Menjalani Hidup Minimalis (Being Minimalist)

Menjalani  Hidup Minimalis (Being Minimalist)

Setiap keluarga, baik secara bersama-sama maupun individual akan bertumbuh. Biasanya – ini mengukur dari pendapat pribadi – kita ingin berkembang menjadi lebih baik. Lebih makmur (baca: meningkat secara ekonomi), dimana di awal nikah oke lah kemana-mana naik motor butut. Tapi begitu punya anak dua harus udah bisa punya mobil, meskipun second.

Yep, itu dari ukuran materi. Dari sisi karir juga ingin meningkat. Contohnya, kalau awalnya hanya karyawan biasa, beberapa tahun berikutnya sudah bisa lah jadi supervisor. Dari sisi kualitas emosional, inginnya lebih matang dalam berpikir, bijak dan dewasa. Kira-kira begitulah.

Semua sudah menjadi hal yang umum terjadi dalam kehidupan manusia. Nggak ada dong, orang yang tadinya berkecukupan jadi ingin miskin. Nggak ada. Sunnatullah, manusia punya kecenderungan mengejar dunia. Artinya, ingin punya kehidupan yang lebih baik.

Saya baru membahas ini dengan suami. Well, sebenernya sering banget kami membahas tentang peningkatan materi ini. Gimana bisa punya rumah lebih baik, kendaraan lebih anyar, penghasilan lebih banyak dan sebagainya. Tapi pembicaraan yang lebih detil dan sekaligus action terjadi beberapa hari yang lalu.

Menjadi Minimalis

Sejak kami menjadi keluarga homeschooler, bertemu banyak orang dari berbagai kalangan, mengunjungi banyak tempat, sedikit banyak mengubah cara pandang kami. Bahwa kebahagiaan nggak selalu ditentukan dengan keberadaan. Memiliki banyak benda berharga, bukan tanda kemakmuran.

Oleh karena itu, ada satu bucket list yang muncul dan saya bahas bersama suami, yaitu tentang hidup minimalis.

 

rumah minimalis

Hidup minimalis artinya bukan punya rumah minimalis seperti ini ya (pic source livinator.com)

Yoiiiii, bukan minimalis yang ntuh ya. Tapi kami insya Allah kepingin mencoba menjalani hidup minimalis secara harfiah. Ya memang kalau kita meniru konsep rumah minimalis,  inti disain tersebut mengedepankan fungsionalitas interior dan eksterior, serta meminimalisir hal-hal yang berlebihan.

Intinya sih, menjadi minimalis adalah hidup dengan pikiran yang lebih sederhana dan memilih kebutuhan yang benar-benar fungsional dan efektif.

Sebagai step awal, 5 hal ini yang kami coba lakukan untuk menjadi minimalis

  1. Menyimpan pakaian hanya yang biasa dipakai.

Pernah membaca bagaimana Steve Jobs dan Mark Zuckerberg berbusana? Mereka memilih menggunakan baju dengan model dan warna sama dengan tujuan agar hidupnya nggak terlalu disibukkan dengan urusan busana. Pada momen A harus memakai apa, momen B memakai apa. Steve Jobs biasa memakai kemeja hitam, sedangkan Mark Z selalu mengenakan T-shirt abu-abu kebangsaannya.

Saya punya seorang sahabat yang demikian. Sudah kenal? Hehehe, iya. Saya sih nggak tahu motiv-nya apa, kenapa sahabat saya ini selalu memakai pakaian yang sama setiap saat. Hitam-hitam. Tapi setelah saya memahami konsep minimalis ini, saya jadi mengerti, bahwa saya MUNGKIN suatu saat akan seperti beliau dengan alasan menjalani hidup minimalis tadi.

Untuk saat ini, yang sudah kami lakukan adalah:

  • One in, one out. Ketika menambah satu baju, harus ada satu baju lama yang keluar. Jadi tidak ada ceritanya menumpuk baju di lemari.
  • Hanya menyimpan pakaian yang biasa dipakai sehari-hari. Cadangannya adalah menyimpan pakaian yang dipakai paling tidak sebulan sekali.
  • Mengeliminir pakaian yang jarang dipakai, yang dalam sebulan terakhir nggak pernah disentuh. Artinya baju tersebut tidak masuk dalam kategori baju yang dibutuhkan. Setelah menyortir semua pakaian, kami berhasil mengumpulkan dua luggage besar.

Kalau baju anak-anak memang sering ya, karena alasan bajunya sempit atau usang. Tapi kalau dewasa kan nggak membesar secepat anak-anak ya. Seringnya beli baju karena tergoda membeli yang baru dan akhirnya menumpuk.

Kami mencoba untuk nggak membeli pakaian kalau memang nggak butuh. Kalau masih cukup menggunakan yang ada, ya sudah, pakai aja yang ada.

 

  1. Menggunakan produk yang habis dipakai sampai benar-benar habis.

Jadi nggak ada kesempatan untuk menumpuk barang.

Karena yang terjadi sekarang adalah, masih sering membeli produk baru (misal handbody atau masker wajah) tanpa menunggu yang sebelumnya habis. Dengan alasan kepingin mencoba produk yang berbeda.

 

  1. Nggak mengoleksi tas, sepatu atau benda-beda konsumtif lainnya.

Membeli saat perlu saja, dan kalau ada yang sudah nggak terpakai, dikeluarkan dari rumah.

 

  1. Decluttering perabot rumah tangga

Dari semua teknik yang saya sebutkan di atas, decluttering merupakan salah satu yang cukup berat dan butuh energi. Kenapa berat? Karena kadang kita masih menyimpan beberapa benda yang sebenarnya nggak berguna tapi sayang untuk dilepas dengan alasan menyimpan kenangan. Ini paliiing susah.

Apalagi kami banyak berpindah tempat. Setiap tempat yang kami singgahi tersimpan dalam beberapa benda. Misalnya, ada satu piring plastik yang didapat Naufal saat camping pertama kali bersama Emerald Scout Club. Piringnya nggak berharga, di pasar juga banyak. Tapi kalau kami lepas, rasanya berat. Karena setiap melihat piring itu ingatan kami terbawa ke Emerald, Australia.

Dan masiiiih banyak hal lain. Apalagi yang berkaitan dengan masa kecil, orangtua yang sudah mendahului dan sejenisnya.

Tapi prinsip decluttering ini harus dijalankan, karena makin lama kita akan hoarding barang nggak penting di rumah. Satu prinsip yang kami coba tanamkan adalah jangan menyimpan banyak kenangan lewat benda-benda. Tapi simpan saja di dalam memori dan hati. Karena benda sifatnya fana.

decluttering-books

Ini yang masih belum bisa dilakukan, karena ikatan paling kuat terhadap barang adalah pada: BUKU! (pic source: soulcolor.com)

  1. Tinggal di lingkungan yang mengakomodir untuk menjalankan semuanya.

Saya sebenarnya masih bingung menerjemahkan bagian ini, karena kita nggak bisa begitu aja memilih lingkungan tempat tinggal kan. Susah untuk pindah-pindah sesuai kebutuhan.

Tapi saya terinspirasi dari doa Rasulullah yang isinya adalah “Ya Allah. Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang miskin” (HR. Ibnu Majah).

Para ahli hadits menafsirkan kata miskin ini sebagai ketawadhuan dan kebersahajaan. Juga dijelaskan bahwa Rasulullah SAW ingin hidup di tengah-tengah rakyatnya yang miskin agar lebih mudah mencari orang untuk disedekahi.

Karena inti dari hidup minimalis ini ternyata adalah banyak bersedekah. Pun ketika kita mendapat rezeki lebih banyak untuk bisa membeli barang baru, kita punya kesempatan untuk berbagi dengan mengeluarkan barang yang sudah ada sebelumnya.

Kami sekeluarga saat ini sedang berharap semoga dimudahkan untuk pindah ke tempat baru agar lebih bisa berkontribusi kepada lingkungan. Kami rindu ingin punya rumah dongeng dan baca kembali. Berbagi makanan dan berinteraksi secara sosial dengan tetangga.

