Dalam Ruang Rinduku

Dalam Ruang Rinduku

cat1

Hati, maukah kau berhenti sejenak. Pelankan gemuruhmu. Aku mengerti, engkau tengah merindu. Tapi bukankan kerinduan adalah bunganya cinta. Cinta tanpa kerinduan bagaikan pohon yang tak kunjung berbunga. Bunga pun tak ada, apalagi buahnya. Bersabarlah, simpanlah rindumu tetap ada disana. Pupuklah jangan sampai dia sirna. Karena rindu itu yang akan membawamu bersua dengan sang kekasih.

Menjaga iman sama sulitnya dengan meraihnya. Iman tak akan menghampiri maupun tinggal dalam hati kita begitu saja tanpa kita mencari dan menjaganya.

Beberapa bulan yang lalu, ketika aku masih berada di tanah air, ketika jalan untuk mencari ilmu begitu mudah, ketika masjid-masjid begitu dekat, ketika tetangga bersisian masih seiman…seringkali aku terkena penyakit malas, lalai, lupa. Padahal begitu kondusifnya lingkungan menjaga.

Waktu begitu cepat berlari. Dunia seakan berputar. Kita tak pernah selalu berada di tempat yang sama. Tibalah aku disini, di sebuah negeri yang jauh dari hijaunya tanah kelahiranku. Tempat yang berbeda dengan asalku. Aku tak lagi menemukan masjid megah, bahkan surau dari bilik kayupun tak ada. Lantunan adzan yang biasa membangunkanku dari hangatnya dekapan selimut sudah tak lagi terdengar. Langkah-langkah kecil sambil berlarian dan berkejaran menuju masjid di saat Jum’at tak ada lagi dalam pandangan. Aku kehilangan duniaku.

Malas yang berulang kali mendera, berganti dengan kerinduan dan kehampaan. Aku tak mungkin lagi terlambat halaqoh, karena aku tak bisa menemukan kumpulan orang-orang bermajelis yang mengumandangkan keagungan Allah disini. Aku tak mungkin lagi malas ke masjid, karena tempat itupun tak sanggup kutemukan dalam semua sudut ruang kota ini. Aku tak mungkin lagi absen membina, karena jabat tangan dan peluk erat adik-adik binaanku tersayang tak pernah ada disini.

Semua yang kurindukan ada nun jauh disana, dibatasi sebuah ruang dan waktu. Aku hanya bisa mendekapnya dalam mimpi, yang kerap datang dalam tidurku. Wajah-wajah itu beberapa kali hadir, meski hanya berupa imaji.

Rindu, sebuah kata yang hanya sanggup kutuliskan dalam selembar kertas. Dan kuterbangkan bersama angin musim gugur. Yang entah akan membawanya kemana. Mungkinkah dia hadir di tangan mereka yang kurindukan? Mungkinkah? Aku masih menanti jawabnya.

Akhirnya, aku harus bisa menjaga iman ini sekuat dayaku. Salah satu harta paling berharga yang aku miliki, selain keluargaku. Tanpa masjid, tanpa halaqoh, tanpa jama’ah. Berjuang menciptakan oase dalam rumahku, diantara gurun pasir gersang yang gelap dan sepi. Harus bangkit sendiri setelah jatuh. Harus tetap mengapung dengan pelampung iman yang harus kutiup sendiri.

Ketika aku mampu bertahan, aku puas. Dan semua tetap terasa indah. Bahwa sejatinya Allah ada dimana-mana. Dan pertolongan Allah akan selalu ada selama kita menolong agama-Nya. Namun ada yang selalu berada di sini, di dalam ruang hati. Rindu itu. Rindu yang selalu mempunyai tempat tersendiri di dalam hatiku.

Emerald, April 2012

 

Catatan rindu saat dalam dahaga, saat belum kembali berjumpa dengan salah satu harta yang paling berharga. Kini, aku sudah kembali menemukannya, membasuh rinduku, kembali berjuang bersama Islam dan da’wah.

Share:

1 Comment

  1. March 18, 2017 / 2:58 am

    blognya keren, inspirasi banget buat saya yang mulai belajar ngeblog dan menulis. Terimakasih Bu 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *