Namanya Jo, kependekan dari Josephine, seorang calon remaja yang merasa tertinggal oleh teman-temannya. Baru masuk SMP dan terkaget-kaget dengan dunia barunya. Sahabat meninggalkannya karena ingin eksis bersama gank keren, tanggung jawab organisasi, urusan penampilan, sampai masalah cowok menjadi hal-hal yang mengisi kesehariannya. Jo berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi internal dan eksternalnya yang membuatnya merasa, “Nggak gampang jadi remaja.” Siapa bilang jadi remaja awal itu gampang? Menaklukkan kondisi tubuh sendiri aja nggak gampang. Perubahan emosional, pertumbuhan bagian-bagian tubuh tertentu, perlakuan orang lain terhadap kita dan macam-macam. Nggak sedikit yang menganggap masa yang disebut pubertas ini adalah masa penuh tantangan. Anak-anak remaja tanggung ini rentan terpengaruh lingkungannya. Seperti Sally, yang punya nama gaul Ally, sahabat Jo yang ingin dianggap keren dengan bergabung bersama gank paling keren di sekolahnya. Akibatnya, dia kehilangan jati diri. Alih-alih gaya, dirinya merasa tertipu oleh gemerlap dunia remaja yang harus diisi dengan kemewahan. Namun Jo, berkat kecupuannya dia agak telat terkena pengaruh itu. Meskipun pada akhirnya kena juga, terbawa arus gank keren. Membaca Jurnal Jo karya Ken Terate ini seperti membaca ulang kisah hidup pribadi. Gaya bahasanya ringan banget, khas Teenlit, tapi rasanya masih bisa diterima oleh pembaca dewasa. Biasanya saat membaca teenlit, saya seakan masuk ke dunia lain yang memunyai tembok tinggi sehingga susah untuk menyatu dengan diri saya. Tapi untuk buku ini nggak sama sekali. Mungkin karena kondisi remaja yang diceritakan oleh Ken merupakan gambaran remaja awal 2000 yang rentangnnya belum terlalu jauh dengan masa-masa saya… View Post