaja awal 2000 yang rentangnnya belum terlalu jauh dengan masa-masa saya dulu (cieeee….sok mudaaa. Padahal remaja awal 90-an).

Tapi jaman saya remaja dulu belum ada HP. Boro-boro hp kali ya, telepon rumah aja masih jarang yang punya. Masih musim telepon umum koin dan kartu (sampai saya koleksi kartu telepon yang unik-unik). Kalau janjian sama cowok, surat-suratan. Ehm, tapi saya mah nggak pernah janjian ama cowok spesial (lupa-lupa inget) soalnya punya sohib cowok semua yang kemana-mana jadi bodyguard. Kalau ada cowok mau deketin malahan diospek tu cowok, jangan-jangan.

Wah, seru memang kalau membahas masa remaja. Cerita curahan hati ke diary (eh saya punya diary banyak, yang bikin saya jadi seneng nulis sampai sekarang). Kalau Jo, dia menulis di Multiply (jadi kangen multiply, nih). Saya suka gaya bercerita Jo di multiply yang nggak melulu curhatan pribadi, tapi memberi tips-tips jadi remaja asyik.

Sayangnya, saya menemukan buku ini di rak buku diskon Gramedia. Sedih deh. Ya, memang buku lama, sih. Tapi tetap sedih kalau buku akhirnya diobral sampai seharga 10 ribu gitu. Kasihan penulisnya.

Untungnya, Ken Terate menulis serial Jo selanjutnya, dan ini bikin saya penasaran, ngapain aja Jo di masa-masa SMP dan SMA. See ya soon, Jo. I’ll catch you up later.

Judul: Jurnal Jo

Penulis: Ken Terate

Cetakan: Kedua Februari 2009

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 240 halaman

ISBN: 978-979-22-3459-6

Share:

1 Comment

  1. May 10, 2019 / 10:01 pm

    Klw blh tau gagasan pokoknya mulai bab 1 sampai akhir…kira”apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *