Event dengan Konsep Zero Waste, Mungkinkah?

Event dengan Konsep Zero Waste, Mungkinkah?

Seiring dengan kepenatan dunia akibat aktivitas manusia – yang banyak efek positif dan negatifnya – ternyata masih banyak orang yang peduli untuk mempertahankan atau mengembalikan kondisi dunia menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.

Meskipun, kalau kita bandingkan, jumlah orang yang concern atau peduli dengan alam, tidak sebanding dengan jumlah orang yang tak peduli, bahkan cenderung merusaknya tanpa sadar.

Efek merusak paling banyak (ini hitungan menurut saya) dan paling lazim dilakukan manusia adalah menghasilkan sampah. Sampah yang dibuang di tempat yang benar saja, efek negatifnya banyak. Apalagi sampah yang dibuang sembarangan. Tentu efek pengrusakannya bisa berlipat-lipat.

Kini ada sebuah gerakan yang menamakan aktivitasnya sebagai Gerakan Zero Waste.

Zero Waste ini, bukan lagi membahas tentang membuang sampah yang benar, namun tentang bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari tanpa menghasilkan sampah. Atau paling tidak, sampah yang dihasilkan minimal (dalam hal ini sampah anorganik).

Mari kita lihat bagan lama proses dekomposisi sampah yang kita buang:

decomposition

lamanya sampah terurai berdasarkan jenisnya

Mengerikan, ya. Ini hasilnya penumpukan sampah yang terus menggunung setiap hari:

maladewa

contoh sampah di Maladewa

Kalau kita bisa memisahkan sampah organik dan anorganik, kita bisa membantu menyelamatkan bumi dari penumpukan sampah anorganik, sehingga sampah-sampah tersebut bisa didaur ulang. Selain itu juga, kita membantu pekerjaan mereka memilah-milah sampah.

pemulung

pemulung yang memilah-milah sampah di sebuah TPA

Nah, kembali ke tema yang akan saya tulis, yaitu tentang menerapkan aktivitas zero waste pada sebuah event.

Kalau kita mencermati sebuah event yang diikuti banyak orang, masalah paling besar di akhir acara adalah penumpukan sampah. Bayangkan, berapa kotak makanan yang digunakan, gelas-gelas plastik bekas minuman, botol air mineral, bungkus-bungkus penganan, kertas dan plastik dekorasi, sisa spanduk atau backdrop, kertas bekas dokumen, dan sebagainya.

Belum lagi makanan yang tidak dihabiskan dan remah-remah yang berserakan. Ini menjadi sebuah dilema tersendiri.

Membayangkan mengadakan acara dengan konsep zero waste mungkin menjadi solusi. Tapi pasti penuh tantangan. Karena konsep ini harus disepakati dan diikuti oleh semua yang ikut serta dalam acara tersebut.

Beberapa bulan yang lalu, saya dan teman-teman Klub Oase (komunitas keluarga yang anak-anaknya tidak sekolah) menjadi panitia Bincang Seru Homeschooling. Ini adalah acara pertama kami yang akan menggunakan konsep ZERO WASTE.

Sebelum acara dimulai, kami agak deg-degan mengingat kemungkinan gagalnya konsep ini dan akan menyulitkan peserta. Di awal acara, kami sudah melakukan sosialisasi bagaimana acara dengan minim sampah ini akan berjalan, seperti:

  1. Peserta yang memesan makanan wajib membawa kotak makan dan tumbler sendiri untuk wadah makanan dan minuman.
  2. Peserta yang membawa makan sendiri, disarankan tidak memakai wadah sekali pakai.
  3. Peserta membawa kantong belanjaan sendiri.
  4. Menyediakan tempat sampah sesuai karakteristik sampahnya, seperti sampah kertas/kardus pipih, organik (daun, sisa makanan, kulit buah, dsb), sampah untuk daur ulang yang bebas cairan (sisa cairan dibuang dulu di wadah yang disediakan), sampah non recyable (tisu, kertas kotor, sedotan,sachet, plastik bungkus, bungkus permen).
  5. Meminta peserta membuat name tag masing-masing menggunakan bahan bekas.
  6. Menyediakan galon air untuk isi ulang minum dan makanan yang hanya dibungkus dengan bahan organik seperti daun pisang dan disajikan prasmanan.
  7. Menyediakan bazaar yang sesuai konsep ini juga.

Kekhawatiran ini ternyata tidak beralasan, karena sepanjang acara berlangsung peserta kooperatif dan mereka juga sudah mengikuti petunjuk panitia untuk membawa alat makan yang bisa digunakan kembali.

nolsampah1

Foto: Moi Kusman

zerowaste

Foto: Klub Oase

Hasilnya, acara ini bisa minim sampah. Ini merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri, meskipun masih ada sampah yang dihasilkan. Namun  semua sampah ini sudah berada di kategori yang tepat dan akan memudahkan petugas venue mengelolanya.

Ini jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan oleh panitia seusai acara:

 

sampah binser3

Foto: Moi Kusman

 

sampah binser1

Sumber: www.jirowes.weebly.com

 

Kalau ingin membaca liputan lengkap kegiatan minim sampah saat BINSER lalu, bisa di blog jirowes ini.

Berangkat dari sini, hadir rasa optimis bahwa dalam event apapun, kita bisa membuat acara yang menggunakan konsep minim sampah. Termasuk camping.

Ya, camping termasuk acara besar, dan biasanya meninggalkan sampah yang cukup besar. Tantangan melaksanakan acara camping minim sampah bukan tanpa kendala, apalagi kebiasaan masyarakat yang menganggap “Camping Tanpa Mie Instant itu serasa kurang greget.”

Mie Instant. Penghasil sampah terbesar di area camping. Mie instant cup, selain menggunakan cup dari styrofoam yang jelas-jelas paling lama terurai oleh bumi, juga menggunakan bahan plastik sebagai pembungkus luar dan bungkus bumbunya. Mie instant bungkus juga demikian, banyak sampah plastik yang dihasilkan.

Mengingat hal itu, menjadikan mie instan sebagai makanan pokok para campers, sudah pasti perlu ditinjau kembali. Kita bisa kok camping tanpa mie instant. Boleh lah, sesekali. Dengan syarat, sampahnya dibawa pulang lalu dibuang ke tempat yang seharusnya atau lebih baik lagi, di daur ulang. Selain mie instant, makanan dalam kemasan lainnya juga harus diminimalisir.

Rasanya sedih melihat keindahan alam yang kontradiktif dengan sampah di hadapannya. Jangan sampai ini terjadi:

Foto dari Kabarkampus

Foto dari Kabarkampus

Kurang dari dua minggu lagi, saya dan beberapa teman Klub Oase kembali menjadi panitia kegiatan yang mengusung konsep minim sampah. Yaitu Festival Pendidikan Rumah (FESPER 2015). Dengan niat ingin menjaga lingkungan dan memulai kebiasaan baru yang baik. Concern acara ini diantaranya meminimalkan penggunaan makanan kemasan, tidak menggunakan wadah sekali pakai, tidak menggunakan detergen, memakai reusable lampin bagi bayi (clodi) dan menjaga lingkungan semaksimal mungkin.

It’s gonna be challenging, I suppose. Terutama bagi pemula seperti saya. Saya melihat peserta menunjukkan energi positif pada konsep ini. Semoga konsep Zero Waste kami berhasil dan lebih baik daripada saat event Bincang Seru sebelumnya.

Di Amerika dan beberapa negara, sudah banyak keluarga yang berhasil menerapkan zero waste selama bertahun-tahun di rumahnya. Keren banget, ya. Kalau orang lain bisa melakukannya setiap hari, kita pasti bisa juga. Apalagi hanya beberapa hari selama acara camping berlangsung.

Semoga kebiasaan ini akan berlanjut di rumah kita masing-masing.

 

Share:

9 Comments

  1. July 27, 2015 / 4:30 pm

    Meminimalkan sampah sedang mencoba nih mbak, kadang ke warung sebelah gak paai plastik

    • Anne Adzkia
      July 27, 2015 / 4:30 pm

      Iya mba. Ke pasar juga bawa keranjang besar.

  2. enci harmoni
    July 27, 2015 / 5:07 pm

    tiap keobyek wisata, saya selalu memotret sampah yang berserakan, rasanya miris banget…belum nemu nech mbak…tempat yang bener2 bersih yang pernah saya kunjungi…

    • Anne Adzkia
      July 27, 2015 / 6:27 pm

      Prihatin ya. Iya bener. Padahal tempat wisata Indonesia bagus2.

  3. July 31, 2015 / 1:57 am

    Setuju, Mbak, sampah adalah salah satu masalah besar yang kita hadapi. Kalau belanja ke supermarket, saya minta belanjaan dimskkan ke kardus. Kardus dipakai utk simpan buku 🙂

    • Anne Adzkia
      July 31, 2015 / 8:45 am

      Keren mbaaak. Ke supermarket ini masih PR besar buat saya. Banyak bgt plastik pembungkus sayuran, buah, dll.

  4. Pingback: Manusia dan Sampah
  5. July 15, 2016 / 6:28 am

    suka sama kegiatannya mbak, kita harus sudah melakukan zero waste itu, kemarin jadi tukang pungut sampah di acara halbil kantor, susah ngasih tau orang lain euy, untungnya ada yg bantuin juga

Leave a Reply

Your email address will not be published.