Being Minimalist Needs Effort

decluttering

pic source: quotesgram

Menjadi minimalis, ternyata tidak semudah yang dibayangkan juga. Karena ikatan kita yang kuat dengan kebendaan. Apalagi jika benda tersebut memiliki nilai historis. Namun ini adalah salah satu bucket list di keluarga kami.

Secara ekstrim di Jepang ada pelaku hidup minimalis yang benar-benar hanya memiliki barang yang oaling esensial di rumahnya. Misalnya hanya punya 3-4 potong baju, 1 piring, 1 gelas dan 1 panci. Perabotnya hanya 1 buah meja, 1 kursi dan 1 tempat tidur. Dan orang ini melakukannya sebagai pilihan hidup.

Kan beda ya, orang yang hidup sederhana karena pilihan hidup dengan orang yang terpaksa hidup sederhana karena tidak mampu beli-beli barang, sementara impiannya adalah sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya setinggi-tingginya.

Jadi, jika seseorang ingin memilih hidup sederhana, kalaupun memang ternyata karena tidak mampu membeli apa-apa, tidak akan pernah merasa miskin. Dia akan merasa cukup karena memang itu adalah pilihan hidupnya dan menjalaninya dengan bahagia.

Project ke depannya sih, semoga hidup minimalis ini bisa kami jalankan dalam berbagai aspek, terutama secara psikologis. Bagaimana menyingkirkan sampah-sampah pikiran agar tidak membuat otak kita mengalami information obesity dan manajemen waktu. Tapi saya masih mencari step-stepnya, semoga bisa dimulai dengan teknik berpikir positif. Dan semua ini pada akhirnya harus bisa dijalankan secara konsisten di keluarga. [] Anne Adzkia

 

Share:

110 Comments

  1. September 6, 2016 / 7:34 am

    kalau saya sekarang jarang belanja baju karena faktor ngirit, teh anne. setelah menikah baru tahu susahnya ngatur keuangan keluarga jadi kalau belanja itu benar-benar dipikir. semoga aja sih ke depannya nggak tergiur perilaku konsumtif

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 8:30 am

      Awalnya mmg faktor ngirit ya. Selanjutnya jadi lifestyle.

  2. September 6, 2016 / 8:28 am

    Ini sudah kusounding sama istri. Udah niat tapi belom implementasi euy. Hihihi. Pusing ya mikirin dunia terus. #eaaa

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 8:29 am

      Yuk kita mulai Dan. Aku juga baru start dikit2. Yg penting mindset ya sebenernya

  3. September 6, 2016 / 8:33 am

    PR aku banget nih , mau beberes rumah dulu biar bisa hidup lebih minimalis. eh taip aku baru beli sesuatu hahaha ga minimalis jadinya. Pasti bisa..pasti bisa

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 8:35 am

      Kan mmg gapapa beli barang baru. Rumusnya, one in – one out. Jd hrs ada yg keluar tuh.

  4. September 6, 2016 / 8:36 am

    Susah menjelaskannya ke orang tua mbak, di rumahku nggak ada sofa/kursi di ruang TV, krn suka ngampar aja di karpet/bantal dan kalau mau nonton di kursi ya ada kursi meja makan, dan biar luas juga (maklum rumah imut2 hihihihi). Pas Mamah dateng diomelin dong “masa nggak kebeli kursi2 acan?” hahahahaha

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 8:42 am

      Being minimalist bukan gak boleh beli barang lho Rin. Tapi beli barang yg dibutuhkan dan gak numpuk barang lama di rumah. Beli ajaa kalo mmg butuh mah.

  5. September 6, 2016 / 8:56 am

    Suka banget sama tulisan ini Mba. Alhamdulillahnya aku ‘dipaksa’ hidup minimalis. Mengikuti suami yang pindah-pindah tugas, akhirnya malas beli sesuatu. Mikirnya lamaaa. Bener2 butuh nggak. Bukan apa-apa Mba, mikir ribet nanti pas pindahan.
    Jadi sekarang bener2 perabot ya yang urgent2 aja. Termasuk di dapur. Cukup satu panci, satu wajan, satu teflon, 5 piring dan 5 gelas, heu.
    Tapi pas belajar food fotografi, mulai deh tuh ngoleksi properti foto, huhu. Semoga ini dalam rangka belajar dan mengejar passion. Eeaaa…

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 8:57 am

      Iya mbak. Nyimpen barang yg sesuai kebutuhan mah gpp.

