Lara Hati Lara [bag. 1]

Maraboon Cafe, Bandara Soekarno-Hatta, Banten

“Laraaa, pakabar?” Sebuah suara dalam jarak radius 5 meter terdengar jelas dari tempat Lara duduk di sebuah cafe mungil di Bandara.

“Baik, Vin.” Gadis bernama Lara itu berdiri dan menyambut temannya dengan sebuah pelukan hangat dan erat. “Kamu gimana? Apa kabar? ”

“Baik, Ra. Aku baik, Cuma tambah gendut aja.” Keduanya tertawa.

“Ah, kamu nggak gendut, Vin. Justru tambah cantik. Dulu kamu terlalu kurus, aku sering khawatir kamu terbang terbawa angin saking kurusnya.” Suara tawa kembali menghiasi percakapan dua sahabat yang sudah tak berjumpa itu sekian waktu itu.

“Ah, kamu. Eh, kamu kok malah kurusan, sih. Wajahmu juga agak pucat. Lagi sakit?”

“Ah, nggak. Aku sehat-sehat aja.”

     “Masa sih. Aku kan dokter, Ra. Aku bisa membedakan mana wajah yang sehat dan pucat karena sakit. Coba sini, kulihat sebentar sclera-mu.” Vina memeriksa kelopak bagian bawah mata Lara. “Tuh kan, sclera kamu tampak pucat. Anemis. Kamu lagi sakit, atau mungkin kurang istirahat, ya?”

“Mungkin yang kedua lebih tepat, Vin. Aku memang sedikit kecapekan.”

“Ya, sudah. Kamu harus banyak istirahat dan banyak makan. Terutama makanan bergizi dan yang banyak mengandung vitamin dan zat besi. By the way, kamu kok pagi-pagi udah nongkrong di cafe Bandara? Mau terbang? Atau kamu memang kerja di Bandara?”

“Bukan keduanya, Vin. Ceritanya panjang. Kapan-kapan deh aku ceritain, ya. Kamu sendiri mau ngapain?”

“Aku mau ke Surabaya, Ra. Ada seminar kedokteran di sana.”

“Kamu sekarang udah sukses, ya, Vin. Udah jadi dokter. Kamu praktik di Rumah Sakit mana?”

“Aku kerja di Puskesmas, Ra. Melayani masyarakat. Lalu sorenya aku praktik di rumah. Kecil-kecilan aja, kok. Membantu tetangga sekitarku yang sakit.”

“Kamu hebat, Vin. Sejak dulu aku bangga sama kamu.”

“Biasa aja, kok. Oh ya, maaf banget aku nggak bisa ngobrol sama kamu sekarang. Kita tukeran nomor HP ya. Kamu hutang cerita sama aku, kalau nanti kita ketemuan lagi sepulang aku dari Surabaya.”

“Ya, Vin. Nanti aku ceritain.”

Usai saling bertukar nomor telepon, Vina pamit untuk mengejar penerbangannya yang sebentar lagi berangkat. Sementara Lara, kembali duduk di cafe tersebut, malanjutkan rutinitas yang telah dilakukannya selama berminggu-minggu di tempat yang sama.

***

Maraboon Cafe, Esok Paginya

“Selamat pagi mbak, Lara. Udah datang aja nih, pagi-pagi. Mau pesan apa?” Seorang pelayan di Maraboon Cafe menyapa Lara. Hampir semua staff yang bekerja di cafe itu mengenali Lara, sejak dia menjadi langganan tetap yang selalu hadir setiap pagi, lalu duduk berjam-jam di cafe. Dan baru meninggalkan kursinya ketika matahari sudah tinggi.

“Seperti biasa aja. Latte.”

“Makanannya?”

“Saya coba lemon tart-nya, deh.”

“Oke, mbak. Pesanan nanti saya antarkan, ya. Silahkan duduk.”

“Thanks.”

Masih pagi yang sama, tempat yang sama. Tak ada yang berubah. Bahkan apa yang Lara harapkan pun tak kunjung membuahkan hasil. Tapi, Lara tetap bertahan.

Sebelum pesanannya datang, Lara membuka file-file fotonya yang tersimpan di memori ponselnya. Memperhatikannya satu persatu. Sesekali dia tersenyum, lalu merengutkan wajah, lalu tersenyum, kembali.

Di hadapannya, foto-foto kenangannya bersama Adrian ketika mereka masih duduk di bangku SMA. Semuanya menyimpan cerita indah buat Lara.

Ada sebuah foto ketika Lara dan Adrian tengah bersepeda tandem. Sejenak ingatan Lara kembali. Itu adalah kencan pertamanya dengan Adrian. Mereka tandem bersepeda di hari Minggu pagi keliling Monas. Beberapa waktu setelah foto mereka diambil, keduanya terjatuh karena menabrak sebuah tiang lampu.

Lara ingat sekali kejadian yang menjadi sebuah  awal kebersamaannya bersama lelaki idolanya. Sebuah mimpi yang jadi kenyataan tercipta pada momen tersebut.

Lalu Lara menggeser ke foto yang lain. Pemandangan kebun teh terhampar di belakang mereka. Lara dan Adrian duduk di tengah-tengah di antara beberapa temannya yang lain dalam acara camping. Itu ketika mereka kuliah tahun pertama.

Malam sebelum potret itu diambil, Adrian sempat mengucapkan sebuah janji suci, bahwa dia tak akan pernah meninggalkan Lara dalam kondisi apapun hubungan mereka kemudian. Adrian juga akan menikahi Lara segera setelah keduanya lulus kuliah.

Beberapa bulir air mata menyembul di sudut mata Lara. Lara segera menghapusnya, khawatir terlihat oleh pengunjung lain dan karyawan cafe itu. Apalagi kemudian seorang waitress ber-name tag Diana mengantarkan pesanannya.

“Ini pesanannya, Mbak Lara. Caffe latte dan lemon tart. Silakan. Kalau perlu bantuan lagi, silahkan panggi; Diana di sana, ya.”

“Makasih, Mbak.” Lara tersenyum masam, menyamarkan kesedihan yang tiba-tiba hadir di hatinya ketika mengingat kejadian-kejadian yang pernah dialaminya bersama Adrian.

Lara menyesap latte panasnya perlahan. Matanya sejenak berkeliling, menatap arah luar cafe. Memindainya secara cepat, dan berharap semoga harapannya selama ini terwujud. Semoga sebuah keajaiban tiba-tiba muncul di hadapannya.

Pengunjung bandara semakin banyak seiring datangnya siang. Lalu lalang orang mengaburkan pandangan Lara yang mencoba memperhatikan dan mengingat sosok terakhir dia melihat Adrian. Dan diantara sekian banyak orang yang lewat di depannya, tak satupun ada yang cocok dengan sosok yang dicarinya beberapa minggu terakhir.

***

   Tuut tuut tuuut

    Ringtone ponsel Lara berbunyi. Nama Vina muncul di layar LCD-nya.

“Halo, Vin. Pakabar?”

“Baik, Ra. Kamu?”

“Alhamdulillah. Kamu udah balik dari Surabaya?”

“Udah. Aku udah di Jakarta sejak tiga hari yang lalu. Aku mau nagih cerita, nih. Mumpung aku lagi nggak sibuk. Kamu lagi sibuk, nggak?”

“Oooh, hehehe. Nggak Vin, aku sama sekali nggak sibuk. Yuk, kita ketemuan. Dimana?”

“Kamu deh yang nentuin tempatnya. Nanti aku yang traktir.”

“Oh, boleh-boleh. Nggak usah traktir juga nggak apa-apa, Vin. Nanti kamu malah nyesel, lho. Aku kan makannya banyak.”

“Boleh tanding sama aku siapa yang lebih banyak kalau makan. Ha..ha..ha..ha. Lagipula kamu memang harus makan lebih banyak, Ra. Supaya lebih gemuk dan nggak pucat lagi.”

“Enak aja. Aku nggak mau gemuk, kok.”

“He..he..he. Iya sih, siapa juga yang mau gemuk. Kalau aku sih terpaksa gemuk, Ra. Terpaksa menerima efek kebanyakan ngemil. Ha..ha..ha.”

“Vinaaa, kamu lucu banget. Oke deh, kamu doyannya makan apa? Gimana kalo kita nge-bakmi GM aja.”

“Okeee. Setuju. Kamu mau aku jemput? Biar kita kesana bareng. Rumah kamu masih di Meruya, kan?”

“Masih, Vin. Belum ada yang usir. He..he..he. Bagaimana kalau kita ketemuan di lokasi aja. Aku masih di bandara. Mau langsung kesana pakai taksi.”

“Kamu memang rutin datang ke bandara, ya? Ke cafe yang sama?”

“Iya. Setiap hari.”

Keduanya terdiam beberapa saat.

“Udah, deh, Vin. Nanti aku ceritain lengkapnya. Malah jadi ngelamun gini.”

“Eh, iya ya. Kok malah bengong nggak jelas. Oke deh. Kita ketemuan di sana ya. Sampai ketemu, Ra. Bye.”

Lara bangkit, berjalan menuju kasir dan membayar caramel maccchiatto dan cheese cake-nya.

“Sampai ketemu besok, Mbak Lara,” ujar petugas kasir Maraboon Cafe yang disambut oleh senyuman Lara.

Lalu Lara bergegas menuju Taxi Counter, dan menaiki taksi yang akan mengantarnya menemui Vina.

***

 “Namanya Adrian. Kamu masih ingat?”

“Adrian yang tinggi besar, tim basket sekolah kita, anak IPA 3 itu?”

“Iya, tepat sekali, Vin.”

“Kenapa?”

“Tiga tahun yang lalu, dia pergi ke Jepang untuk kuliah S2. Itu terakhir kalinya aku ketemu dia.”

“Kalian terus berhubungan selepas SMA?”

“Iya, Vin. Kami selalu bareng sejak SMA sampai kuliah S1.

“Ooh..aku kiraaa…”

“Kenapa, Vin?”

“Ah, nggak. Terus?”

“Kira-kira dua bulan yang lalu, Adrian menghubungiku lewat facebook. Selama ini kami memang selalu berhubungan lewat facebook. Karena jarak, dia hampir nggak pernah telepon aku. Aku sih, percaya aja berhubungan jarak jauh sama dia. Soalnya, selama ini, aku tahu dia nggak pernah mengkhianati aku. Dia selalu menepati janjinya. Kecuali janjinya yang satu ini.”

“Kalau boleh aku tahu, kalian janjian apa?”

“Dua bulan yang lalu kami janjian di Maraboon Cafe, tempat yang aku datangi setiap hari, jam 8 pagi. Katanya penerbangannya dari Jepang mendarat sekitar segitu. Tapi aku nggak pernah ketemu Adrian di sana.”

“Jadi, itulah kenapa kamu datang ke sana setiap hari berharap bisa ketemu Adrian?”

“Iya, Vin. Aku kangen sekali. Aku ingin ketemu. Awalnya aku kesal, ingin marah. Aku udah coba menghubunginya di facebook, tapi dia nggak pernah muncul.  Nggak satupun message-ku yang dia balas. Sekarang aku nggak marah lagi. Aku cuma ingin ketemu dia, walaupun beberapa menit aja. Mendengar kabarnya, dan memastikan kondisinya baik-baik aja.”

Air mata Lara menetes satu persatu, dan semakin menderas. Vina merengkuh badan Fika dalam pelukannya dan membiarkan tangisnya pecah selama saat.

Jantung Vina berdebar sangat cepat. Dia sangat merasakan kepedihan yang dialami sahabatnya itu. Dulu semasa SMA, Vina sangat tahu kalau Lara adalah sahabatnya yang paling perasa diantara kelima sahabatnya yang lain di kelompok ilmiah remaja mereka. Dan dia sudah menebak, pasti hati Lara hancur berkeping-keping ketika Adrian tak bisa dia temui.

***

[Bersambung ke bag. 2]
Share:

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *