Butiran debu memenuhi ruang udara. Siang hari yang panasnya membara membakar tiap jengkal ruas tubuh yang terpapar di bawahnya. Suara desing peluru tidak pernah berhenti mengistirahatkan pendengaran kami. Suasana semakin mencekam. Raga kami lelah. Jiwa kami hancur. Sudah dua hari perutku berhenti mencerna makanan. Tak apa. Biar dia beristirahat dari kerja panjangnya. Toh aku masih kuat. Tapi bagaimana dengan adikku? Dia juga belum makan. Dua hari ini kiriman makanan tidak singgah di kamp kami. Padahal sebelumnya tidak pernah absen, meskipun hanya sekali dalam sehari. Lihat, tubuh adikku sangat lemah. Demamnya tak kunjung turun. Kami juga tidak punya persediaan obat.