  6. September 6, 2016 / 9:01 am

    Soal barang lama aku suka ‘debat’ sama Mama. Suka gemes liat barang yang ga kepake tapi numpuk. Lama-lama bosan juga karena selalu kalah argumen. Tapi… aku kadang suka tergoda beli lipstik padahal stok lama masih ada. Kalau baju masih bisa ngerem karena faktor biaya hihihi. Beberapa properti kayak tas atau sepatu punya lebih dari satu dan aku juga sayang sama buku. Mikirnya lamaaa buat dikasihin karena mikirnya buat diwarisan sama calon anakku nanti. Ternyata aku masih ada sifat sayang barang dari mamaku, ya hehe

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 9:09 am

      Bener teh, kalo berhadapan dgn barang ortu suka lemah. Apalagi mamaku udah meninggal. Melepas kenangan beliau itu beraaat bgt.

  7. September 6, 2016 / 9:07 am

    Minimalis buatku pribadi adalah dengan menjaga yang sudah ada. Bersyukur pun menjadi salah satu jalannya. Namun karena kehidupan terus berjalan, maka proses bersyukur pun harus terus ditambah. Artinya, bagaimana kita bisa memberi manfaat lebih bagi orang2 sekitar, tentu disesuaikan dengan segala kemampuan yang kita miliki. Minimalis bukan berarti memenjarakan impian dan harapan, namun terus membuatnya hidup. 🙂

    Terima kasih pencerahannya mak 😘

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 9:08 am

      Masya Allah, sejuk banget bacanya mbak. Makasih yaa.

  8. September 6, 2016 / 9:07 am

    Aku juga berusaha minimalis mbaaa… seneng banget namanya buang-buangin barang =))

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 9:10 am

      Hahaha sama dong. Seneng buang2in barang. Tau2 diomelin org serumah, hihi.

  9. September 6, 2016 / 9:08 am

    Ngerasa ngaca pas baca tulisan ini hehe apalagi poin no.3.

    Aku ya sepatu buat ngapa-ngapain ya itu aja. Paling buat kondangan aja yang beda itupun jarang dipake hehe.

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 9:13 am

      Lah sama. Kalo aku sendal gunung tuh. Sendal utk berbagai acara, hihi.

  10. September 6, 2016 / 9:11 am

    Alhamdulillah kalo konsep One in, one out sudah widya terapkan. Alasannya karena memang gak suka juga punya baju banyak – banyak. Setelah baca artikel ini, jadi semakin yakin dan tercerahkan dengan menjalani konsep hidup minimalis. Makasih untuk sharingnya teh. Artikelnya inspiratif banget 😀

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:54 pm

      Semoga istiqomah yaa

  11. September 6, 2016 / 9:23 am

    Aku sdh pernah smpt menjalani beberapi step tsb mba… Tp kmdian kendur dan ga ada konsistensi jd lah mulai menumpuk lagi.
    Asalnya krn sy bukan tipe pembelanja dan penyetok barang. Mulai dr baju, tas dan sepatu yg tdk kami rasa perlu dikeluarkan dan hanya membeli saat perlu. Berhenti menggunakan credit card jg membantu mba.
    Dulu suami sy dikit2 gesek cc krn godaan discount pdhal kdang barangnya gak perlu. Trus sy minta stop. Ga usah bw2 cc di dompey. Lumayan berkurang tuh.

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 10:08 am

      Dimulai lagi yuk, barengan mb Ophi

  12. September 6, 2016 / 9:31 am

    Problem aku banget nih mba,..secara tinggal di rumah warisan nenek yang barangnya banyak banget. Belum ketambahan barang2 suami dan anak2ku…PR bangeeettt….

    Tapi insya Allah mau coba ah, mulai dari pakaian dulu nanti. TFS mba Anne

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 10:10 am

      Iya, pasti begitu deh kalo rumah peninggalan ortu. Hrs bener2 spend time declutteringnya.

  13. September 6, 2016 / 9:36 am

    Point 1 smp 3 udah reflek sy lakukan krn itu petuah ibu dr sy msh anak2, no 4 agak susah krn sejak nikah n punya rmh sendiri jatuh cinta sm dapur , susah nahan beli printilan dapur hahaa. Dan samaaa…susah nyortir buku hingga menumpuk n masih kalap klo ketemu sale.

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 10:11 am

      Buku ini PRku juga euy. Kayaknya ini yg akan awet penuhnya 😉

  14. September 6, 2016 / 9:44 am

    Wuih keren. Pengen juga bisa seperti itu. Untuk tas, sepatu, baju, saya memang gak suka ngoleksi. Da saya mah emang orangnya gak gaul. Hihi… tapu masalah produk perawatan wajah dan parfum, saya masih sedikit menumpuk. Ya itu tadi alasannya, pengen nyoba. Dan buku, jelas yang masih sulit diminimalisasi. Tfs mbak Anne, jadi ada pencerahan untuk bisa hidup seperti itu. 🙂

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 10:14 am

      Yuk teh mulai dikit2. Banyak kerjaan sih, tapi ya nungtut weh pelan2.

  15. September 6, 2016 / 9:55 am

    Aku tinggal di lingkungan yg byk kaum ekspatriatnya. Mereka kalau urusan transportasi minimalis banget juga, mending jalan kaki timbang ojek atau ngangkot

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 10:38 am

      Pengalaman jd expat mmg gitu, mikir ntar pindahannya males. Hihi

  16. September 6, 2016 / 10:30 am

    Waaah senang sekali mbak nulis ini karena sebenarnya ini sudah tekad saya sejak lama tapi selalu ups n downs. Dulu waktu msh kerja bolak balik ke Singapore msh mendukung, lha presdirnya aja naik bus. Skrg ketika balik ke Jogja, byk banget yg hrs dilawan. Tinggal di Jogja berarti banyak tamu, dimana rumah hrs lebih “pantas” menurut ukuran para orangtua yg mengkritik ketiadaan bbrp perabotan yg beliau2 anggap “pantas”. Belum lagi tiap ada resepsi keluarga harus njahitin seragam kebaya dan batik. Numpuk tuh padahal cuma sekali pakai. Untuk aksesoris tas & sepatu apalagi koleksi lipen sudah lama saya tinggalkan. Tas saya yg mahal2 lungsuran dr kakak. Mobil sejuta umat ini juga mengakibatkan kami digolongkan ke strata biasa2 saja kalau kondangan heheheee…. Soal baju, baru kejadian semalam nih, aku datang ke event pakai baju anakku (anakku udah SMA) krn baju yg lain sudah sering kupakai di foto event atau kopdaran blogger. Terselip rasa malu meski masih bagus. Tapi setelah baca artikel ini, tambah malu lagi, masa demi tampil gonta ganti baju harus pinjem baju anak? Lingkungan disini lebih menantang utk hidup minimalis.

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 10:35 am

      Tantangan sosial seringkali memang jd penghambat ya mbak. Bener bgt. Harus tahan mental

  17. Ila Rizky
    September 6, 2016 / 10:35 am

    Susah banget ini, mba. terutama buat barang2 lama yang ada kenangannya, atau kadang ada juga yang dikasih ama temen, hehe. tapi mulai dikit2 kurangi buku sih 😀

  18. September 6, 2016 / 10:57 am

    keluargaku udh minimalis barang2nya. mungkin krna kebiasaan pernah merantau dan sering pindah rumah.
    tinggal maenan si bungsu nih yg bejibun. mau dibuang ntar anaknya nanyain, ga iklas gitu :p

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 11:00 am

      Hihi tunggu anaknya agak besar supaya bisa diajakin nyortir mbak

  19. September 6, 2016 / 11:51 am

    Inspiring banget Mba Anne. Cuma yang lotion dll itus ering dapet dr event2 blogger jd numpuk. Padahal udah dikasih kasihin ke org juga. Hehe. Kayaknya seru kalau tiap hari bajunya itu2 aja. Sayangnya di kantor ada ketentuan seragam 😀

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 11:55 am

      Nah seragam udah mempermudah proses sebenernya, Nia. Gak usah repot mikir pake baju apa kalo ngantor.

