Driving Licence

Driving Licence

Setahun tinggal di Oz, saya masih mengandalkan SIM A Indonesia untuk mengemudi. Masih belum punya nyali untuk bikin Driving Licence Queensland. Konon, berdasarkan cerita teman-teman yang sudah melewati tes bikin SIMnya Oz ini, prosesnya nggak kelar dalam sekali kunjungan. Ada juga sih yang lulus tes dalam sekali ujian, tapi banyak yang nggak :p

Ujian driving licence ini nggak jauh beda dengan yang di Indonesia. Ada 2 tahap, tahap ujian teori dan ujian praktik. Katanya sih yang sulit itu ujian praktik. Karena penguji akan duduk di samping si pengemudi, dan pengemudi diminta nyetir berdasarkan instruksi penguji. Kalau giliran dapat penguji yang bawel dan tanpa ampun, sedikit kesalahan aja bisa bikin ujian itu nggak lulus. Nggak boleh tuh nyogok pake duit biar lulus. Apalagi pake kedipan mata aja. Hehehehe.

Aturan-aturan lalu lintas di Oz  berbeda dengan di Indonesia. Hampir tiap beberapa meter, pasti ada rambu lalu lintas. Nggak ada pengecualian apakah itu jalanan besar maupun jalan kecil. City, town maupun country. Bahkan di beberapa area terdapat speed camera yang akan meng-capture kendaraan yang melaju melewati speed limit.

Pertama kali nyetir, saya selalu deg-degan, takut bikin kesalahan. Karena kalau kesalahan kita itu tertangkap kamera bapak polisi, maka beberapa hari kemudian akan datang surat tilang ke rumah. Denda yang dikenakan juga lumayan gede.

Pernah, dalam perjalanan ke Brisbane, kami kena tilang karena melaju melewati speed limit ini =p. Entah, giliran siapa yang saat itu nyetir. Saya atau suami. Kami nggak nyadar kalo bikin salah. Tau-tau datanglah surat sakti itu, yang mengharuskan kami bayar denda sekitar AU$ 112. Kalau dirupiahkan, sekitar 1 – 1,2 juta rupiah.

Untuk alasan mahal juga, makanya pengemudi di Oz hati-hati untuk nggak melanggar aturan lalu lintas. Karena kalo udah kena tilang, nggak ada tuh ceritanya kita bisa pilih jalan damai atau nyogok polisi.

Kembali ke cerita SIM ini. Suatu kali pernah ada pemeriksaan alkohol di salah satu ruas jalan, hampir semua kendaraan diberhentikan untuk diperiksa apakah ada pengemudi yang mabuk lewat alkohol breath test. Saya sih tenang-tenang aja, nggak pake deg-degan untuk masalah alkohol ini. Tapi, saya deg-deg-an karena nggak punya SIM Australia. Ternyata, polisi nggak mempermasalahkan SIM yang saya punya. Dengan kata lain, SIM A Indonesia ditambah SIM Internasional cukup sebagai lisensi saya mengemudikan kendaraan pribadi.

sim

Pak Polisinya nggak tahu aja tuh, kalau SIM A saya ini dibuat dengan cara yang nggak standar banget. Bukan nembak, sih. Saya berusaha mengikuti prosedur yang diberlakukan. Hanya, ketika tes mengemudi, yang cuma dilakukan lewat ujian simulasi, polisi memberi saya tes motor. Dia kira saya mau bikin SIM C. Pantes, saya heran…tes-nya kok tentang motor semua. Saya nggak nanya. Pas dinyatakan lulus, tiba-tiba keluar notifikasi: ANDA LULUS UNTUK MENDAPATKAN SIM C. Gubrakk!

Saya pikir karena salah, saya akan diminta melakukan tes ulang. Ternyata tidak! SIM A saya selesai nggak lama kemudian. Hahahaha. Padahal, kalau aja saat itu ada tes praktik nyetir, saya pasti gagal dengan sukses. Saya belum bisa nyetir sama sekali. Bwahahahahaha.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *