Saya masih ingat, pertama kali berkenalan dengan sosok ini ketika masih berstatus mahasiswa ko-ass. Masih muda dan bersemangat yang menyala-nyala untuk melakukan banyak hal. Dan masih senang bergaul. Gaul, ini kata yang saya garis bawahi. Karena saat itu, adalah saatnya bereksplorasi dan memperluas ilmu. Hingga saya berkenalan dengan banyak orang. Sosok yang akan saya bahas ini, termasuk bagian dari eksplorasi saya. Awalnya, teman yang mengajak saya datang ke rumahnya. Saat itu, dia adalah kakak tingkat saya. Jujur, di awal saya sering malas hingga tak jarang mencari-cari alasan untuk absen.Sepulang dari klinik ko-ass, saya lebih memilih untuk pulang dan istirahat. Namun teman saya ini tak pernah bosan terus mengajak, dan akhirnya saya rutin datang ke rumah beliau setiap pekannya. Beliau adalah murabbiyah pertama saya. Seorang wanita rendah hati, lemah lembut dan sabar itu perlahan mengikis batu di kepala saya. Seiring berjalannya waktu, saya mulai merindukan jika lama tidak mampir ke rumahnya. Rindu bertemu bersama teman-teman lain dalam forum melingkar di sebuah rumah kontrakan sederhana sambil melantunkan bacaan Al Qur’an. Ternyata, momen itu justru amat saya butuhkan, karena mampu meleburkan kepenatan usai berjibaku dengan urusan klinik yang membuat chaos isi kepala saya. Dan, sosok itu akhirnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Berawal dari pertemuan di rumah kontrakan itu, berlanjut ke pertemuan-pertemuan lain setelahnya. Saya sudah berganti beberapa murabbiyah. Menyusul kepindahan saya ke beberapa tempat setelahnya, saya bertemu dengan sosok-sosok yang hampir mirip. Rendah hati, sabar dan berwajah teduh. Ah, bahkan… View Post