Cinta Di Ujung Waktu

ttp

Malam merangkak semakin pekat. Tapi langkah-langkah kaki masih berderap memenuhi koridor yang terasa semakin sempit. Suasana di Rumah Sakit el-Syifa, kota Gaza memang tak pernah sepi. Tak mengenal jam tidur. Tak pernah istirahat.

Suara dari speakerphone terdengar nyaring memenuhi ruangan.

“Emergency call to Doctor Martin Sullivan to get to Emergency Room. Immediately!”

Suara itu berulang sebanyak tiga kali. Seseorang yang merasa namanya  dipanggil segera menanggalkan stetoskop dari telinganya, disampirkannya pada lehernya yang jenjang. Gegas menuju tempat yang disebutkan oleh suara alto dalam speakerphone tadi.

Namanya Martin Sullivan, MD., seorang dokter lulusan Harvard University, USA. Relawan yang tergabung dalam Medical Rescue Team for Humanity (MRTH), berkebangsaan Amerika.

Martin bergerak cepat, secepat yang dia bisa. Tak ada istilah lambat untuk situasi genting seperti ini. Sejenak, sebelum ditariknya pegangan pintu berbahan alumunium itu, dia menyentuh bahu seorang paramedis berseragam hijau.

“Ali, tolong sampaikan kepada dokter Hisyam, segera tangani pasien yang ada di koridor bangsal 13. Vulnus sclopetum, luka tembak di bahu sebelah kanan. Pasien compos mentis. Sudah dilakukan irigasi pada luka, perdarahan juga sudah teratasi. Tolong lanjutkan penanganan infeksinya sebelum masuk ruang operasi untuk pengambilan peluru,” ujar Martin cepat tanpa memberi kesempatan kepada lawan bicaranya untuk merespon. Yang diajak bicarapun tanpa menunggu langsung melesat mengikuti instruksi yang diberikan.

Dengan setengah berlari, Martin menyusuri koridor menuju Emergency Room di sisi barat Rumah Sakit. Kecepatan maksimal yang bisa diusahakannya, karena sulit bergerak lebih cepat diantara sesaknya manusia yang memenuhi setiap sudut Rumah Sakit terbesar di kota Gaza ini. Manusia-manusia baik yang bernyawa maupun yang tidak, tampak tergeletak sembarang di mana-mana. Bercampur tanpa sekat. Bau darah yang sudah tak asing lagi merebak memenuhi ruang udara, tanpa menyisakan sedikit saja tempat bagi udara segar bergerak.

Bagi Martin, semua sudah tak ada bedanya. Udara di dalam maupun di luar rumah sakit. Sama-sama bau kematian.

Empat bulan sudah dia berada di kota mati ini. Ya, Gaza adalah kota mati baginya. Tak ada kehidupan disana. Hanya ada wajah-wajah penuh duka dan luka. Itulah yang membuatnya tergerak untuk datang kesana dan meringankan beban penderitaan rakyat Gaza. Meskipun tak sedikit orang-orang di negaranya yang mendukung Zionis Yahudi untuk menindas bangsa ini, tapi tak menyurutkan sedikitpun langkahnya. Ini bukan lagi masalah rasial maupun agama. Tapi naluri kemanusiaan telah memanggilnya.

Martin memasuki Emergency Room yang tampak riuh dengan suara-suara kepanikan. Satu korban lagi baru saja tiba. Tampak beberapa orang paramedis sedang melakukan tindakan penyelamatan kepada tubuh yang tergeletak dan bersimbah darah itu.

“Dokter Sullivan!” seru salah seorang perawat senior sambil menjejeri langkah Martin. “Pasien wanita, datang 15 menit yang lalu. Usia kira-kira 25 tahun. Luka tembak di perut sebelah kanan. Syok hipovolemik. Somnolen, denyut nadi 120 kali/menit, tekanan darah 80/50 mmHG. Oksigen sudah terpasang dan usaha resusitasi masih dilakukan.”

“Baik. Siapkan alat CPR. Siapkan venanya untuk infus dextrose dan tranfusi darah.”

“Kerjakan, Dok.”

“Seberapa dalam luka tembaknya?”

“Kira-kira 6-8 cm, diperkirakan mengenai organ gaster, Dok.”

“Oke. Siapkan juga OK. Kita lakukan operasi cito begitu KU-nya sudah baik.”

“Baik, Dok.”

Martin beserta timnya segera melakukan penyelamatan pada wanita yang terkena luka tembak kira-kira 5 jam yang lalu itu. Kondisinya cukup kritis. Darah banyak yang hilang dari tubuhnya.

Beruntung Rumah Sakit ini memiliki dokter relawan secakap Martin. Dia bekerja dengan cepat dan akurat, namun selalu tampak tenang. Tak ada kepanikan diwajahnya. Dia bukan seorang muslim. Namun agama bukan alasan baginya untuk tidak menolong orang-orang yang menderita di bumi Palestina.

***

Martin melangkah mendekati tubuh yang terbaring tak bergerak. Berbagai selang melekat pada tubuhnya yang tersambung ke beberapa mesin yang berjajar disekelilingnya. Tubuh itu belum juga tersadar dari koma. Martin memeriksa kondisinya dengan seksama, lalu mencatat beberapa hal yang ditemuinya disana. Belum banyak perubahan sejak paska operasi dua hari yang lalu.

Kepala wanita itu terbalut kerudung. Kulitnya pucat. Sepertinya tak ada darah mengalir didalamnya. Namun dia tampak damai. Martin menatap wajah itu. Ada sesuatu yang membuatnya enggan beranjak dari sana.

Wajah itu. Sangat mirip dengan Jessica, in memoriam. Istri tercintanya. Ya, sangat mirip. Namanya Aisyah. Dia korban penembakan oleh tentara Zionis yang ditolongnya dua hari yang lalu. Operasi pengangkatan peluru yang sempat bersarang 5 jam di abdomennya itu berjalan lancar. Namun paska operasi kondisinya malah menurun. Hingga kini kondisinya belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Sosok Jessica seakan menjelma kembali dalam diri Aisyah. Hanya busana yang membedakan keduanya. Wanita dihadapannya meskipun dalam kondisi sakit, tubuhnya tetap tertutup rapat oleh busana muslimah.

“Oh, God.” Tiba-tiba Martin ingin memanggil nama Tuhan. Nama yang tidak pernah ada dalam hati dan lisannya. Namun kali ini, ujung lidahnya mengatakannya lirih. Sebersit kekaguman hadir tatkala semakin ditatapnya wajah itu dalam. Wajah yang putih bercahaya, terbungkus kesejukan dan ketenangan, meskipun dengan raga yang tanpa daya.

Kondisi Aisyah hampir sama seperti Jessica saat terakhir kali dia melihatnya. Dalam kondisi koma, Jessica terbaring di ruang ICU karena cidera kepala berat akibat kecelakaan mobil di Arizona. Sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

“God, please save this woman,” pinta Martin dalam do’anya. Sesaat dia merasa janggal sendiri. Dia baru saja berdoa.

Dua tahun yang lalu, Martin menyaksikan isterinya menghembuskan nafas terakhir di pelukannya. Operasi dan perawatan yang dilakukan di Rumah Sakit Arizona tidak membuahkan hasil. Tuhan memanggilnya begitu cepat, meninggalkan luka mendalam dalam hati Martin. Hatinya terlalu perih mengingat semua.

Kejadian itu seperti diputar ulang ketika Martin melihat Aisyah. Maka refleks dia berdoa untuk wanita itu. Berdoa agar wanita dihadapannya selamat. Dia hanya tak ingin deja vu yang dialaminya ini berakhir sama.

Setelah dipastikan seluruh peralatan yang digunakan untuk menopang kehidupan Aisyah bekerja dengan baik, Martin beranjak meninggalkan ruangan ICU tempat wanita itu dirawat. Raganya pergi dari tempat itu, namun dia meninggalkan sebagian jiwanya disana.

**

Aisyah terbangun. Dihadapannya terdapat hamparan rumput yang teramat luas. Dengan barisan bungan-bunga aneka warna di beberapa bagian. Sangat indah. Pemandangan yang tak pernah dia jumpai di Palestina.

Mendapatinya seorang diri di sebuah tempat yang demikian luas membuat Aisyah gelisah. Tempat apakah ini? Dimana? Dicobanya melangkahkan kakinya pelan. Uuuuuh, terasa sangat berat. Kaku dan kebas. Seakan bertahun-tahun tak digunakan.

Dipaksakan kakinya untuk terus melangkah, meskipun dengan menyeretnya perlahan. Dia harus mencari seseorang untuk bertanya. Dan bukan pada rumput yang bergoyang. Selama lebih dari 30 menit Aisyah berjalan tanpa arah, tampak seketika di hadapannya seseorang berbalut jubah putih. Wajahnya luar biasa cantik. Cahaya memancar dari setiap bagian tubuhnya. Jilbab sutera panjang tergerai menyapu tanah yang mereka pijak.

“Assalamu’alaykum…,” sapa Aisyah.

Sosok yang disapa tersenyum, seraya mengucap, ”Wa’alaykumussalam warahmatullah.”

“Bolehkah aku bertanya, tempat apakah ini? Dimana aku sedang berada?”

“Sayangku, kau sedang berada di Taman Cinta. Taman yang menyediakan berjuta kebahagiaan.”

“Mengapa aku berada disini?”

“Kejadian beberapa hari yang lalu membawamu kesini. Ragamu kini sedang terbaring di sebuah ruangan Rumah Sakit. Tak bergerak. Allah mengizinkan aku untuk mengajakmu kesini, melihat Taman Cinta ini.”

“Siapakah engkau?”

“Aku penjagamu, yang selama ini menemanimu menjalani masa hidupmu di dunia. Kini aku membawamu kesini untuk sebuah tujuan. Untuk memperlihatkanmu sebuah dunia yang belum pernah kau singgahi sebelumnya. Namun mungkin akan menjadi rumah masa depanmu.” Sosok berjubah putih itu kembali tersenyum pada Aisyah, kemudian melanjutkan perkataannya,” Aku akan menyampaikan sebuah pesan untukmu. Pesan ini adalah amanah.”

“Amanah apa?”

“Sebentar lagi kau akan kedatangan seorang tamu. Orang yang belum kau kenal sebelumnya. Dan amanah ini harus kau sampaikan padanya. Kau akan menjadi jalan hidayah baginya.”

Aisyah masih belum mengerti semua penjelasan itu.  Apakah maksud dirinya akan menjadi jalan hidayah bagi seseorang? Siapakah orang itu?

“Kau mengatakan ini adalah taman dengan berjuta kebahagiaan. Apakah aku akan terus berada disini?”

“Tidak, Sayang.”

“Mengapa?”

“Tidak sampai kau menjalankan amanahmu.”

Usai mengucapkan kalimat terakhir itu, sosok berjubah putih tiba-tiba berubah menjadi cahaya dan menghilang. Aisyah merasakan tubuhnya sangat ringan. Kemudian dia kembali tak sadarkan diri.

**

Martin  sibuk dengan pekerjaannya. Korban-korban serangan Zionis Yahudi terus berdatangan. Sebagian besarnya wanita, anak-anak dan orang sipil. Mereka tak hanya menjadi korban penembakan senjata api, namun ada juga korban yang tertimpa reruntuhan bangunan, pecahan martir bahkan paparan zat kimia kaustik.

Seperti seorang bocah dihadapannya. Luka bakar bahan kimia menyelimuti seluruh wajah dan sebagian tubuhnya. Bocah itu yatim piatu. Selama dia berada dalam perawatan rumah sakit, tak ada seorangpun yang menjenguknya. Mungkin seluruh keluarganya telah meninggal dunia.

Martin menarik nafasnya dalam-dalam. Nuraninya bergejolak. Menyaksikan pemandangan-pemandangan yang memprihatinkan itu sungguh membuat hati teriris. Mendadak dia menjadi orang yang mudah tersentuh dan gampang menangis. Padahal sebelumnya dia dikenal sebagai dokter yang cukup keras hatinya. Ini pula yang membuatnya menjadi delegasi Medical Rescue Team for Humanity (MRTH) karena dianggap berani melakukan tindakan-tindakan operatif radikal.

Tapi siapapun yang melihat betapa penderitaan rakyat Palestina pasti akan tersentuh jiwanya. Kecuali orang-orang yang telah tertutup mata dan hatinya. Martin merasa bersyukur diberi kesempatan berada di tempat itu. Tempat itu tak hanya melunakkan hatinya yang keras, tapi juga membuatnya banyak bersyukur. Bersyukur atas segala kenikmatan yang selama ini dia rasakan. Dia melihat, bocah-bocah Palestina yang terlahir dalam keadaan perang, lalu tumbuh dan berkembang dalam suasana perang, belum pernah merasakan kemerdekaan seperti yang dia rasakan sepanjang hidupnya.

Diliriknya Swiss Army yang melingkar di pergelangan kanannya. Sudah waktunya visite pasien rawat inap. Gegas, dia menuju nurse station, berbicara beberapa patah kata dengan perawat yang sedang berjaga disana lalu kembali meninggalkan tempat itu. Kali ini dia berjalan bersama seorang perawat wanita Palestina yang membawakannya beberapa berkas medical record pasien yang akan diperiksa.

Kunjungan pertamanya adalah ruangan ICU tempat Aisyah berada. Sesaat sejak kakinya mulai menjejak memasuki ruangan penuh peralatan medis itu, jantungnya berdegup lebih cepat. Suasana hatinya terasa berbeda.

Pun ketika dilihatnya sebuah wajah putih berbalut jilbab broken white, suasana hati itu yang menurutnya asing itu semakin terasa dan tak mampu dia terjemahkan. Martin menyembunyikan kegugupannya dengan sibuk memeriksa kondisi Aisyah.

“My goodness,” serunya.

“Ya, Dokter,” sahut perawat yang mendampinginya.

“Kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Pernafasannya sudah mendekati normal. Begitu pula dengan nadi dan tekanan darahnya. Tapi dia belum tersadar dari koma.”

“Betul, Dok. Luka post-opnya juga baik, walaupun belum kering benar.”

“Bagus. Teruskan dosis antibiotik intravena-nya. Tolong dicatat suhu, tensi dan nadinya tiap jam. Besok pagi saya lihat lagi perkembangannya.”

“Baik, Dok.”

Martin meninggalkan ruangan itu, sambil tak lupa meninggalkan sebagian jiwanya disana. Dia ingin terus menjaga wanita itu meskipun raganya tidak menemaninya.

Aisyah. Nama itu kini selalu berada di benaknya. Tak bisa dia singkirkan. Entah kenapa. Padahal dia sama sekali belum mengenal wanita Palestina itu. Tapi Martin merasa hatinya telah tertaut pada Aisyah.

Apakah karena Aisyah telah mengingatkannya pada Jessica? Apakah Martin berharap Jessica hadir kembali dalam kehidupannya? Rasanya bukan. Sebab Martin merasakan sesuatu yang lain ketika dia berada di sisi Aisyah, yang tidak pernah dia rasakan ketika bersama Jessica.

**

Ini adalah kunjungannya yang ke delapan. Seminggu sudah Aisyah terbaring tak sadarkan diri di ruang ICU. Pengobatan demi pengobatan, meskipun dengan peralatan yang lebih sederhana daripada yang biasa dia gunakan di Arizona, tetap diberikan untuk menopang hidup Aisyah. Martin optimis. Wanita itu akan bertahan. Dia akan melihatnya tersenyum.

Hari itu adalah off day-nya. Tidak ada jadwal visite-nya ke ruangan Aisyah. Tapi Martin selalu menyempatkan diri kesana, paling tidak sekali dalam sehari. Mengobati rindunya akan wanita Palestina itu.

Martin duduk di samping ranjang, Aisyah masih tergolek tanpa daya. Bunyi beep dari alat Doppler disampingnya terdengar. Selain itu hening. Diraihnya tangan putih pucat milik Aisyah. Dia tahu Aisyah seorang muslimah, dan dalam Islam tidak diperkenankan laki-laki dan perempuan non muhrim untuk bersentuhan, begitu Martin pernah mendengar. Tapi Martin tak peduli.

Toh Aisyah tak tahu, pikirnya.

Digenggamnya tangan itu erat. Dan ditatapnya wajah Aisyah dalam-dalam.

“Aisyah, namaku Martin. Aku adalah dokter yang merawatmu selama kau dirawat disini. Izinkan aku menemanimu. Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Aku tahu engkau mungkin bisa mendengarku dari sana dan memprotes tindakanku ini. Tapi tolong maafkan atas kelancanganku.” Martin berhenti sejenak. Diambilnya setangkai bunga imitasi dari kantung belakang celananya. Tentu saja imitasi, karena tak ada mawar atau bunga-bunga lain bisa tumbuh dan selamat di tanah para syuhada ini.

Bunga itu dia letakkan di telapak tangan Aisyah, lalu Martin meletakkan kembali kedua tangan itu seperti semula. Ditarik nafasnya dalam-dalam. Ragu, dia mencoba mengucapkan sebuah kalimat. Dengan terbata, dia coba menggerakkan lidahnya yang mendadak kelu.

“Aisyah, andai Tuhan mengizinkanmu untuk hidup, aku ingin menjadikanmu sebagai istriku.”

Ya, lepas sudah. Kalimat itu sudah berhasil dia ucapkan. Sungguh sesuatu yang diluar logika manusia. Bahkan nyaris gila. Martin mencintai wanita yang baru ditemuinya beberapa hari lalu. Wanita yang belum dia kenal. Bahkan berbincang pun belum pernah. Tapi Martin mantap. Malaikatpun mencatat kejadian pada hari itu dan membawa kabarnya ke seluruh penduduk langit.

**

Suasana pagi di Rumah Sakit El-Syifa tak banyak berubah. Kepanikan tak mengenal waktu. Tak memberikan kesempatan tim medis dan paramedis beristirahat menikmati hangatnya sinar matahari pagi dengan ditemani secangkir teh hangat dan koran pagi. Mereka terbiasa tidak tidur malam. Hingga tak menyadari hari telah berganti.

Martin pun demikian. Fisiknya tampak lelah. Semalaman korban terus berdatangan. Dan dia baru saja melakukan tindakan amputasi pada sepasang kaki pejuang Palestina yang terkena ranjau darat tentara Zionis. Dia butuh istirahat. Tapi tak mungkin. Tenaga dokter di Rumah Sakit itu tak banyak, tak sebanding dengan jumlah pasien yang harus segera diberi pertolongan.

Mungkin tidur singkat barang 5 – 10 menit cukup mengusir kantuknya ditambah secangkir kopi pahit. Tapi baru saja dia akan memejamkan matanya, sebuah panggilan dari rekan sejawatnya membatalkan niatnya.

“Martin, segera ke ruang ICU sekarang!” seru Ahmed, salah seorang dokter relawan berasal dari Turki.

“Ada apa? Ini tentang Aisyah? Dia kenapa?”

“Kau kesanalah dulu.”

“Baik. Aku segera kesana.”

Gegas Martin menuju ruang ICU tempat Aisyah dirawat. Seorang perawat tengah bersamanya, baru saja melepaskan sebuah sphygmomanometer dari lengan kanannya. Martin mendekati wanita itu. Dia masih terbaring disana, lemah. Martin mengamati dengan seksama wajah itu. Ada yang bergerak. Ya, mata wanita itu tampak sedikit bergerak.

Perawat yang sejak tadi menemani Aisyah tersenyum. Lalu pergi meninggalkan ruangan, membiarkan Martin yang masih takjub dengan perubahan yang terjadi pada Aisyah. Ya, kesadaran Aisyah mulai pulih. Sedikit demi sedikit. Martin menangkap ada reaksi di pupilnya terhadap cahaya, meskipun mata itu belum membuka sepenuhnya.

“Aisyah… Aisyah.” Diletakkan punggung tangannya di kening wanita itu. Terasa hangat. Seperti merespon terhadap panggilan Martin, jari-jari tangan Aisyah bergerak selama beberapa detik. Martin menangkap pergerakan tangan itu. Namun kali ini dia tidak berani menggenggam tangan Aisyah.

“Aisyah,” panggilnya sekali lagi. Atas kuasa Allah, kelopak mata Aisyah perlahan membuka. Pandangannya masih buram. Dia tak mengenali wajah yang ada dihadapannya, namun suara panggilan itu tertangkap di telinganya. Aisyah kenal dan akrab dengan suara itu. Suara yang beberapa hari terakhir kerap menemaninya, dan terekam dalam memori alam bawah sadarnya.

“Aaa…….” Kali ini adalah suara milik Aisyah. Dia mencoba mengucapkan sesuatu.

“Aisyah, kamu sudah sadar setelah satu minggu koma. Tentara Zionis telah menembakmu dan meninggalkan dua butir peluru bersarang di perutmu. Peluru itu telah kami keluarkan. Tapi setelah itu kamu koma.”

“Aaa… aaa…”

“Aku dokter Martin Sullivan. Aku yang bertanggung jawab atas kesehatanmu. Aku sangat bahagia melihatmu pulih. Moment ini sangat aku nantikan.” Martin melepaskan beberapa peralatan yang dirasanya sudah tidak dibutuhkan lagi oleh Aisyah. Kondisi kesehatan Aisyah sudah 50% membaik. Dia hanya perlu mendapat pengobatan untuk lukanya.

“Baiklah Aisyah. Istirahat, ya. Tidurlah agar kesehatanmu lebih baik lagi. Nanti aku panggilkan perawat untuk menjagamu disini. Sementara aku harus kembali bekerja. Aku harus menangani pasien lain yang kondisinya lebih gawat. Beberapa jam lagi aku akan memeriksa keadaanmu lagi.”

Bibir Aisyah tampak seperti menyunggingkan sebuah senyuman. Seperti sebuah ucapan terima kasih. Martin mengangguk dan membalas senyuman itu. Kemudian dia beranjak dari sana, digantikan oleh seorang perawat wanita yang akan menjaga Aisyah.

Kini langkah Martin terasa lebih ringan. Ada binar kebahagiaan di matanya. Dan cinta.

“Aku akan melamar wanita itu. Aku sudah mantap dengan keputusan ini. Bahkan jika dia menolakpun, aku sudah mantap. Yang penting semua isi hati telah aku utarakan padanya.” Martin bergumam pada dirinya sendiri.

Sementara sepeninggal Martin, kondisi Aisyah semakin baik. Seluruh jari-jarinya sudah dapat digerakkan. Juga beberapa kata telah berhasil dia ucapkan. Terutama kata Allah.

**

Surat itu baru saja diterimanya. Dibawa oleh tim relawan Amerika yang baru tiba di Palestina, yang akan menggantikan posisinya. Surat itu mengatakan masa tugasnya di Gaza segera berakhir. Dan kapal Ellmira yang akan membawanya kembali ke Amerika bertolak tiga hari yang akan datang. Waktunya tak banyak untuk membereskan sisa pekerjaannya di Rumah Sakit el-Syifa. Terutama tugas yang menyangkut masalah hatinya.

Martin terlanjur menambatkan hatinya di Gaza, hingga dia enggan kembali ke tempat asalnya. Wanita yang dicintainya berada disini. Tapi tugas adalah tugas. Pekerjaan lain tengah menantinya di Amerika. Namun dia tak akan sanggup meninggalkan Gaza sebelum segenap rasa yang mengendap di hatinya dia ungkapkan.

Tak ada waktu lagi. It’s now or never, Martin.

Berdebar Martin memasuki ruangan itu. Aisyah masih berbaring disana. Kini dia sudah bisa menyambut kedatangan Martin dengan senyuman. Berusaha dikumpulkannya kekuatan hatinya. Detik-detik ini akan menjadi sejarah untuknya. Dan dia siap dengan segala resiko yang akan terjadi.

“Aisyah, apa kabar?” sapa Martin gugup.

“Alhamdulillah…,” jawab Aisyah, masih terdengar lemah.

“Senang melihatmu lebih baik, Aisyah. Sejak awal merawatmu, aku tahu kau adalah wanita tegar. Dan aku yakin kau akan melewati masa kritismu. Tuhan telah mengabulkan do’aku.”

“Do’a?”

“Ya. Aku ingin kau selamat.”

“Terima kasih, Dokter.”

“Well, aku bisa pulang dengan tenang kalau begitu.”

“Pulang?”

“Tiga hari lagi aku akan kembali ke negaraku. Tugasku disini telah berakhir. Tim dokter penggantiku telah tiba.” Martin menghentikan ucapannya. Sesaat dia mematung. Mungkin ini saat yang tepat baginya untuk mengutarakan isi hatinya kepada Aisyah. “Emmm, Aisyah…?”

“Ya.”

“Sebelum aku pulang, bolehkah aku menyampaikan sesuatu. Mungkin ini terdengar mustahil bagimu, karena kau sama sekali belum mengenal siapa aku. Begitupun aku, belum mengenalmu secara pribadi kecuali menyaksikan tubuh lemahmu selama dirawat disini. Tapi ada sesuatu yang singgah di hatiku sejak pertama melihatmu. Dan semakin sering melihatmu, rasa itu terus tumbuh tanpa bisa kucegah. Aku mencintaimu, Aisyah. Dan sebelum kepulanganku ke Amerika aku ingin menikahimu.”

Aisyah terkejut mendengar kalimat terakhir dokter Martin. Namun seperti ada sesuatu yang membisikinya, Aisyah teringat akan mimpinya beberapa hari yang lalu. Tentang amanah untuk menjadi jalan hidayah bagi seseorang. Sesaat Aisyah bingung.

“Dokter Martin, mengapa kau mencintaiku? Sementara keadaanku sangat tidak memungkinkan untuk bisa menjadi seorang istri yang baik. Bahkan mungkin saja aku tak dapat menemani di sepanjang usiamu.”

“Tidak Aisyah. Kondisimu sudah cukup baik. Kau akan sehat kembali seperti sedia kala. Aku akan menjemputmu kembali kesini, dan membawamu ke Amerika. Kita akan terus bersama Aisyah. Waktuku tak banyak. Aku harap kau menerimaku, meskipun ini pasti teramat sulit bagimu.”

“Aku.. aku belum sanggup menjawabnya, Dokter. Ini… ini terkait keyakinan kita. Anda tahu, saya seorang muslimah. Aku tidak tahu, apakah Anda juga…”

Kedua kaki Martin mendadak lemas. Keringat dingin mengaliri punggungnya. Kedua lengannya bergetar. Begitu pula bibirnya.

“A… aku tahu Aisyah. Emm.. selama aku berada disini, aku melihat begitu banyak penderitaan bangsamu. Aku juga banyak berinteraksi dengan dokter dan perawat muslim. Dan aku kagum dengan mereka. Sungguh kalian adalah orang-orang yang luar biasa. Sering aku mendengar beberapa dari kalian membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Bersamaan dengan itu pula aku hatiku bergetar tiap kali mendengarnya. Dengan menikahimu, akan semakin menguatkan tekadku untuk memeluk Islam, Aisyah.”

“Apakah kau sungguh-sungguh dengan hal ini, Dokter?”

“Ya. Aku bersungguh-sungguh. Aku ingin menjadi seorang muslim. Dan aku juga ingin menjadi suamimu.”

Subhanallah, tak kusangka dokter Martin akan menyampaikan permintaan seperti ini. Permintaan yang sangat sulit untuk kupenuhi. Apalagi dia membutuhkan sebuah jawaban yang begini cepat. Paling tidak aku harus berpikir dahulu. Karena menikah adalah hal penting dalam hidupku. Batin Aisyah dipenuhi gejolak. Tapi kemudian dia teringat sesuatu.

Ya Allah, mungkinkah ini pesan dari mimpi itu? Amanah yang harus aku tunaikan. Jikalau ini memang takdirku, aku rela. Aku tahu waktunya tak banyak, begitu pula dengan waktuku.

”Dokter Martin, waktuku di dunia mungkin tak lama. Mungkin esok, bulan depan atau tahun depan aku sudah kembali pada Yang Maha Kuasa. Di rentang waktu yang sempit ini aku ingin membuat akhir yang baik dalam hidupku. Salah satunya adalah menjadi jalan hidayah bagimu. Insya Allah, aku siap menjadi istrimu.”

“Thanks God… emmm, Alhamdulillah. Bersediakah kau menikah denganku saat ini juga, Aisyah? Aku akan memanggil dokter Hisyam untuk menjadi penuntun ke-Islaman-ku, sekaligus menjadi penghulu pernikahan kita. Juga rekan-rekan sejawat lainnya akan menjadi saksi. Bagaimana dengan wali nikahmu? Dimana ayahmu?”

“Insya Allah aku siap. Tapi aku sudah tak mempunyai siapa-siapa lagi disini. Aku tak mempunyai wali.”

“Mungkin dokter Hisyam akan membantu. Terima kasih Aisyah. Terima kasih telah bersedia menjadi pengantinku. Aku akan memanggil rekan-rekan untuk menjadi saksi perjanjian suci kita.”

Aisyah tersenyum menyaksikan dokter Martin melesat keluar, dan membiarkan bulir-bulir airmata mengalir di pipinya. Waktunya akan segera tiba. Tak lama lagi.

Tak sampai satu jam kemudian, dokter Martin Sullivan kembali bersama beberapa orang rekan sejawatnya yang akan menjadi penghulu, wali, dan saksi atas dua kejadian bersejarah dalam hidupnya. Ikrar syahadat yang akan diucapkannya untuk memulai hidup barunya sebagai seorang muslim, serta ikrar ijab qabul yang akan membuka lembaran baru dalam hidupnya menjadi suami bagi Aisyah binti Al-Fatih.

Malaikat hadir dan mencatat dua peristiwa hari itu, serta membawa kabarnya kembali kepada seluruh penghuni langit. Kemudian seluruh penghuni langit berdoa kebarakahan atas dua insan yang tengah mengikat sebuah perjanjian besar itu.

Martin bahagia. Begitu pula Aisyah. Kini keduanya telah sah sebagai suami istri. Dan Martin bisa kapan saja menggenggam tangan Aisyah. Bahkan memeluk dan menciumnya.

Waktu mereka sebagai pengantin baru hanya tiga hari. Karena Martin akan segera kembali ke Amerika. Namun dia berjanji akan segera kembali ke Gaza dan memboyong Aisyah bersamanya.

“Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bisa menemanimu sampai kau benar-benar sembuh. Insya Allah dokter Diana, penggantiku akan merawatmu hingga kembali sehat dan siap ikut bersamaku ke Amerika.”

“Aku pun minta maaf, Sayang. Dalam pertemuan kita yang singkat ini aku tidak bisa menunaikan tugasku sebagai istri. Melayani kebutuhanmu lahir dan batin.”

“Tak apa. Kondisi ini meminta kita untuk senantiasa bersabar. Aku yakin kau juga bisa melakukannya di tengah perjuangan negerimu.”

“Aku sudah siap dengan segala sesuatu yang terjadi di kehidupan kita. Baik ataupun buruk. Waktu kita di dunia tak lama. Jika tak kita manfaatkan untuk berjuang, maka sia-sialah waktu yang tersisa itu. Lanjutkan perjuanganmu di Amerika, sayang. Aku pun akan melanjutkan perjuanganku disini. Aku titipkan cintaku pada Allah, Sang Pemilik dan Penggenggam Cinta.”

“Aisyah, memilikimu bagaikan memiliki seluruh dunia dan akhirat.”

“Begitupun aku, Sayang.”

Martin memeluk istrinya erat, seakan tak rela melepasnya. Meskipun dengan berat hati harus dilepaskan istrinya itu, karena waktu keberangkatannya segera tiba. Seluruh tim relawan yang datang bersama Martin segera bersiap kembali ke Amerika, sementara tim relawan baru juga telah siap memulai aktivitas mereka di Gaza.

Di akhir pertemuan mereka, Martin dan Aisyah berpelukan dalam tangis. Waktu yang terlalu singkat bagi sepasang pengantin baru ini untuk saling berbagi cinta. Sementara jarak dan waktu akan memisahkan mereka, hingga kelak atas izin Allah mereka akan dipertemukan kembali.

Mereka berpisah dalam diam. Tak sanggup banyak berkata-kata, pun mengucapkan kata perpisahan. Hanya do’a terucap di hati mereka.

Take care, honey. Kutitipkan hatiku padamu. Sampai waktunya kita bertemu kembali,” ucap Martin sebagai kata terakhirnya.

“Semoga Allah menjagamu, menjaga kita. Mengumpulkan kita kembali di tempat pilihan-Nya,” balas Aisyah.

Martin mengecup kening Aisyah, wanita yang baru tiga hari dinikahinya, dengan lembut. Aisyah berusaha tegar melepas kepergian suaminya. Amanah itu telah dia tunaikan. Dan usai sudah tugasnya disini, karena janji Allah akan segera menjemputnya.

**

Epilog:

Kapal Ellmira tiba di pelabuhan Los Angeles, California, Amerika Serikat setelah menempuh perjalanan panjang membelah lautan. Tim relawan melanjutkan perjalanan dengan pesawat charter menuju negara bagian Arizona.

Sebuah pesan singkat dari sahabatnya di Gaza, diterima Martin begitu dia tiba di markas Medical Rescue Team for Humanity (MRTH) kota Phoenix, Arizona.

Assalamu’alaikum Sahabatku,

Dengan berat hati kusampaikan kabar ini. Beberapa hari setelah kepergianmu, kondisi Aisyah memburuk. Luka pasca operasinya mengalami infeksi, dan dengan cepat menyebar ke organ dalam di sekitarnya. Kami sudah berusaha menolong semaksimal mungkin, namun infeksinya menyebar sangat cepat melalui pembuluh darah. Kemarin Aisyah meninggal dunia akibat sepsis. Maafkan kami, Sahabat.

Teriring do’a kami untuk mengantarkan kepergian almarhumah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dan semoga engkau diberikan ketabahan yang berlipat ganda.

Wassalam,

Dokter Hisyam Abdul Fattah

 

***

End-notes:

  1. Compos mentis : kondisi kesadaran pasien, dimana pasien sepenuhnya sadar dan memberi respons yang adekuat terhadap semua stimulus/rangsangan yang diberikan.
  2. Somnolen : pasien tampak mengantuk, selalu ingin tidur. Tidak memberikan respons terhadap stimulus ringan, namun berespons pada stimulus keras kemudian tidur kembali.
  3. Coma/koma : pasien tidak bereaksi terhadap semua stimulus, refleks pupil terhadap cahaya negatif. Termasuk tingkat kesadaran yang paling rendah.
  4. Syok hipovolemik : suatu keadaan serius yang terjadi jika sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) tidak mampu mengalirkan darah ke seluruh tubuh dalam jumlah memadai; syok hipovolemik terjadi akibat volume darah yang rendah (misalnya karena perdarahan hebat atau dehidrasi).
  5. Resusitasi : suatu usaha mengembalikan fungsi pernafasan atau sirkulasi, akibat berhentinya nafas atau denyut jantung yang datangnya tiba-tiba oleh sebab tertentu.
  6. CPR : Cardio-pulmonum Resusitation (Resusitasi Jantung Paru).
  7. Gaster : lambung.
  8. Cito : segera.
  9. OK : ruangan operasi/bedah.
  10. KU : Keadaan umum, dimana fungsi kesadaran, denyut nadi, pernafasan, tekanan darah dalam keadaan normal.
  11. Abdomen : perut.
  12. Antibiotik intravena : obat-obatan untuk membunuh bakteri yang diberikan dengan cara injeksi ke dalam pembuluh darah.
  13. Visite : kunjungan dokter ke ruang perawatan pasien Rumah Sakit.
  14. Sphygmomanometer : alat pengukur tekanan darah / tensi meter.
  15. Sepsis : penyebaran bakteri penyebab infeksi sudah meliputi hampir ke seluruh bagian tubuh dan dapat menyebabkan kematian.
Share:

3 Comments

  1. ayanapunya
    March 24, 2013 / 4:10 am

    bagus teh anne 🙂

    • anneadzkia
      March 24, 2013 / 4:30 am

      Thanks, Antung. Ini cerpen yg utk Tribute to Palestine dulu banget..

  2. iwan
    April 18, 2013 / 8:50 am

    izin ngedonlod cerpennnya ya , Mbak Anneadzkia. syukran

Leave a Reply

Your email address will not be published.