Saat mulai menulis cerita fiksi, misalnya cerpen atau cerbung, kita akan berhadapan dengan berbagai elemen penting atau disebut juga unsur intrinsik. Elemen-elemen itu diantaranya: plot, setting, alur, konflik, suspense, dsb.

Sebelum kita memahami bagaimana menampilkan plot yang baik atau setting yg tepat, baiknya kita mengerti dulu arti istilah-istilah tersebut.… View Post

Kisah sebelumnya: Janji Hati, bagian 1 Hari-hari berikutnya aku lalui dengan perasaan galau. Ketika aku memilih sebuah jalan yang menurutku baik, ternyata apa yang aku hadapi tidak semudah persangkaanku. Meninggalkan Ronald tak semudah yang aku kira. Hubungan yang sudah terjalin selama 3 tahun ini ternyata sudah banyak melibatkan orang lain, bukan hanya aku dan Ronald. Orang tuanya sudah mengenalku, begitupun sebaliknya. Sulit melepaskan dari ikatan yang sebenarnya tanpa cela ini.

“Din, tunggu sebentar…” Panggilan itu menghentikan langkahku. Aku hafal sekali suara itu. Kuputar badan. Ranselku yang besar nyaris mengenai tubuh Yudi yang sudah mendekat. “Kenapa, Yud. Barang-barangku ada yang ketinggalan di kelas, ya?” “Ah, nggak. Kamu kok nuduh gitu sih? Aku kan bukan kurir barang.” “Hehehe, tersinggung niiih?”

Sebelumnya, di bagian ke-1 Kesedihan itu Ternyata Menular Vina kembali ke rumahnya siang itu sangat terburu-buru karena dua hal, pertama dia harus segera bersiap-siap praktik sorenya. Meskipun hari itu Sabtu, dimana sebagian besar karyawan kantoran libur termasuk puskesmasnya, tapi Vina tetap membuka praktik sorenya saat weekend. Menurutnya orang sakit bisa datang kapan saja, tanpa memilih hari libur atau hari kerja. Alasan keduanya dia terburu-buru adalah karena ingin segera bertemu suaminya, Dino, yang saat itu sedang libur weekend di rumah. Untunglah, Sabtu kemacetan Jakarta tak sepadat hari kerja. Vina bisa lebih cepat 30 menit dari waktu biasanya. Masih ada waktu untuk bertemu suaminya, mengobrol sebentar sebelum dia mulai membuka praktik dokternya.

Maraboon Cafe, Bandara Soekarno-Hatta, Banten “Laraaa, pakabar?” Sebuah suara dalam jarak radius 5 meter terdengar jelas dari tempat Lara duduk di sebuah cafe mungil di Bandara. “Baik, Vin.” Gadis bernama Lara itu berdiri dan menyambut temannya dengan sebuah pelukan hangat dan erat. “Kamu gimana? Apa kabar? ” “Baik, Ra. Aku baik, Cuma tambah gendut aja.” Keduanya tertawa.