Hati Di Antara Dua Dunia

DSC_0763

Rockhampton Islamic Center

Hati di antara dua dunia, bukan di antara dua hati. Ini adalah catatan kecil perjalanan hati saya.

“Salah satu cara untuk menjaga kondisi ruhiyah tetap baik adalah dengan selalu berada di lingkungan yang kondusif”

Nasihat seperti ini pasti sering kita dengar. Tentu saja nasihat ini 100% benar. Karena sifat manusia yang sunatullah mudah tergoda lingkungan, maka berada di lingkungan yang baik adalah comfort zone kita.

Bayangkan saja, mana yang lebih mudah, sholat khusyu di masjid secara berjama’ah atau sholat munfarid di rumah saat suasana arisan? Tentu jawabannya yang pertama. Lingkungan yang kondusif akan membuat kita lebih tentram, fokus pada tujuan dan lebih terjaga dari godaan nafsu.

DSC_0029

MacKay Islamic Center

Namun, kita tidak bisa terus menerus berada di lingkungan masjid, atau selalu dikelilingi orang shalih, bukan? Kita harus bergerak ke luar, baik untuk menunaikan kewajiban atau sekedar menikmati alam. Pada akhirnya, lingkungan akan berubah dan tidak selamanya menyediakan apa yang kita butuhkan.

Berada dalam lingkungan yang berbeda inilah yang membuat kita harus berusaha lebih keras untuk menjaga diri dari terpaan godaan luar. Dan sejatinya, kondisi inilah yang akhirnya membuat kita kuat.

Saya ingin berbagi pengalaman berada dalam dua kondisi berbeda. Pertama, pengalaman ruhiyah saat saya tinggal di Tanjung, Kalimantan Selatan. Kota kecil ini (dan hampir semua daerah di KalSel pada umumnya) merupakan daerah yang sangat kental budaya keIslamannya. Kalau kita berjalan-jalan di sepanjang lintas provinsi, banyak kita lihat masjid-masjid megah di antara pemukiman penduduk yang amat bersahaja.

Tahu tidak, antrian ibadah haji provinsi ini adalah yang terpanjang dibanding kota lain di Indonesia, 23 tahun. Karena masyarakatnya lebih mengutamakan ibadah haji daripada membelanjakan uangnya untuk kebutuhan pribadi lain. Makanya, jangan heran melihat orang yang rumahnya amat sederhana tapi sudah pernah ibadah haji.

Suasana keseharian di Tanjung sangat unik. Pada jam-jam sholat (dzuhur, ashar, apalagi maghrib) toko-toko tutup karena pemiliknya shalat ke masjid. Shaf sholat jamaah di masjid tidak pernah sepi.

Masya Allah, berada di kota ini sungguh menenangkan dan membuat ibadah kita seharusnya lebih baik.

Setelah 3 tahun tinggal di kota yang terkenal dengan tambang Adaro-nya, saya pindah ke Emerald, Australia. Ini juga kota kecil, yang ternyata warga muslimnya tidak lebih dari 10 kepala keluarga. Tak ada masjid, tak ada halal butcher, tak ada komunitas Islam, apalagi pengajian rutin.

DSC_0079

kumpulan para bapak yang ba’da Shalat Idul Fitri

DSC_0076

jumlah yang sedikit tak menyurutkan langkah kami

Setiap Jum’at para lelaki menjalankan shalat Jum’at di hall gereja. Begitupun shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Tak ada libur hari raya, bahkan Ramadhan pun tak ada yang paham. Pemakai hijab di kota itu hanya saya (sebelumnya ada seorang warga asal Bangladesh, tapi kemudian pindah ke Melbourne).

Jika kami ingin ke masjid, kami harus mencapai 300 km ke kota Rockhampton atau lebih dari 500 km ke MacKay. Di sinilah kami bisa bertemu lebih banyak umat Muslim dari berbagai belahan dunia, menemukan toko daging halal dan sedikit menikmati sentuhan Islam.

Tapi bahkan, sebulan sekalipun tak mungkin harus mengunjungi kota ini, karena jarak yang cukup jauh. Sebisa mungkin, dalam jumlah yang sedikit, membuat sebuah wadah untuk bisa belajar ilmu Al Qur’an, via online.

Tantangan yang berat ini, ternyata membuat kami lebih kuat. Dalam kerinduan akan hadirnya masjid, kami usahakan menciptakan suasana masjid di rumah. Membaca Al Qur’an merupakan salah satu cara untuk membuat lingkungan lebih kondusif.

Tak tersedianya fasilitas keagamaan membuat kami ingin selalu dekat dengan Allah, menjaga ruhiyah dan terus mencari ilmu. Terasa sekali, saat itu, begitu banyak kajian yang saya cari meski hanya bisa diperoleh secara online. Banyak membaca buku dan website Islam. Berdiskusi bersama keluarga.

Masya Allah. Jika ketika di sana, saya begitu merindukan masjid, adzan, halaqah, majelis ta’lim, buku-buku Islam, kajian Al Qur’an dan sebagainya. Justru ketika kembali ke tanah air, dimana semua itu tersedia dalam jarak dekat, saya merindukan kondisi ruhiyah yang begitu terjaga, dekat dengan Al Qur’an dan rasa ingin tahu yang begitu dalam.

Bukankah seharusnya fasilitas ini dimanfaatkan? Ah, lagi-lagi, saya ingin melakukan pembelaan diri. Begitu dhaifnya diri ini, justru ketika semua tersedia, godaan kemalasan, fasilitas dunia yang tak kalah banyaknya, kebiasaan menunda-nunda justru mendera.

Dimana seharusnya saya berkata, “Maka nikmat dari Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan,” alih-alih, saya malah bersantai seraya mengucap syukur, namun tanpa tindakan yang nyata.

Manusia, hawa nafsu dan dunia. Disanalah saya berada.

Astaghfirullah.

Tangerang, 22 Ramadhan 1437 H

Share:

3 Comments

  1. July 27, 2015 / 4:33 pm

    dimanapun berada harus tetap menjaga ibadah ya

    • Anne Adzkia
      July 27, 2015 / 4:34 pm

      Hmmmm…iya. Meski tantangannya beda2.

  2. October 26, 2015 / 12:50 pm

    naturally like your web site however you have to test the spelling on quite a few of your posts.
    Several of them are rife with spelling problems and I to find it very bothersome
    to inform the truth then again I’ll definitely come back again.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *