Are We There Yet?

Are We There Yet?

Pertanyaan ini keluar dari mulut anak saya entah berapa puluh kali dalam seminggu kemarin. Saking panjangnya perjalanan yang kami tempuh, melintasi barisan kota dan kondisi alam yang berbeda. Lelah tentunya, tapi menikmati lukisan alam penuh warna ini sungguh menyenangkan dan mengalirkan kalimat tasbih yang tanpa henti.

Tepatnya hari Minggu, hari masih pagi. Matahari belum menampakkan diri dengan sempurna. Jarum jam sudah berputar menuju angka 7. Hari itu musim dingin, matahari datang lebih lambat dibanding pada musim lainnya.

Udara dingin tak menyurutkan semangat kami untuk berkemas, menaruh bekal yang sudah kami siapkan sehari sebelumnya ke dalam bagasi mobil. Memindahkan barang ke dalam mobil dengan susah payah, karena kami lupa memperhitungkan besarnya bagasi mobil sedan, namun bawaan yang dibawa sangat banyak.

Dua koper pakaian, satu kotak esky adalah barang yang mendominasi ruangan. Ada juga alat masak (kompor, grilled pan, rice cooker, dan teman-temannya) dan alat masak, ikut menyempitkan ruangan. Belum lagi folding chair, bahan makanan, air minum dalam botol besar dan cemilan yang akan menemani perjalanan panjang kami.

Suhu udara menunjukkan 6 derajat celsius. Untuk sebagian besar wilayah Australia, winter memang berkisar di suhu 2-8 derajat. Jarang kurang, seringnya lebih. Tidak seberapa dingin kalau dibandingkan winternya Eropa yang diselimuti salju. Apalagi wilayah Central Queensland, tempat saya tinggal, yang hanya beberapa derajat Lintang Selatan dibawah garis tropical Capricorn, dengan bentang alam yang rata, tidak lebih dari 100 meter di atas permukaan laut. Namun, angin cyclone yang berputar di atas kami tetap menciptakan udara dingin dan kering yang mencubit kulit.

Pmandangan lewat jendela mobil

Pmandangan lewat jendela mobil

Kulit saya yang asli made in Khatulistiwa, tentu tidak mudah beradaptasi dengan udara dengan kelembaban rendah ini. Kering, gatal dan bersisik sudah menjadi sahabat keseharian. Satu botol besar pelembab akan habis dalam hitungan minggu saja.

Perjalanan di pagi yang dingin tentu memaksa kami untuk mandi saat suhu tidak meminta kami untuk mandi. Jangankan mandi, bewudhu saja kami menggigil, padahal menggunakan air panas dan suhu ruangan juga dikondisikan hangat. Tapi mau bagaimana lagi. Bukan kebiasaan orang tropis yang beraktivitas tanpa mandi, bukan?

Mandi, checked. Barang bawaan cheked. Kondisi mobil, checked. Sarapan untuk di perjalanan, checked. Yep, semua siap. Berangkaaaaat.

Berangkatlah kami mengikuti petunjuk mbak GPS yang suaranya serak-serak becek, kadang menyebalkan karena kebawelannya mengingatkan kami untuk mengurangi kecepatan. Tapi tanpa dia, kami bisa tersesat. Saya yang mendapat giliran pertama menjadi sopir. Anak-anak yang masih mengantuk, melanjutkan tidur mereka di mobil.

Meninggalkan kota kami yang masih sepi, muram karena matahari musim dingin yang malu-malu, dan beku karena dingin tengah menggigit. Mobil terus melaju dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam, membelah jalan mulus dan sepi di sepanjang padang rumput dan semak yang warnanya memudar. Angin kering membuat mereka mati suri. Kebun anggur sedang libur panjang. Hewan-hewan nocturnal sudah mulai masuk ke peraduan karena semburat cahaya pagi membuat mata mereka mengantuk. Tak ada kanguru yang melintasi jalan. Alhamdulillah. Karena kehadiran kanguru seringkali bagai kejutan tidak menyenangkan karena mereka sering hadir tanpa pemberitahuan tepat di depan mobil kami yang sedang melaju cepat.

Empat kotak mie goreng yang saya buat tadi pagi harumnya begitu menggoda. Perut saya membuat tanda panggilan rindu untuknya. Itu tandanya, giliran saya menjadi sopir selesai. Saya mau sarapan dulu, dan suami yang kini mendapat giliran memutar kemudi.

Historical Museum banyak ditemui di tiap town yang terlewati

Historical Museum banyak ditemui di tiap town yang terlewati

Bosan menyusuri jalanan lurus dengan pemandangan dengan kadar kegersangan yang merata, kami membelok sejenak ke sebuah town. Tujuan awalnya untuk mencari toilet, mengosongkan vesica urinaria yang terisi secangkir teh manis sebelum berangkat tadi. Tapi melihat kondisi town yang sepi, dengan bangunan-bangunan tua yang rapi dan manis, mengundang kami sejenak untuk menepi untuk sekedar berfoto ria.

Tak ada seorang manusiapun di sepanjang area yang katanya merupakan pusat kota. Pikiran saya langsung melayang ke ibukota tempat tanah air beta, disana beta lahir dan tumbuh. Ya, ibukota Jakarta dengan segala kemacetan dan kepenatannya. Andaikan sebagian orangnya diungsikan ke kota kecil ini, mungkin kota ini akan lebih hidup. Ah, hanya khayalan sesaat yang jauh dari kenyataan, buru-buru saya tepiskan. Tugas mengemudi kembali memanggil.

Pusat kota Nebo yang lengang

Pusat kota Nebo yang lengang

Perjalanan seperti ini sangat berpeluang membuat mata sopir cepat mengantuk. Pencegahannya adalah cemilan, kelakar dan iringan lagu. Bergantian saya dan suami membawa perjalanan ini ke tempat tujuan pertama kami. MacKay.

Nebo Hotel, dengan arsitektur Queenslander

Nebo Hotel, dengan arsitektur Queenslander

MacKay adalah sebuah kota yang jumlah penduduknya tiga-empat kali lebih banyak daripada penduduk kota tempat saya tinggal, Emerald. Lebih ramai pastinya, dan lebih besar. Ini kunjungan perdana saya ke MacKay ini. Tugas suami pada institusi tempatnya bekerja mengajak kami serta untuk menjejak kota ini pertama kalinya.

Dalam jarak lebih dari 400 kilometer, anak saya sudah bertanya “Are we there yet?” selama empat-lima kali. Wajar, bagi anak usia 5 tahun yang bosan terus menerus dalam mobil dan penasaran ingin segera melemaskan ototnya dengan berlari dan melompat, hingga bertanya terus-menerus soal yang sama. Are we there yet?

Yet, a life is about a journey. Wether it’s a long journey or a short one. There are ups and downs we shall conquer. Just enjoy it. And, we’ll be there in a while.

@anneadzkia21

Emerald, Queensland. July 3rd, 2013 

(bersambung)

Share:

5 Comments

  1. November 13, 2015 / 8:19 pm

    Huwiiiii. Saya ngebayangin kok kedinginan banget yaaa..

    • Anne Adzkia
      November 13, 2015 / 11:17 pm

      Belum kaliiii..blm sampe minus

  2. Haryadi Yansyah | Omnduut.com
    November 13, 2015 / 8:18 pm

    Aku jadi inget juga dulu kalo jalan, suka banget nanya, “Yah masih lama ya sampenya?”
    Iya masih lama, tuh makan pempek dulu.
    Ajaib, aku langsung diem.
    Dan, tahulah aku kini siapa yang bertanggung jawab atas bodiku yang semok ini mbak Anne hahahaha

    • Anne Adzkia
      November 13, 2015 / 11:16 pm

      Hahahaha…semok bawa berkah tuh omndut

Leave a Reply

Your email address will not be published.