Bullet Journal, Metode Jurnaling yang Asik dan Bikin Betah

Bullet Journal, Metode Jurnaling yang Asik dan Bikin Betah

Kalau bicara jurnaling, mungkin tulisan saya akan panjang dan berhalaman-halaman. Karena saya sangat menyukai jurnaling dan sudah memulai jurnaling sejak masih SMA, sehingga menganggap sebagai journal addict.

Sebelumnya, ketika masih seusia anak saya, sekitaran SD, saya baru menulis di diary aja. Namun ketika sudah di SMA, saya suka sekali koleksi notebook-notebook cantik dan beli organizer lalu menghiasnya sendiri. Ternyata kebiasaan ini berlangsung terus sampai sekarang, bahkan saya menjadikannya lebih serius.

Saya masih ingat, waktu SMA, kita harus membeli refill untuk organizer (saya nyebutnya orgi biar singkat) kita dan harganya kan lumayan ya untuk kantong anak sekolahan. Jadi saya cari akal, supaya lebih murah dan costumize, yaitu dengan bikin sendiri pake kertas yang ada.

Kebiasaan ini terus saya lakukan sampai kuliah. Apalagi ketika di masa ko-ass (program profesi dokter gigi untuk kerja pasien di klinik dan RS) mengatur jadwal keseharian adalah sebuah keniscayaan. Wajib supaya kita lebih teratur dan terukur. Rasanya hampir nggak ada temen-temen saya yang nggak punya agenda. Walaupun pake buku catatan biasa dan nggak rapih, saya wajib punya agenda.

Ketika hamil anak pertama, saya juga membuat sebuah jurnal dan catatan perkembangan anak sejak tanda positif di testpack sampai anak saya usia setahun. Semua catatan perkembangannya, foto-foto mulai dari USG, jejak kaki sampai foto perkembangan bayi saya letakkan di jurnal itu. Apa yang anak saya makan, riwayat imunisasi dan kesehatan juga perasaan-perasaan saya lengkap tertulis di sana.

jurnal bayi

usia jurnal ini sudah lebih dari 15 tahun

Excitement Menulis Jurnal

 

Kesukaan menulis jurnal tertulis nggak surut ketika era digital menggantikan hampir semua fungsi manual. Banyak orang beralih ke agenda online atau digital yang praktis di ponsel mereka. Saya pernah mencoba, tapi nggak betah.

Satu-satu media digital/elektronik yang saya pakai untuk menulis jurnal adalah blog ini. Sekarang, saya ingin tulisan saya lebih terstruktur dan nggak hanya dibaca sendiri, namun ingin bisa dibaca oleh orang banyak. Blog selain saya gunakan untuk media ekspresi juga menjadi media untuk mendapatkan pemasukan uang.

Di luar itu, saya masih nyaman mengunakan metode konvensional, menulis di agenda harian dan catatan.

Dulu, isi jurnal saya kebanyakan hanyalah to do list dan catatan-catatan penting. Kadang di beberapa halamannya saya gunakan untuk orat-oret, menggambar dan mencatat quote. Ketika membeli agenda baru, pasti saya harus merenung lama. Mencari yang paling pas dan isinya sesuai kebutuhan.

Karena ternyata, sebagus atau semahal apapun sebuah jurnal, belum tentu isinya sesuai dengan kebutuan saya. Nggak jarang, ada halaman-halaman yang kosong karena kolom-kolomnya nggak saya perlukan. Jadinya memang banyak halaman yang mubazir.

journal addict

beberapa dari jurnal yang sempat difoto

Apa Itu Bullet Journal

 

Dengan adanya media sosial, terutama Instagram, saya mendapat wawasan baru. Saya jadi ketemu juga dengan banyak journal addict di dunia maya. Ternyata saya nggak sendiri, karena ada jutaan journal addict di dunia ini yang sehobi dengan saya, senang menulis jurnal konvensional menggunakan buku, bukan digital.

Horeeee, banyak temen. Artinya banyak juga ide-ide dari mereka yang semuanya kreatif.

Saya jadi kenal dengan beragam metode dan gaya jurnaling. Beberapa metode yang menurut saya menarik adalah metode bullet journal, hobonichi dan sketched journal. Saya persempit lagi, menjadi dua yaitu bullet journal (disingkat bujo) dan sketched journal (terutama untuk traveling journal saya). Kenapa meninggalkan hobonichi? Pertama karena buku jurnal yang satu ini harganya mahal banget dan belum ada substitute-nya yang produk lokal Indonesia.

Pilihan saya yang paling utama untuk jurnal sehari-hari adalah bullet journal atau bujo.

Yang menarik dari bullet journal ini adalah kita nggak perlu satu buku khusus untuk membuatnya. Buku apa aja bisa kita gunakan. Meski kemudian saya ketemu dengan jurnal khusus yang dotted atau bertitik-titik. Kegunaan titik-titik ini adalah untuk bisa membuat kotak atau garis lurus dengan rapi sehingga jurnalnya enak dilihat.

Bujo adalah sebuah jurnal yang memberikan kita keleluasaan untuk kreatif dan ekspresif. Memang ada beberapa panduannya, tapi nggak wajib diikuti.

Salah satu kekhasan bujo adalah, dia menggunakan kode kunci/key untuk menandai pekerjaan kita. Contohnya seperti berikut ini.

key

kode yang dipakai di bullet journal

Lalu sisanya, kita benar-benar punya keleluasaan untuk mengorganize sesuai kebutuhan kita. Beberapa halaman yang saya buat di bullet journal antara lain:

  1. Ini seperti daftar isi untuk memandu kita saat mencari halaman-halaman tertentu.
  2. Future Log. Adalah kolom untuk rencana jangka panjang.
  3. Goals atau Resolusi. Sebagai pengingat cita-cita dan resolusi tahunan kita.
  4. Reading List dan reading log
  5. Traveling log
  6. Blogging Ideas
  7. Blogging Log
  8. Sponsored Post List
  9. Bucket List

Lalu masuk ke jurnal bulanan dan pekanan yang isinya kurang lebih:

  1. Kalender
  2. Monthly spread
  3. Monthly goals
  4. Habit tracker (biasanya saya isi dengan ibadah tracker)
  5. Weekly spread
  6. Monthly/weekly evaluation

Dan sebagainya.

Isi bujo ini benar-benar tergantung kebutuhan kita. Selain berupa list, enaknya pake bujo adalah kita bisa berkreatifitas dengan menambahkan doodling art, sketch, handlettering dan bentuk-bentuk seni lainnya. Seru deh.

sketched journal

sketched journal saya, yang gambarnya masih ala-ala banget

Manfaat Jurnaling

 

Tentunya manfaat dari jurnaling ini banyak banget. Kita bisa menyusun daftar pekerjaan sehari-hari dan mencatat goal, sehingga pencapaian kita lebih terukur. Kadang menulis jurnal nggak melulu tentang pekerjaan terkait profesi atau yang menghasilkan uang. Pekerjaan rumah tangga juga saya tuliskan di sana, termasuk daftar menu, daftar belanja dan pengeluaran keuangan rumah tangga.

Baca juga: Menu Planner

Yang terasa setelah rutin menggunakan bujo, kerumitan isi kepala saya lebih terurai. Dengan mencatat hal apa aja yang ingin kita kerjakan, kita bisa menentukan mana prioritas kita dan berapa banyak kerjaan yang harus diselesaikan.

Ide-ide yang tiba-tiba muncul juga saya tuliskan di sana. Ada satu halaman bertajuk “gudang ide” yang saya buat, untuk tempat menuliskan beragam ide liar yang sering muncul. Ada juga halaman “brain dump” yang saya pakai untuk menumpahkan perasaan senang, kesal, marah dan sebagainya.

Baca juga: Organised Mom, Anugerah atau Bencana?

Saya menularkan virus jurnaling ini ke anak-anak saya. Karena kami adalah keluarga homeschooler yang perlu punya jadwal masing-masing, jurnaling ini berguna banget untuk mengorganisir kegiatan keseharian kami.

Teman-teman ingin ketularan virus jurnaling juga nggak? Yuk berbagi di kolom komentar.

logbook

Kay-anak saya-ketularan virus jurnaling juga

 

jurnal homeschooling

salah satu halaman jurnal homeschooling keluarga kami

Share:

20 Comments

  1. June 28, 2019 / 11:24 am

    Wah, kalau saya mah ga ada waktu (baca: males :v) kalo buat kayak begini wkowkowkowkowkw

  2. June 29, 2019 / 9:53 pm

    masya alloh mbak, ini yang aku butuhkan. Aku juga ngerasa udah “journaling” tapi masih di kepala. Emang butuh kedisiplinan buat taat sama jurnal, dan waktu kuliah aku dulu juga bikin journal kuliah dan journal organisasi

  3. June 29, 2019 / 10:19 pm

    Mba Anne…. super duper inspiring ini maaahh!
    Kayaknya perlu aku tiru buat mengatur ritme hidupku supaya tdk ruwet bin complicated

  4. June 30, 2019 / 6:13 am

    Jurnaling bikin aktivitas kita terkontrol ya mbak, sekaligus dapat melatih kita untuk disiplin waktu. Inspiratif banget mbak sampe bikin jurnaling sedetail itu, pastinya tak ada kegiatan yang terlewatkan ya mbak….

  5. June 30, 2019 / 7:15 am

    Keren bangeeet! Apalagi jurnal dg sketsanya tuh.. Jempol banget deh mba! Pengen bisa bikin tapi saya orangnya gak bisa nulis rapi! Haha…

  6. June 30, 2019 / 8:26 am

    Teh Anne kreatif banget. sketsanya bagus, kok. Terampil dalam hal menggambar. Saya saja tidak bisa.
    Dulu saat remaja saya suka nulis diary tetapi tanpa gambar atau tambahan hal lainnya. Setelah dewasa gak lagi nulis padahal ada banyak buncah rasa yang harusnya dikeluarkan dan jangan dipendam saja.
    Saya juga pengen bikin bujo tetapi terkendala malas dan tidak terstruktur. Maklumlah saya sudah lama meninggalkan kebiasaan menulis diari dan merasa sulit melakukan apalagi mematuhi jadwal yang ditentukan. Padahal mestinya hidup direncanakan dengan baik, juga pemgingat agar tidak lupa.
    Menulis dengan tangan itu bisa melawan lupa dan kaku tangan. Tulisan saya saja tidak sebagus dulu sejak sudah jarang nulis pakai tangan serta lebih sering gunain papan ketik.
    Agendanya cantik. Bikin bimbang, nanti kalau ke toko buku bareng Palung apa baiknya beli agenda atau tidak, ya? Atau beli binder saja dan manfaatkan kertas apa pun yang ada.

  7. June 30, 2019 / 8:38 am

    Sangat-sangat salut, mba. Journalnya rapi banget.
    Dulu anak saya lumayan rajin membuat journal hariannya.
    Dari tulisan mbak ini, jadi semangat lagi menggiatkan kembali kebiasaan itu, setidaknya melatih disiplinnya tanpa perlu ‘alarm’ dari mulut emaknya.
    Makasih untuk inspirasinya, mba.

  8. June 30, 2019 / 8:38 am

    Mbaa, sungguh aku takjub. Ilustasi ala ala aja cakep begitu. Apalagi yang nggak ala -ala. Hihi. Telaten banget. Aku nggak pernah buat nih. Tapi kayaknya anakku suka bikin begini

  9. June 30, 2019 / 10:34 pm

    Aku udah ga sanggup bikin ginian. Dulu rajin, tapi smaa anakku diabul-abul. Sekarang andalannya pakai Google keep sama evernote

  10. July 1, 2019 / 1:13 am

    Wahhh salut pada mba Anne, orangnya tapi dan terstruktur banget, udah gitu tulisannya cantik dan rapi pula 👍. Keren deh 👍

    Baca tulisan ini jadi pengen buat juga 😊

  11. July 1, 2019 / 6:05 am

    Wah senangnya bs setahun ini..aku ga pernah bs komitmen rajin terus ngisi yg ginian..mana motorik halus sy parah juga huhu..

  12. July 1, 2019 / 6:57 am

    Mbaaak, kreatif banget iiih… Tapi jujur, orang-orang yang rajin membuat journal seperti ini, gaya bertuturnya lebih tertata. Seperti tulisan Mbak Anne, enak, mengalir.. Saya jadi ingin berlatih membuat bujo juga.

  13. July 1, 2019 / 7:36 am

    Beuhh kak Anneeee keren banget sihhh bisa konsisten gt, Amel dulu dari SD suka nulis diary sampai SMA terus pas udah punya anak blasssss ga pernah nulis lagi hehe.

  14. July 1, 2019 / 8:08 am

    Aku dulu suka banget ngejurnal ini di jaman sekolah. Terlupakan waktu kuliah dan bekerja. Nah lalu di tahun ini mulai lagi nulis jurnal, selain biar hidup lebih rapi, jadi punya kenangan tentang apa aja yang udah dilewatin di hari-hari sebelumnya. Sepaham deh kak kita huahaha :))

  15. July 1, 2019 / 8:19 am

    Apiikk bangeett…ya Allah~
    Very well-organized yaa…
    Kalau meleset dari jadwal, ada perasaankecewa atau mencoba menurunkan standart, kak?

    Karena aku tau banget deeh….HS itu fleksibel, tapi karena fleksibel itu…orang macam saya begini jadi makin susah disiplin.

  16. July 1, 2019 / 8:27 am

    Mbak… kamu rajin banget, ini dimulai dari Mbak usia berapa? Dulu waktu aku masih SMA, seneng banget nulis nulis begini, tapi gak istiqomah nih…perlu memang membuat catatan untuk membantu otak kita menata hal-hal yang penting ini ya

  17. July 1, 2019 / 9:02 am

    Waktu usia SMA saya sekadar suka nulis diary aja gak pernah kepikiran mau buat journalling kayak gini. Kenal bujo juga baru2 ini dari teman sesama blogger cuma ya kelihatannya riweh aja buatnya. Padahal klu bisa buat journalling kayak gini manfaatnya banyak ya Mbak, terutama hidup kita bisa jadi lebih terarah dan disiplin

  18. July 1, 2019 / 9:03 am

    Aih, bener juga ya bisa mengurai keruwetan semua isi kepala dengan membuat jurnal begini. Makasih lho mba untuk insightnya. Selama ini ga kepikiran untuk memetakan pemikiran dg cara begini.

  19. July 4, 2019 / 1:42 am

    Hubunganku sama jurnal itu cuma satu: rindu yang tak sampai. Alias pengen doang tapi gak pernah kesampaian. Kalau jurnal sebatas catatan aja sih punya, kaya diary gitu deh. Tapi lebih banyak kosongnya, daripada diisi. Terus aku perhatiin kalau orang-orang isi jurnalnya bagus, paling nggak ada gambar-gambar apa gitu. Nah sebagai orang yang gak jago gambar, hal-hal ini bikin aku males jurnaling pada akhirnya. Dan lebih memilih media foto sebagai jurnal.

    Anyway, salut deh sama dirimu yang tetap konsisten dalam jurnaling. Apalagi sampai rapi gitu Ne 🙂

    • Anne Adzkia
      July 4, 2019 / 3:59 am

      Kalo aku menemukan jurnaling sebagai media ekspresi, dan akhirnya betah disitu. Mgkn dirimu beda, di vlog dan foto2 kan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *