Anne Frank, Diary Seorang Gadis Kecil

Anne Frank, Diary Seorang Gadis Kecil
anne frank

Anne Frank, usia 13 tahun

Bagi penyuka sejarah, rasanya nggak mungkin nggak mengenal nama Anne Frank. Usianya 13 tahun saat mulai menulis buku harian, yang dia tulis selama dua tahun dalam persembunyiannya di Paviliun Rahasia.

Anne dan keluarganya tinggal di Belanda. Mereka adalah warga etnis Yahudi asal Jerman yang menjadi sasaran ethnic cleansing NAZI dalam Perang Dunia II pada tahun 1942-1945. Ada yang ingat, di masa ini jugalah negeri kita berada dalam pendudukan Jepang.

Perang Dunia II merupakan perang yang menorehkan banyak luka bagi bangsa dunia. Hampir semua negara terkena imbasnya, termasuk satu negara kecil nan kaya raya bernama Indonesia.

Kembali membahas Anne Frank dan diarynya, buku hariannya ini kemudian dibukukan oleh ayahnya (tahun 1947), Otto Frank, setelah negara Eropa merdeka dan perang usai (tahun 1945) sebagai kenang-kenangan atas keluarganya yang meninggal dunia dalam camp konsentrasi Auswitcz. Anne Frank sendiri meninggal dunia dalam camp karena penyakit typhus yang mewabah, kira-kira dua bulan sebelum kemerdekaan Belanda dari jajahan Jerman.

Saya membaca catatan demi catatan Anne Frank dalam buku “Dear Kitty, Diary of A Little Girl” dalam waktu yang cukup lama karena sempat terputus beberapa saat. Teman-teman mungkin bisa membayangkan bagaimana perjuangan membaca sebuah catatan harian gadis remaja yang sedang mengalami masa puber, yang seringkali isinya random. Memang, Anne banyak bercerita tentang suasana hatinya. Terlebih karena dia beserta keluarga, Ibu Ayah dan Margot, kakak perempuannya, harus sembunyi di sebuah paviliun kecil bersama satu orang dewasa dan satu keluarga lain selama dua tahun (tepatnya 25 bulan).

Membayangkan bagaimana mereka berdelapan harus bertahan tinggal di ruangan sempit, tanpa boleh bersuara di siang hari dengan suplai makanan terbatas. Kadang mereka kekurangan air dan listrik juga. Mereka bersembunyi atas bantuan beberapa orang Belanda non Yahudi di sebuah kantor yang sekarang menjadi Museum Anne Frank.

Dalam bukunya, Anne tidak hanya mencurahkan isi hati dan perasaannya, namun juga dia menjelaskan kondisi Belanda dan kejadian perang di Eropa dari pengamatannya membaca surat kabar dan mendengarkan siaran ilegal dari radio yang mereka selundupkan di Paviliun Rahasia.

Melewati masa remaja yang penuh dinamika, merindukan sahabat, merasakan jatuh cinta, ingin diperhatikan serta lika-liku pencarian karakter diri, menjadi warna-warni buku harian Anne Frank. Dia menemukan cintanya di Paviliun Rahasia, merasakan dirinya bertumbuh dan menajamkan pikirannya melalui banyak buku sejarah. Rasanya apa yang dirasakan Anne melampaui usianya, karena dia bisa menuangkan kalimat-kalimat yang sangat bernas di catatannya.

Memang, cita-citanya adalah menjadi penulis dan jurnalis.

Ada satu hal yang menarik, yang saya temukan. Tentang cita-cita Margot Frank, kakak Anne yaitu ingin menjadi seorang bidan di Palestina. Lalu pikiran saya melayang pada kondisi Palestina yang kini justru tengah dijajah oleh Yahudi (Zionist) Israel. Rasanya ironis ya.

Selama dua tahun merasakan tekanan fisik dan mental karena hidup tanpa bisa menghirup udara luar dan terus menerus menanamkan harapan yang entah bagaimana ujungnya, sangat tidak terbayangkan. Kita yang kini merasakan pandemi, sehingga banyak tinggal di rumah namun tidak sungguh-sungguh terkekang saja, rasanya melelahkan. Ingin segera bisa piknik, ingin kumpul-kumpul lagi seperti dulu, ingin bisa bebas menikmati keramaian. Anne Frank dan keluarganya, seringkali terpaksa makan makanan busuk yang direbus untuk mengganjal perut mereka.

Diary of A Young Girl yang ditulis Anne Frank, kini diabadikan menjadi sebuah catatan sejarah. Buku bacaan wajib beberapa sekolah di Barat. Menjadi sebuah pengingat, bahwa penjajahan kemanusiaan adalah kekejian yang harus dimusnahkan dari muka bumi. Termasuk penjajahan atas Palestina yang hingga kini masih berjalan, namun dunia seakan tidak berdaya memerdekakan mereka.

Buku harian ini berakhir tanpa penutup atau ucapan selamat tinggal dari Anne Frank. Karena kemudian, keluarga mereka berhasil ditemukan oleh Gestapo, polisi rahasia Jerman dan membawa mereka ke camp konsentrasi untuk disiksa (sebagian dari mereka dibunuh, dimasukkan ke dalam ruangan gas atau ditembak, lalu dibakar). Hanya Otto Frank, ayah Anne yang selamat hingga tetap hidup sampai tahun 2010.

Terima kasih Anne Frank atas catatan yang indah ini. Semoga banyak orang mengambil hikmahnya dan bertekad menghapuskan segala bentuk penjajahan di muka bumi, tanpa kecuali.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *