Malam merangkak semakin pekat. Tapi langkah-langkah kaki masih berderap memenuhi koridor yang terasa semakin sempit. Suasana di Rumah Sakit el-Syifa, kota Gaza memang tak pernah sepi. Tak mengenal jam tidur. Tak pernah istirahat. Suara dari speakerphone terdengar nyaring memenuhi ruangan. “Emergency call to Doctor Martin Sullivan to get to Emergency Room. Immediately!” Suara itu berulang sebanyak tiga kali. Seseorang yang merasa namanya  dipanggil segera menanggalkan stetoskop dari telinganya, disampirkannya pada lehernya yang jenjang. Gegas menuju tempat yang disebutkan oleh suara alto dalam speakerphone tadi. Namanya Martin Sullivan, MD., seorang dokter lulusan Harvard University, USA. Relawan yang tergabung dalam Medical Rescue Team for Humanity (MRTH), berkebangsaan Amerika. Martin bergerak cepat, secepat yang dia bisa. Tak ada istilah lambat untuk situasi genting seperti ini. Sejenak, sebelum ditariknya pegangan pintu berbahan alumunium itu, dia menyentuh bahu seorang paramedis berseragam hijau. “Ali, tolong sampaikan kepada dokter Hisyam, segera tangani pasien yang ada di koridor bangsal 13. Vulnus sclopetum, luka tembak di bahu sebelah kanan. Pasien compos mentis. Sudah dilakukan irigasi pada luka, perdarahan juga sudah teratasi. Tolong lanjutkan penanganan infeksinya sebelum masuk ruang operasi untuk pengambilan peluru,” ujar Martin cepat tanpa memberi kesempatan kepada lawan bicaranya untuk merespon. Yang diajak bicarapun tanpa menunggu langsung melesat mengikuti instruksi yang diberikan. Dengan setengah berlari, Martin menyusuri koridor menuju Emergency Room di sisi barat Rumah Sakit. Kecepatan maksimal yang bisa diusahakannya, karena sulit bergerak lebih cepat diantara sesaknya manusia yang memenuhi setiap sudut Rumah Sakit terbesar di… View Post