7 Destinasi Seru di Makassar

7 Destinasi Seru di Makassar

Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi. Sebelumnya, saya merasa Sulawesi adalah tempat yang jauuuh dari Jawa. Membayangkan akan ke sana rasanya nggak ada. Alhamdulillah tanpa rencana panjang, alias dadakan, saya dan suami mendapat kesempatan liburan berdua saja ke Bumi Angin Mamiri ini.

Sebelum menjejelajah Makassar, kami jalan-jalan dahulu ke Toraja, baru setelahnya kami keliling Makassar.

Makassar adalah kota di pesisir pantai yang cantik, tidak terlalu ramai dan punya banyak daerah wisata yang cukup dekat satu sama lain. Dalam tiga hari, saya dan suami bisa mendatangi banyak obyek wisata yang seru.

Beberapa destinasi menarik yang bisa saya tuliskan dan mungkin bisa menjadi panduan saat teman-teman ke Makassar, antara lain:

  1. Benteng Fort Rotterdam

fort rotterdam

Sebagaimana benteng di beberapa kota lain, Fort Rotterdam dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai benteng pertahanan militer, pusat pemerintahan dan gudang penyimpanan rempah-rempah.

Letaknya yang berada di pesisir pantai, tentu sengaja difungsikan sebagai sarana untuk mempermudah keluar masuknya barang dari Indonesia untuk diangkut ke negara Belanda sana. Di sinilah, Pangeran Diponegoro pernah dipenjara hingga akhir hayatnya di tahun 1855.

Pada masa pendudukan Jepang, benteng ini digunakan sebagai penjara. Sebagaimana penjara Jepang lain yang terkenal dengan kesadisannya, di Fort Rotterdam juga demikian. Penjara yang diperuntukkan bagi tahanan pribumi, dibuat tanpa ventilasi dan padat penghuninya. Sehingga pelan-pelan mereka semua meninggal dunia karena saling tertular penyakit.

  1. Pantai Losari

pantai losari

Pantai Losari merupakan icon kota Makassar. Rasanya kurang lengkap kalau ke Sulawesi Selatan belum foto-foto di depan tulisan Pantai Losari-nya.

Saya dan suami ke tempat ini pagi-pagi sambil olahraga. Menghirup udara pantai yang segar, bikin badan terasa bersemangat.

Sayangnya, di sepanjang pantai yang sudah dibangun pijakan untuk pejalan kaki yang nyaman, penuh sampah berserakan. Ini membuat Pantai Losari jadi nggak indah.

  1. Masjid 99 Kubah

masjid 99 kubah

Berada tepat di depan tulisan Pantai Losari. Masjid yang pembangunannya ini belum selesai, tampak menarik perhatian karena warnanya yang meriah dan bentuknya yang unik. Kubah-kubah dari yang besar sampai yang kecil menjadi ciri khas masjid sehingga masjid ini diberi nama sesuai bentuknya.

Saya nggak tahu apakah jumlah kubahnya benar-benar 99 buah. Kalau penasaran berapa jumlahnya, silakan hitung sendiri.

  1. Wisata Kuliner khas Makassar

Selama di Makassar, kami sempat mencicipi beberapa kuliner khas Makassar, diantaranya Coto Makassar, Sop Konro, Pallubasa dan Es Palu Butung. Nggak banyak memang, karena memang waktu kunjungannya kurang lama. Padahal masih banyak kuliner Makassar yang harus dicoba.

Ketika kami menyeberang ke Pulau Samalona, kami ditawari sebuah kerang besar. Saya sempat mencicip daging kerang yang tanpa dimasak, tapi nggak sanggup makan banyak-banyak. Akhirnya, kerang itu dimasak bumbu pedas, dan rasanya enak banget. Dagingnya banyak.

Namun, usai makan, ketika suami mencari nama spesies kerang tersebut, ternyata jenis ini termasuk yang dilindungi. Ya Allah betapa tiba-tiba saya merasa bersalah karena makan kerang yang sudah langka ini.

Lalu terbanyang, nelayan-nelayan yang menangkapnya secara liar dan dijual seharga Rp 150.000 perekor. Begitu murah.

  1. Rammang-rammang

rammang rammang

Letaknya di Maros, sekitar satu jam dari Bandara Sultan Hassanudin, Makassar. Memang sudah ada di luar kota, tapi tidak terlalu jauh dan lalu lintasnya lancar.

Rammang-rammang adalah satu area yang terdiri dari banyak bukit-bukit yang tersusun oleh bebatuan Karst. Dan kalau kita melihatnya dari dekat, bikin takjub banget. Karst hanya ada di beberapa area saja di seluruh dunia, dan di Makassar salah satunya.

Setelah tiba si sebuah dermaga kecil,  kita perlu naik perahu untuk sampai ke Rammang-rammang, menyusuri sungai cantik berpagar vegetasi sungai dan rawa dan gundukan bebatuan yang muncul dari dasar sungai.

Lalu kita akan tiba di sebuah dermaga dengan gerbang kecil dan membayar tiket untuk masuk. Rammang-rammang sendiri adalah sebuah desa yang penduduknya nggak banyak, mungkin hanya belasan kepala keluarga. Yang tinggal di sebuah dataran dikelilingi Karst yang menjulang. Di dalamnya, ada sebuah goa yang bisa kita masuki.

  1. Leang-leang

Merupakan taman prasejarah yang terletak masih satu area dengan Rammang-rammang. Keduanya termasuk ke dalam Taman Nasional Bantimurung yang dikelola oleh pemerintah daerah Sulawesi Selatan.

Masuk ke Taman Leang-leang, kita akan menemukan barisan bebatuan Karst yang kecil-kecil, asri dan bersih. Biasanya orang singgah ke sini untuk jalan-jalan dan berfoto di antara barisan batu-batu tersebut.

Sekitar 200-300 meter dari taman tersebut, terdapat goa prasejarah yang merupakan bukti peninggalan kehidupan di masa lampau. Kita akan mendapati lukisan-lukisan tangan, hewan dan alat pertukangan yang pernah digunakan oleh manusia prasejarah tersebut.

  1. Pulau Samalona

Letaknya hanya 20-30 menit perjalanan menggunakan kapar motor. Tak terlalu jauh dari dermaga kota Makassar, di depan Fort Rotterdam.

Kita bisa menyewa kapal untuk perjalanan bolak-balik seharga 400.000 – 500.000 rupiah, tergantung kemahiran menawar harga.

Ukuran Pulau ini nggak besar, kita bisa mengelilinginya sekali jalan. Mungkin luasnya mirip Pulau Pari di Kepulauan Seribu.

Karena jaraknya yang nggak terlalu jauh dari dermaga, sehingga airnya tidak terlalu jernih. Dibandingkan pantai di Gili Nanggu atau Gili Trawangan Lombok, misalnya. Atau bahkan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, pantainya lebih cantik.

Tapi bukan berarti kami nggak bisa bersenang-senang. Kami meminta bapak pemilik kapal untuk mengantar kami snorkeling. Letak area snorkeling nggak jauh, hanya beberapa puluh meter dari pantai. Pemandangan bawah lautnya menakjubkan, dengan warna karang yang berwarna-warni dan beragam ikan bisa terlihat di sekitar kita.

Saya dibekali satu botol minuman plastik berisi nasi untuk disemprotkan ke ikan-ikan, sehingga ikan akan mendekat untuk memakan nasi tersebut. Tapi kemudian baru saya ketahui, kalau ini tidak boleh dilakukan. Karena ikan-ikan akan terbiasa makan makanan yang bukan seharusnya dimakan. Khawatirnya proses rantai makanan di habitat itu menjadi kacau. Pastinya keseimbangan populasi juga terganggu.

Manusia memang sering menjadi sumber penyebab kerusakan lingkungan yaa. Kita harus aware dengan segala hal yang kita lakukan, apakah ada efek merusak atau tidak.

 

Mempersiapkan Akomodasi Selama Traveling

Seperti biasa, setiap kali traveling, kami pasti mempersiapkan akomodasi terlebih dahulu dan itinerarynya, meskipun kami traveling dengan cara backpacker-an. Itinerary yang kami siapkan, memang fleksibel, yang bisa kami ubah sesuai kondisi.

Tapi untuk akomodasi, booking hotel jauh hari sebelum berangkat tentunya memudahkan urusan kami di sana dan supaya hati tenang juga. Karena pernah punya pengalaman nggak dapat kamar hotel saat memesan mendadak.

Urusan booking hotel, adalah tugas suami. Saya bertugas menyusun itinerary-nya. Nah, ketika kami sedang hunting hotel, kami menemukan sebuah hotel yang letaknya strategis dekat pantai. Yang paling penting adalah, restorannya mempunyai sertifikat halal. Ini tentunya bikin kami bahagia banget, hati tenang dan damai. Hehehe.

booking hotel di traveloka

Oya, sebelumnya, kami sempat memesan hotel lain dan kami batalkan. Urusan batal-membatalkan bookingan hotel  ternyata nggak selalu mudah lho. Ada aplikasi tertentu yang nggak memberi fasilitas pembatalan dengan mudah lewat appsnya, melainkan harus menelepon.

Tapi aplikasi yang satu ini, recommended untuk urusan booking hotel. Yes, kami pakai Traveloka.

 

Bahagianya Ketemu Hotel

Perjalanan tiga hari dua malam tanpa mandi, bisa dibayangkan rasanya? Kami berangkat dari rumah ke Bandara Soekarno Hatta jam 3.00 dini hari. Lalu kami berpetualangan di sekitar Taman Nasional Bantimurung, hingga sore hari. Kembali ke pusat kota Makassar dan menunggu sleeper bus yang akan membawa kami ke Toraja.

Esoknya, kami melanjutkan petualangan di Toraja Utara dan Tana Toraja, kembali ke pusat Toraja Utara sore hari dan kembali menunggu sleeper bus yang akan membawa kami kembali ke Makassar. Jadilah kami tinggal di jalanan selama 3 hari itu tanpa mandi (saya sih, sempat menumpang mandi kilat di sebuah toilet umum, tapi suami benar-benar nggak mandi).

Hari ketiga, kami sudah ada di Makassar sejak jam 6 pagi. Perjalanan di Makassar berlanjut dari sana, menyusuri beberapa tempat hingga sore harinya baru masuk hotel dan ketemu kamar mandi.

Rasanya luar biasa…. lengket. Sampai di hotel, saya mandi dan bersih-bersih sampai puas. Lalu tidur sampai besoknya. Lelah luar biasa, karena selama tiga hari nggak menemukan tempat yang bisa dipakai rebahan dan belum tidur nyenyak.

Petualangan di Makassar, kami lanjutnya esok harinya.

Selama tinggal di Makassar ini, kami tinggal di Hotel Aston yang sebelumnya kami booking hotel di Traveloka sebelum berangkat. Alhamdulillah, urusan perjalanan kami ini dimudahkan karena baik tiket pesawat, kendaraan yang menjemput di Bandara hingga hotel, bisa kami pesan di traveloka dengan mudah.

Kemudahan ini semakin sempurna begitu tahu, hotel Aston Makassar ini punya restoran yang bersertifikat halal. Makan jadi lebih bebas, dan akhirnya kami nggak usah jauh-jauh berwisata kuliner. Semua menu makanan khas Makassar tersedia di hotel.

aston makassar

Meskipun backpacker-an, urusan booking hotel dan kendaraan cukup penting juga sih. Meski nggak semuanya kami booking langsung. Ada yang kami cari dadakan supaya sensasi backpackernya terasa. Hehehe.

Namanya juga backpacker usia empatpuluhan yaa, jangan terlalu dibikin ribet. Supaya acara honeymoon backpacker berdua suami jadi lebih menyenangkan.

Share:

2 Comments

  1. September 22, 2019 / 12:13 pm

    Wah ternyata sulawesi menyimpan keindahan yang luar biasa ya teh, jadi pengen kesana tapi blm ada teman. Padahal dari balikpapan naik kapal laut juga murmer banget. Semoga suatu hari bisa kesana

    • Anne Adzkia
      September 22, 2019 / 2:15 pm

      Aamiin. Iya, dari Balikpapan deket ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *