Israeli Products Boycott, Bisakah?

Israeli Products Boycott, Bisakah?

Urusan boycot-boycot ini bukan perkara baru. Butuh effort tinggi untuk menjaga konsistensinya.

Beberapa tahun lalu, saat banyak stasiun berita televisi dan cetak terfokus pada serangan Israel terhadap Al Aqsha, sudah ramai himbauan untuk memboikot produk-produk Israel. Saya dan suami termasuk yang bersuara di keluarga mengajak mereka sebisa mungkin tidak mengkonsumsi produk-produk Israel.

Tidak terlalu berhasil. Karena ternyata saya tidak memberi contoh yang baik. Karena berselang seiring meredanya berita tentang Palestina ini, saya kembali kendor dan permisif mengkonsumsi produk Israel ini.

Apalagi ketika tinggal di Australia, dimana kami menemukan alasan “nggak ada alternatifnya”. Contohnya, kami bebas-bebas aja beli Coca-cola hampir tiap pekan. Dan baru berhenti ketika menyadari produk ini tidak baik untuk kesehatan…..dompet. Ya ya ya, saya tahu coke juga tidak baik untuk kesehatan badan.

Kini, berita boycott ini begitu gencar. Apalagi dibarengi dengan foto-foto anak Palestina yang dibantai begitu masif dan meluluhlantakkan hati sekeras apapun. Hingga rasanya tak ada alasan lagi untuk menunda ‘boycott thing’ ini selamanya. Ya, selamanya.

boycott

Memang nggak mudah, mengingat anak-anak sudah terlanjur menggemari ayam KFC. Dan Domino Pizza delivery dengan bonus beli 1 gratis 1-nya beberapa kali menjadi solusi mudah saat di rumah nggak masak.

Namun segalanya butuh perjuangan bukan. Ketika kita berharap anak-anak Palestina berhenti dibantai, saat ini boycott produk Israel adalah salah satu cara untuk mewujudkannya. Karena kita tidak sanggup berperang langsung. Apalagi, pengorbanan ini tidak seberapa dibanding jumlah nyawa yang telah melayang di sana.

Kembali ke dapur, adalah solusinya. Membuat pizza sendiri saat ingin makan pizza. Meninggalkan junkfood dan kembali ke healthy food. Masih banyak restoran Indonesia yang halal dan thoyyib jika jenuh makan di rumah. Proses boycott memboycott ini tentu tidak serentak semua, tapi bertahap. Intinya mengubah lifestyle, agar menjadi terbiasa. Bukan boycott musiman.

Semua proses ini bisa terjadi jika ada keyakinan pada diri sendiri. Bahwa kita bisa selagi kita yakin kita bisa. Insya Allah.

Share:

2 Comments

  1. Sterling Crossno
    April 7, 2016 / 8:54 am

    Artikel yang bagus om, jadi melek sekarang

    • Anne Adzkia
      April 18, 2016 / 9:03 pm

      Baiklah Tante #eehh

Leave a Reply

Your email address will not be published.