Janji Hati [bag. 2]

Kisah sebelumnya: Janji Hati, bagian 1

Hari-hari berikutnya aku lalui dengan perasaan galau. Ketika aku memilih sebuah jalan yang menurutku baik, ternyata apa yang aku hadapi tidak semudah persangkaanku.

Meninggalkan Ronald tak semudah yang aku kira. Hubungan yang sudah terjalin selama 3 tahun ini ternyata sudah banyak melibatkan orang lain, bukan hanya aku dan Ronald. Orang tuanya sudah mengenalku, begitupun sebaliknya. Sulit melepaskan dari ikatan yang sebenarnya tanpa cela ini.

Aku tak mau lagi pacaran. Hanya itu masalahku. Tapi menikah? Aku belum siap.

Membuat Ronald mengerti tentang konsep ta’aruf pun sulit bukan main. Apalagi dengan rencana-rencana masa depan yang pernah kami buat. Merubahnya sebegitu rupa dalam sekejap… sama saja seperti menyulap air keruh menjadi jernih.

Bagaimana dengan Yudi? Pertemuan kami sebelum hari Sabtu sangat terasa berbeda. Tak ada lagi candaan kami di tempat kursus. Dia canggung. Apalagi aku.

Aaah, rasanya ingin menghilang ditelan bumi.

Sabtu yang dinantikan semakin dekat. Aku semakin galau dengan segala keputusanku. Keyakinan yang semula mantap, mulai terombang-ambing. Apakah karena aku menyukai Yudi? Atau masih berat meninggalkan Ronald? Tidak, bukan itu.

Yudi menjemputku. Kami pergi ke perpustakaan yang tak jauh dari rumahku. Disana ada kedai kopi kecil. Tempat favoritku jika sedang ingin menyendiri.

“Bagaimana, Din? Kamu udah siap cerita?” Yudi membuka pembicaraan.

“Aku bingung mulai dari mana.”

“Keberatan nggak kalau aku yang mulai? Mudah-mudahan bisa memancing ingatanmu.”

“Oke.”

Kami berdua menyesap teh hangat dihadapan. Sambil seolah mengambil ancang-ancang untuk memulai pembicaraan yang tidak seperti biasanya, penuh kelakar dan canda.

It was love at first side, Din.”

Excuse me…”

“Aku suka kamu sejak awal kelas kursus kita.”

“Oh ya? Aku nggak pernah tahu, Yud. Kamu pendiam banget kalo di kelas.”

“Aku memang introvert. Tapi sama kamu, aku nyaman banget ngungkapin apapun. Makanya aku bisa ngocol.”

“Belakangan, kamu emang kocak banget, Yud. Aku nyaman ngobrol sama kamu.”

“Pacar kamu gimana?”

Pertanyaan yang sangat membuatku jengah. Tapi pasti akan keluar juga pembahasan ini. Yudi pasti ingin tahu bagaimana hubunganku dengan Ronald.

“Aku baru putus dengan Ronald,” jawabku pelan.

“Oya? Kapan? I thought you were still with him.

“Kemarin, Yud. Baru kemarin.”

“Bukan gara-gara aku, kan?”

“Sayangnya bukan, Yud. Aku memang udah lama bikin keputusan mau pisah dengan dia.”

“Berarti…..” kata-kata Yudi terhenti. Dia tampak ragu untuk melanjutkan. Matanya terus menatapku. Sungguh, aku tak sanggup menerima tatapan matanya. Bisa-bisa aku meleleh, dan itu bisa merusak komitmen yang aku buat. “Apa aku bisa….”

“Bisa apa, Yud? Menggantikan posisi Ronald?”

Yudi mengangguk.

“Maaf, Yud. Ini bagian yang sulit aku jelasin.” Aku benar-benar bingung memilih kata yang tepat untuk menjelaskan perasaanku. Dengan komitken yang kubuat, kusingkirkan semua perasaan yang ada dalam hati. Bahwa kemungkinan aku juga menyukai Yudi, sedapat mungkin aku kubur dalam-dalam. “Aku putusin Ronald karena aku nggak mau lagi pacaran. Aku pengin, ketika aku siap menikah nanti aku langsung berproses ta’aruf saja. Nikah tanpa pacaran.”

Kembali hening. Sejenak aku menangkap raut kecewa di wajah Yudi.

“Kapan kamu siap nikah, Din?” Whadda surprising question. I have no idea.

“Belum tahu. Aku masih kuliah, semester 5. Aku pengin lulus dulu baru nikah. Kamu bukan mau ngajak aku nikah sekarang, kan?”

“Sebenarnya….aku ingin kamu tahu cerita lengkapku. Mudah-mudahan bisa bikin kamu ngertiin perasaan aku.

“Apa itu, Yud?”

“Boleh aku ulangi semua?”

Ah, Tuhan… tatapan Yudi begitu teduh. Aku sungguh-sungguh lumer sekarang. Dia begitu tampak dewasa sore ini, disamping usianya yang memang empat tahun lebih tua. Biasanya gaya lucunya menutupi kedewasaannya.

Yudi menarik nafas panjang sebelum memulai kata-katanya. “Aku suka kamu, sejak awal kita ketemu. Beberapa bulan aku mencoba mendalami perasaanku, apakah sungguh-sungguh ataukah hanya rasa suka sesaat yang bisa hilang begitu saja. Namun rasanya perasaan itu semakin menguat, Din. Meski aku tahu kamu punya pacar.”

Pikiranku melayang sesaat. Kata-kata ustadzah terngiang lagi. “Masa sudah berjilbab masih pacaran”.

Deg. Getaran kembali menghantam hatiku yang sempat terhanyut oleh kalimat Yudi.

Yudi melanjutkan. “Aku nggak pernah berani nunjukkin perasaanku. Bukan karena kamu udah punya pacar, Din. Tapi karena aku belum yakin dengan perasaanku. Aku nggak mau main-main ketika aku sudah berani menyatakannya. Minggu lalu, keyakinanku menguat. Aku nggak banyak berharap akan menemukan rasa yang sama dari kamu. Tapi aku nggak mau sampai memendamnya buat diriku sendiri. Aku cuma pengin kamu tahu. Itu aja.

“Aku nggak tau mau ngomong apa, Yud. Jujur, aku kaget. Aku mulai nyaman temenan sama kamu. Kamu bikin aku ketawa terus, “ jawabku hati-hati. “Aku ngerti penjelasan kamu. Tapi sekarang aku bingung, Yud. Aku cuma ingin menjelaskan satu hal, bahwa aku mencoba untuk nggak lagi pacaran.”

“Aku ngerti, Din. Aku pun sedang berusaha menuju kesana. Perlahan.”

Hembusan angin sore menerpa wajahku. Dingin. Warna alam menggelap perlahan, dihiasi semburat oranye di cakrawala. Langkah-langkah pengunjung perpustakaan mulai menghilang, untuk kembali ke peraduannya masing-masing. Tak lama lagi adzan maghrib akan berkumandang.

Wajah Yudi yang semula jelas, semakin meremang karena pendar cahaya yang semakin menghilang. Namun sinar matanya masih menatapku.

Giliranku yang harus menarik nafas panjang. Berharap udara sore mengisi ruang paru-paruku yang sesak oleh luapan rasa tertahan.

“Din, maukah kamu menungguku, kelak jika saatnya tiba?”

“Aku nggak tahu, Yud. Aku nggak bisa janji.”

Tak banyak kalimat sesudah itu. Hanya beberapa kalimat pendek basa-basi yang ditutup oleh ucapan perpisahan.

Maafkan aku, Yud. Aku tidak mau menjanjikan sesuatu yang aku sendiri tak yakin bisa menepatinya. Biarlah takdir Allah yang kelak memilihkan.

***

Di tempat ini, empat tahun yang lalu. Masih teringat seluruh kejadian dalam rekaman ingatanku. Tatapan teduh itu, hanya untukku.

Kini, aku melihat kembali tatapan itu.

Di bangku kedai kopi, tempat dulu aku dan Yudi berbincang serius untuk pertama kalinya, Yudi kembali duduk disana.

Aku hanya bisa melihat dari jarak yang tak terlihat, berharap tatapan itu dipersembahkannya untukku.

Seorang wanita dengan perut membuncit duduk di hadapan Yudi. Tatapan teduh Yudi begitu mesra tertuju pada wanita berjilbab rapi yang tengah mengelus perutnya.

[oleh. anne adzkia – TAMAT]

Share:

5 Comments

  1. yantist
    October 9, 2012 / 12:17 am

    eh, nikahnya bukan sama Yudi ya? huhuhu…. bukan jodoh artinya…

    • anneadzkia
      October 9, 2012 / 12:25 am

      di cerita versi panjangnya ada jawaban akhirnya andin nikah sama siapa…surprise. tapi belum ditulis sampe selesai. doain yaa, insyaAllah mau dibikin novella 🙂

      • yantist
        October 9, 2012 / 12:33 am

        siiiip… semangat teteh 🙂
        mana kisah Ranti dan Ranto teh, katanya mau diposting hari selasa 😉

        • anneadzkia
          October 9, 2012 / 12:39 am

          Aamiin 🙂
          Nanti diposting kalau udah ada pengumuman dari gradien ;p Biar deg-deg-annya ilang dulu *ngaruh gak sih*

Leave a Reply

Your email address will not be published.