Aku dan Peranku Jika Menjadi Pemimpin Negeri

Aku dan Peranku Jika Menjadi Pemimpin Negeri

 Aku dan Literasi

Tidak terasa, sudah hampir 12 tahun saya berkecimpung di dunia literasi, menjadi penulis buku, blogger dan mentor kepenulisan. Waktu yang cukup lama buat saya untuk mencintai dunia yang bersinggungan dengan bahasa dan buku ini. Karena kecintaan ini pula, saya sempat mengikuti pendidikan semi formal, long distance programme di Australian College di bidang creative writing.

Saya dan keluarga sangat mencintai buku. Lebih jauh lagi, sejak saya duduk di bangku SD keluarga kerap memanggil saya kutu buku karena buku adalah pegangan saya sehari-hari. Apalagi kala itu, anak-anak belum disuguhkan dengan konten-konten audiovisual dan teknologi layar sentuh yang kini hampir selalu ada dalam genggaman anak-anak era sekarang.

Berlangganan majalah Bobo, Kawanku, Gadis, Mode hingga berlangganan tabloid Nakita dan Nova, adalah satu cara yang saya lakukan untuk memenuhi rasa haus akan membaca kala itu. Sejak saya kecil hingga saya sudah menjadi ibu. Meski dunia digital menggantikan posisi media-media cetak, rasanya saya masih belum sepenuhnya bisa pindah ke dunia digital dalam hal baca-membaca.

Saya masih mencintai buku dan saya ingin anak-anak saya, juga anak-anak Indonesia tetap mencintai buku sebagai sumber bacaan literasi mereka.

 

Melemahnya Skill Literasi di Negeri Ini

Suatu kali, saya dan beberapa teman menjadi event orgianizer sebuah acara. Kami membuat beberapa pengumuman tentang acara tersebut yang disebar ke publik. Calon peserta banyak yang mengontak dan menanyakan informasi terkait acara. Sayangnya, apa yang mereka tanyakan sejatinya sudah tercantum dalam narasi informasi.

Apa yang terjadi? Saya melihat skill literasi semakin berkurang, jarang terasah dan perlahan tergantikan oleh budaya serba instant, skill visual dan lebih suka bertanya daripada membaca narasi. Terkadang ini membuat sedih, karena saya takut kondisi ini juga ikut dialami oleh generasi anak cucu kita. Karena terbiasa melihat audiovisual, rentang fokus mereka pada bacaan berkurang dan kemampuan untuk membaca keseluruhan narasi dengan cermat juga lemah, karena keburu bosan dan mata lelah.

Bayangkan, banyak orang cepat lelah membaca tulisan tapi tahan berjam-jam menyaksikan video yang bergerak cepat.

Ini hanya contoh kecil yang umum terjadi pada sebagian masyarakat. Bagaimana dengan budaya membaca buku yang sudah menjadi PR kita sejak lama. Sajian buku-buku dan media literasi konvesional di negeri ini sudah dianggap miskin jika dibandingkan dengan negara lain. Begitu pun dengan buku digital. Media baca digital tetap belum mendapat tempat di hati masyarakat.

Ketika di banyak negara kindle atau ebook reader sangat marak dan disukai, di negara kita tampaknya ini baru menjadi konsumsi sebagian kecil masyarakat saja. Jadi sebetulnya, digital harusnya tidak menghalangi orang membaca buku. Masalah utama yang kita alami adalah rendahnya minat membaca masyarakat.

Menurut berita yang dimuat di website kominfo, saya ingin mengutip beberapa paragrafnya:

“UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!

Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.”

Lalu apa faktanya? Kenapa minat baca masyarakat Indonesia sedemikian rendah?

Mengutip berita yang dimuat di Liputan6.com tanggal 26 Februari 2020, dikatakan “Indonesia bukan bangsa dengan budaya baca rendah. Tapi fakta di lapangan disebabkan karena belum cukup akses yang memadai. Jangan terjebak opini internasional tapi mari kita perbaiki bersama,” kata Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando saat memberikan laporan pada Rapat Koordinasi Nasional Perpustakaan Nasional, Selasa, (25/2/2020).

pendidikan literasi

Jika Aku Pemimpin, Apa Yang Akan Kulakukan…

Berdasarkan keprihatinan dan kesadaran ingin melakukan yang terbaik, saya merasa ingin melakukan sesuatu untuk negeri apabila saya menjadi pemimpin. Kenapa harus menunggu menjadi pemimpin? Karena saya merasa, program literasi ini perlu menjadi prioritas dalam Program Pendidikan Nasional di Indonesia.

Pendidikan tidak melulu berkaitan dengan isu-isu ujian nasional, isu kurikulum atau isu zonasi pendaftaran sekolah bukan? Pendidikan literasi bisa dilakukan oleh siapa saja, baik dalam tataran individu, keluarga ataupun lembaga pendidikan. Namun, pemerintah juga perlu menyediakan sarana dan prasarananya sehingga program ini tidak hanya bisa dinikmati oleh masyarakat di perkotaan namun juga ke pelosok negeri.

Ada beberapa poin yang ingin saya bagun terkait pendidikan di Indonesia khusunya bagi anak dan dunia literasi ini:

  1. Meningkatkan minat baca anak dan menyediakan bacaan berkualitas

Anak akan mulai senang membaca apabila keluarganya senang membaca. Keluarga akan senang membaca apabila ada gerakan pendorong dan ada bahan bacaan berkualitas yang bisa dinikmati. Semua saling terkait.

Untuk menggerakkan minat baca, salah satu hal yang penting adalah tersedianya buku-buku bagus dan berkualitas. Ini juga salah satu PR besar yang sering digaungkan oleh banyak orang. Konon katanya buku-buku bacaan di Indonesia kurang berkualitas.

Saya tidak sepenuhnya menyetujui pernyataan ini. Namun saya juga ingin ikut mengritisi hal ini. Bisa jadi memang bahan bacaan yang berkualitas di negeri kita masih dianggap terbatas, karena yang bagus-bagus harganya sangat mahal dan jumlahnya sangat sedikit. Penyebaran buku-buku bagus, baru dijual di toko-toko buku besar dengan harga mahal, sehingga hanya sedikit yang mampu membeli.

Dengan memperluas penyediaan buku-buku berkualitas, maka akses anak-anak Indonesia untuk mendapatkan buku akan mudah.

 

  1. Medukung para penulis dengan memberikan mereka penghargaan berupa materi yang sesuai

Salah satu harapan saya, semakin banyak peran generasi muda sebagai penulis di Indonesia. Regenerasi penulis-penulis muda dengan ide-ide segar dan cemerlang ini, didukung dengan penghargaan moril dan materil dari pemerintah.

 

  1. Menjadikan budaya literasi menjadi hal penting dalam pendidikan anak-anak

Saat ini, budaya literasi rasanya belum begitu berkembang dan menjadi prioritas dalam pendidikan. Mendorong anak-anak untuk suka buku, suka menulis dan suka berkarya bisa langsung dilakukan di ranah pendidikan dasar sejak dini.

Anak-anak didorong untuk selalu membaca buku dan berlatih menulis terus-menerus. Dukungan kepada generasi muda untuk mengembangkan potensi menulis ini juga terus ditingkatkan, agar mereka tidak hanya mau berkarya namun juga mau mengajar agar semakin banyak penulis muda lahir, dan anak-anak dekat dengan dunia literasi baik digital maupun konvensional.

 

Menjadi pemimpin tentunya bukan hal yang mudah, namun juga bukan tidak mungkin. Sementara kita belum menjadi pemimpin besar yang berada di hadapan masyarakat luas, kita bisa berlatih dengan memimpin komunitas-komunitas kecil dan menjadikan impian kita terwujud dalam skala yang lebih kecil untuk kemudian kelak bisa kita wujudkan menjadi lebih besar.

Jika kita telah menjadi pemimpin yang sebenarnya.

 

 

 

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published.