Bagaimana COVID19 Menular?

Bagaimana COVID19 Menular?

Udah mulai bosan membahas tentang COVID19? Semoga belum ya.

COVID19 memang sudah menjadi bahasan sehari-hari kita selama lebih dari 4 bulan terakhir. Sejak bulan Desember 2019 di awal kemunculan virus Corona di Wuhan, media elektronik dan media sosial kita masih diramaikan oleh berita tentang virus corona atau COVID19 (Corona Virus Disease 2019) hingga sekarang.

Di Indonesia, sejak bulan Maret 2020 kasusnya belum ada penurunan sama sekali. Bahkan semakin meningkat. Beberapa provinsi baru menjadi tambahan episentrum penularan. Tapi sayangnya, banyak orang mulai abai dan menganggap virus ini hanya mainan pihak tertentu untuk meneror atau mengambil keuntungan aja.

Miris ya. Sementara, penderitanya semakin mendekat ke lingkaran kerabat teman-teman kita. Bahkan sahabat saya, seorang tenaga medis di Sulawesi Selatan sempat terdiagnosa positif. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh.

Melalui postingan ini, saya kepingin mengulas kembali info dasar yang mungkin sudah teman-teman ketahui. Tapi barangkali ada yang butuh, silakan membaca sampai selesai. Saya mengambil keterangan ini dari buku panduan bagi dokter gigi untuk membuka kembali praktik mereka dengan protokol baru.

Jadi insyaallah informasinya bisa dipertanggungjawabkan. Oke, langsung aja ya. Saya ingin menjelaskan tentang unsur-unsur penularan materi virus corona.

 

Bagaimana COVID19 Menular?

Alasan utama kita masih harus menggunakan masker (tanpa/disertai pelindung mata), karena penularan COVID19 yang utama adalah melalui cairan tubuh yang bersumber dari pernafasan kita dan menularan karena masuk ke tubuh melalui saluran pernafasan dan mata.

Materi yang menjadi jalannya virus ini atau istilah lainnya, virus ini ditransmisikan melalui 3 partikel kecil yang ada di dalam saliva/ludah kita. Ketiga partikel tersebut antara lain splatter, droplet dan aerosol.

Virus itu ukurannya sangat kecil, dalam ukuran nanometer. Itulah kenapa bahkan dalam memilih masker pun kita harus hati-hati. Biasakan mengecek apakah masker kita sudah cukup kedap udara atau masih jarang-jarang. Bagaimana mengeceknya?

Saat pakai masker, coba meniup api dari lilin atau fire lighter. Kalau apinya masih mati dalam 1-2 kali tiupan keras, artinya masker tersebut belum cukup aman melindungi kita dari virus. Coba tambahkan tisu di baliknya atau ganti dengan masker lain yang lebih kedap.

Saya sih nggak merekomendasikan masker scuba karena sangat tipis. Dia hanya bisa menyaring debu, tapi masih bisa dilalui partikel yang lebih kecil.

Sekecil apa sih partikel-partikel yang menjadi transmisi COVID19 ini (Panduan Dokter Gigi dalam Era New Normal, 2020, halaman 5)

splatter droplet aerosol

  1. Splatter

Splatter adalah percikan cairan yang keluar ketika berbicara. Ukurannya >50 nanometer. Bersifat balistik karena diproduksikan dengan kekuatan tertentu dari suatu tempat ke tempat lain seperti lintasan peluru, hingga menyentuh permukaan.

Partikel ini berukuran lebih besar dari droplet, dapat bertahan di udara dalam waktu singkat dan menjangkau area berjarak < 1 meter (Harrel dkk, 2004).

 

  1. Droplet

Disebut juga “respiratory droplet”, merupakan partikel yang berat dan tidak dapat berpindah lebih jauh dari 1,5 meter (WHO, 2014). Ukuran droplet >10 nanometer, yang akan berangsur menjadi kecil dan bertahan di udara.

Ketika seseorang berada pada radius 1 – 1,5 meter dan terdapat aktivitas berbicara, batuk atau bersin dari orang yang memiliki gejala gangguan pernafasan, maka akan terjadi transmisi droplet melalui hidung, mulut atau mata (organ yang berpotensi terekspos oleh virus SARS-CoV-2, nama lain dari corona virus).

 

  1. Aerosol

Istilah lainnya adalah bio-aerosol atau droplet nuclei, yang ukurannya lebih kecil lagi yaitu 0,3-10 nanometer.

Aerosol terbentuk dari partikel padat atau cair, tersebar dan dapat bertahan di udara (Wang dkk, 2020).

Virus yang terdapat pada partikel aerosol ini dapat bertransmisi melalui batuk, bersin, berbicara, bernafas yang cepat atau perawatan gigi.

Menurut Olsen dkk (2003) kelompok virus SARS-CoV pada partikel aerosol, dapat berpindah pada jarak yang jauh dengan estimasi radius 1 meter secara horisontal (Olsen dkk, 2003). Partikel kecil ini bahkan bisa bertahan di udara hingga 3 jam dan dapat bertahan hidup di permukaan material tertentu pada suhu ruang.

  • Pada permukaan besi: bertahan selama 5 hari
  • Pada permukaan kayu: bertahan selama 4 hari
  • Pada permukaan kertas: bertahan selama <3 menit – 5 hari
  • Pada permukaan kaca: bertahan selama 4 hari
  • Pada permukaan plastik: bertahan selama 4 hari
  • Pada permukaan kain/pakaian: bertahan selama 1 jam – 2 hari

Berangkat dari informasi tersebut, ada beberapa hal yang harus kita cermati. Ya, kita masih harus menerapkan protokol khusus agar kita nggak tertular dan nggak menjadi media penularan COVID19 ini kepada orang di sekitar kita. Terutama keluarga.

 

Protokol New Normal Selama Pandemi

Protokol dasar agar kita tetap aman selama pandemi bisa kita deskripsikan sebagai berikut:

  1. Selalu memakai masker setiap keluar rumah

Cuci masker usai satu kali pemakaian dan tidak memakai masker yang sama selama di luar seharian. Karena kita sangat mungkin keringetan atau ada partikel yang menempel di permukaan luar masker kita yang lama-lama bisa menyerap dan terhirup.

 

  1. Selalu mencuci tangan

Cuci tangan setiap usai memegang benda yang mungkin sudah disentuh orang lain, seperti pegangan pintu, uang, barang belanjaan, kartu ATM, kantong belanja dan sebagainya. Perhatikan cara mencuci tangan yang benar sesuai arahan WHO, lama membersihkannya selama 20 detik, dengan mengulaskan cairan desinfektan atau sabun ke seluruh permukaan tangan termasuk lipatan-lipatannya.

 

  1. Tidak banyak beraktivitas di luar dan berkumpul dengan orang lain

Kalau nggak penting-penting banget, usahakan terus berada di rumah agar kita nggak berkontak dengan orang lain. Jauhi kerumunan. Jaga jarak dengan orang lain, minimal 1,5 – 2 meter agar kita tidak terkena splatter, droplet maupun aerosol. Apalagi kalau bertemu dengan orang yang nggak bermasker, jauhin aja deh.

 

  1. Hindari berada di ruang tertutup, yang berventilasi buruk atau berAC

Dalam ruang tertutup, virus akan terus berputar dan bertahan dalam waktu beberapa jam. Jadi kalau teman-teman harus bekerja, usahakan membuka jendela atau jangan terlalu lama berada dalam ruangan bersama orang lain. Ingat lho, kantor-kantor kini mulai menjadi cluster penularan COVID19.

 

  1. Jangan makan di tempat umum bersama orang lain

Kalau mau jajan atau beli makanan, baiknya bawa pulang aja. Lebih baik lagi kalau dihangatkan dulu sebelum dimakan, agar kita membunuh semua bakteri atau virus yang mungkin mengontaminasi.

 

  1. Bersih-bersih ketika masuk rumah

Ketika kita keluar rumah, potensi virus corona menempel pada benda yang kita pakai atau bawa cukup besar. Jadi, setiap akan masuk rumah, cuci tangan dan kaki sebelum menyentuh benda-benda yang ada di rumah. Ganti baju dan bersihkan seluruh benda yang kita bawa. Akan lebih baik lagi kalau langsung mandi dengan menggunakan sabun, karena semua virus akan lemah jika terkena sabun dan bahan-bahan desinfektan.

Keenam poin yang saya tulis merupakan protokol dasar yang selalu saya dan keluarga terapkan sejak bulan Maret lalu. Alhamdulillah suami juga masih bekerja dari rumah dan kami hanya keluar ketika akan belanja atau bersepeda (tanpa ketemu orang lain).

Kami bukan parno atau lebay. Kami melakukan ini karena melihat kondisi sekitar yang masih cukup rentan dan potensi tinggi terjadi transmisi virus yang memang sangat mudah menular ini. Jadi memang ini adalah ikhtiar kami untuk tetap sehat.

Satu hal lagi, kami percaya dengan berpikir positif dan menerapkan pola hidup sehat juga bisa menjaga kami dari kondisi menurunnya daya tahan tubuh, agar lebih terjaga dari materi-materi organik yang merugikan tubuh.

 

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *