Sebelumnya, di bagian ke-1 Kesedihan itu Ternyata Menular Vina kembali ke rumahnya siang itu sangat terburu-buru karena dua hal, pertama dia harus segera bersiap-siap praktik sorenya. Meskipun hari itu Sabtu, dimana sebagian besar karyawan kantoran libur termasuk puskesmasnya, tapi Vina tetap membuka praktik sorenya saat weekend. Menurutnya orang sakit bisa datang kapan saja, tanpa memilih hari libur atau hari kerja. Alasan keduanya dia terburu-buru adalah karena ingin segera bertemu suaminya, Dino, yang saat itu sedang libur weekend di rumah. Untunglah, Sabtu kemacetan Jakarta tak sepadat hari kerja. Vina bisa lebih cepat 30 menit dari waktu biasanya. Masih ada waktu untuk bertemu suaminya, mengobrol sebentar sebelum dia mulai membuka praktik dokternya.

Maraboon Cafe, Bandara Soekarno-Hatta, Banten “Laraaa, pakabar?” Sebuah suara dalam jarak radius 5 meter terdengar jelas dari tempat Lara duduk di sebuah cafe mungil di Bandara. “Baik, Vin.” Gadis bernama Lara itu berdiri dan menyambut temannya dengan sebuah pelukan hangat dan erat. “Kamu gimana? Apa kabar? ” “Baik, Ra. Aku baik, Cuma tambah gendut aja.” Keduanya tertawa.