      • September 6, 2016 / 2:33 pm

        Iya juga ya, jadi ga sesering belanja kayak teman2 yang ke kantornya bebas sih 😀

        • Anne Adzkia
          September 6, 2016 / 2:34 pm

          Betuuul

  20. September 6, 2016 / 12:00 pm

    Inspiratif sekali, Mbak Anne. Walaupun prakteknya akan sulit, tapi gak salah dicoba. Apalagi soal barang-barang kenangan itu. Hehehe.

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 12:14 pm

      Kayaknya cocok deh dgn tipsnya Lia, one day limapuluhribu itu. Kan berhemat ya

  21. September 6, 2016 / 12:14 pm

    Saya sudah mulai setahun ini, tapi kok masih ngerasa terlalu banyak barang di rumah.
    Yg jadi permasalahan saya sekarang adalah kemana ngasihnya, terutama untuk pecah belah.

    • Anne Adzkia
      September 6, 2016 / 12:17 pm

      Pernah nyoba ngasih random mbak? Ke siapa aja yg ditemuin di jalan.

  22. September 6, 2016 / 12:23 pm

    minimalist gampang-gampang susah benernya

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:31 pm

      Iya, karena seperti mengubah gaya hidup

  23. September 6, 2016 / 12:55 pm

    Thanks sharingnya teh….aku masih bingung gimana mau nyingkirin pecah belah ortu yang banyak bgt. Koleksi bukuku juga jauh dari konsep minimalis. Walhasil rumahku berantakan selalu huhuuu

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:33 pm

      Dijual, bikin garage sale atau dibagikan. Mungkin nggak?

  24. lingkarcyber
    September 6, 2016 / 1:20 pm

    tulisannya menarik dan hal ini yang harus banyak dilakukan oleh keluarga indonesia, ditunggu mba anne tulisan selanjutnya tentang information obesity dalam hal step – stepnya (stress ni klo g bisa diolah)

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:33 pm

      Insya Allah ^^

  25. September 6, 2016 / 1:34 pm

    wah, ini PR banget buat aku. Masih banyak baju yang belum disortir mbak.. oke deh, aku harus semangat lagi beres-beresinnya 🙂

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:34 pm

      Semangat mbaaak ^^

  26. September 6, 2016 / 3:24 pm

    Aku termasuk yg jarang beli baju karena mikir takut ga muat, mikir mau kemana dll.
    Yg harus dikurangi jajan makanan nih kalo aku 🙁

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:36 pm

      Hehehe..aku juga doyan jajan nih 🙂

  27. September 6, 2016 / 3:45 pm

    Kepingin, tapi nggak untuk saat ini. Masih pingin menikmati masa-masa kuliah yang seru untuk gonta-ganti baju tiap ngampus. :’)

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:36 pm

      Hihihihi…take your time 🙂

  28. September 6, 2016 / 3:50 pm

    Setuju mba, apalagi poin 3. Saya malah jarang beli tas, cukup punya satu, kalau udah rusak baru deh hehe

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:37 pm

      Kalo aku sepatu & sendal kayak gini

  29. September 6, 2016 / 4:11 pm

    Konsep baju, masuk satu keluar banyak sudah bisa jalan mba.
    Pakaianpun banyak yang tidak beli sendiri mba, hehehe .
    Mencoba konsisten, meskipun alasan sekarang adalah karena situasi dan kondisi yang limit

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:38 pm

      Kadang akhirnya kita “dipaksa” sebentar, lama-lama jadi kebiasaan baru malah 🙂

  30. Teta
    September 6, 2016 / 5:38 pm

    Wow…saya jadi ingin menjalankan ini. Suami saya meninggal bulan maret kemarin saat bersih2 rumah begitu banyak barang pribadinya terutama baju2. Saya mau sumbangkan koq anak q g bolehin…hmm..semoga seiring waktu bisa mengikhlaskan barang2nya..

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:38 pm

      Semoga dimudahkan mbak. Perlu waktu juga pastinya yaa

  31. September 6, 2016 / 6:11 pm

    Teteeeeh…. Makasiiih tulisannya. PR banget buat yanti nih. Suka numpuk barang.. Heuheu…

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:39 pm

      Buku Yaaan…buku. Hehehe

  32. September 6, 2016 / 7:32 pm

    baca ini sambil lirik-lirik barang di sekitar…. inspiratif! sering saya berpikir hal yang sama ketika mendapati barang-barang di rumah ortu menumpuk nggak kepakai…

    suami sering bilang hal yang sama, ketika satu baju terbeli satu baju harus keluar dan belakangan saya pun berpikir ketika satu barang bisa dipakai buat apa beli lebih terutama ketika memandang sepatu kerja yang hanya satu, hehehe, disyukuri yang ada, uang buat beli sepatu misalnya mending buat beli buku 😀

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:41 pm

      Kalau di rumah ortu biasanya spt itu ya. banyak barang menumpuk sejak lama

  33. September 6, 2016 / 8:04 pm

    tulisan ini membuat saya mengingat kembali salah satu klausul saya dan suami di awal pernikahan, menjalani hidup sederhana. tetapi lingkungan juga banyak mempengaruhi menurutku mb. Makanya untuk tetap menjalin silaturahmi dengan orang2 shalih yang menjalani hidup sederhana itu penting. Agar kita selalu ingat hidup cuman mampir ‘ngombe’.
    salam kenal mba Anne, saya juga keluarga homeschooler dr Jogja 🙂

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:42 pm

      Salam silaturrahim mbaak…memang perlu ya kita memperbarui kembali komitmen dgn suami

  34. September 6, 2016 / 8:17 pm

    ibuku tu suka banget numpukin barang-barang 😀
    rumah minimalisnya jadi sesek hehehhe

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:44 pm

      Hihihi hoarding ya mbak?

  35. September 6, 2016 / 8:19 pm

    iya, kehidupan minimalis tulisan teh anne aku banget.Mendapatkan suami menjalani dengan cara sangat2 sederhana.
    Di rumah pun, hanya perabotan yang benar2 dibutuhkan dan berfungsi.
    Barang2 pribadi, kalo dah rusak baru beli hahahaa, ga punya koleksi p

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:45 pm

      Siyap Teeeeh. Keren deh.

  36. September 6, 2016 / 8:31 pm

    hidup minimalis kalau kata pak Jokowi mah hidup sederhana, dengan kesederhanaan dan apa adanya tanpa selalu mengedepankan hidup hedonis tentu menjadikan kita jadi manusia yang lebih hakiki, meskipun tantangan dunia jaman sekarang cukup menjadikan rada kesulitan untuk perimbangan kita menuju hidup minimalis

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:46 pm

      Tantangan hedonisme memang mengintai, Mas. Bener sekali.

  37. September 6, 2016 / 9:21 pm

    Sepakat sama semua poin yang Mbak sebutkan. Membaca tulisan ini membuat saya semakin bersyukur dan mengerem banyak keinginan yang tiada habisnya–yang sebenarnya enggak apa apa juga kalau tidak dipenuhi. Semata mata dorongan impulsif atau tekanan sosial. Nonjok banget doa Rasulullah itu memang. Saya juga berencana pindah, menemukan tempat yang lebih menawarkan peluang bagi kami untuk bermanfaat dari apa yang kami punya atau bisa. Dimulai dari sortir benda benda fisik, semoga berhasil. Terima kasih.

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:46 pm

      Semoga dimudahkan ya Mas. Aamiin

  38. September 6, 2016 / 9:32 pm

    Bisa jadi menumpuk benda juga lantaran tipuan pikiran yang menjanjikan barang barang itu bisa menjadi investasi sehingga terasa sayang saat akan dibuang atau dihibahkan.

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:48 pm

      Godaan dunia, sunatullah, memang begitu. Padahal kalau sudah digenggam, belum tentu bikin kualitas diri kita lebih baik kan #selfreminder

      • September 17, 2016 / 9:09 pm

        Iya, Mbak. Tapi entah mengapa masih sering tertipu ya. Kadang terbuai oleh godaan manusiawi. Padahal kalau dipertahankan, belum tentu jadi kebaikan untuk kita. #sayacatat

  39. September 6, 2016 / 10:35 pm

    Siap praktek deh. Besok merapikan gudang hihi, thanks sharingnya ya Mbk.

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:48 pm

      siap, laksanakan 😀

  40. September 7, 2016 / 12:37 am

    Keren mba Anne 🙂

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:49 pm

      Latihan yuk…aku baru mulai kok inih

  41. September 7, 2016 / 3:10 am

    sejak mengalami “kerampokan” dalam dunia bisnis, sudah minimalis teh Anne, tapi makasi ya tipsnya. soal buku saya masih sulit nih meminimalisirnya

  42. September 7, 2016 / 8:41 am

    wah, bermanfaat banget nih infonya mbak anne, aku sekarang kebingungan dengan baju yang memenuhi lemari. setiap beli baju baru, suami selalu ingatin kalo baju dilemari masih banyak tapi ya sering bernafsu dan lapar mata kalau lihat baju diskon

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:49 pm

      Godaan online shop pula yaaa…;p

  43. September 7, 2016 / 10:04 am

    Ya Allah, Pas baca ini lagi menggali lebih dalam pikiran- pikiran sampah dalam otak ini. Selama ini sering jalan ala backpack, berusaha seminimalis mungkin barang bawaan. lama kelamaan, hidup juga ngikutin. More light, more eazy to move and live getting eazier.

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:51 pm

      Betuuuuul mbak. Perlahan, perjalanan membuat kita begitu ya

  44. September 7, 2016 / 10:57 am

    Aku punya slogan, cieee, hehehe.. slogan gini nih: beli baju 1, kasih 3 baju untuk orang yang butuh. Jadi berkurang lumayan isi lemari. Tapiiii, kalo untuk buku, aku paling susah melepas. Kecuali kalo untuk sumbang rumah baca, sekolah anak-anak, oke deh diikhlasin. Tapi kadang malah beli untuk nyumbang gini, bener2 sayang melepas buku koleksi, hihiii

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:52 pm

      Wah, sama bgt nih denganku ;p

  45. Humaira
    September 7, 2016 / 2:49 pm

    Iya ya memang harus niat. Ternyata memang bisa. Teh Anne, sy jg baru merantau k sudut desa d kalsel sy bawa baju hanya beberapa saja pdhl di bandung numpuuuuk selemari besar. Ternyata lbh asik setelah disini..g pusing mau pake baju apa. 😀😁. Dan gada yg komen.

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:53 pm

      Merantau ke Kalsel dimana? Aku pernah di Tabalong 3 tahun.

  46. September 7, 2016 / 8:33 pm

    aku sedang berjalan mba. mulai pakaian sikap dll lagi menuju insyaallah lebih baik. mengganti kalau emang sudah tidak bisa dipakai lagi. makanan juga tidak menyia2kan.
    untuk mainan dan perabotan yg tidak dipakai lagi juga lumayan ngurangi dan baru sadar ternyata emang banyak yg g dibutuhin disimpen xD

    • Anne Adzkia
      September 7, 2016 / 8:35 pm

      Semoga istiqomah Cha

  47. September 7, 2016 / 11:34 pm

    Saya juga mulai menerapkan untuk lebih minimalis. Rumah jadi keliatan lebih luas, nyuci baju nggak terlalu banyak, lebih less-effort buat menata dan membersihkan. Duit juga jadi lebih hemat hehe

  48. September 8, 2016 / 8:56 am

    Mba Anne, setuju sekali dengan pemikirannya. Terima kasih telah berbagi 🙂

  49. retno
    September 8, 2016 / 10:27 am

    Sepakat mbak, udah beberapa kali ajak pak suami untuk “bersih2” rumah tapi belum sempat juga…apa mending aku lakukan sendirian ya hehehe… btw paling susah sama barang kenangan apalagi kalo pemberian….

  50. September 9, 2016 / 10:21 pm

    Inspiratif sekali mbak…saya sudah menerapkan masuk satu keluar satu buat baju.Tapi mengapa masih penuh juga ya? Kadang baju kenangan masih saya simpan meski sudah gak dipakai lagi.Itu yang bikin penuh

    • Anne Adzkia
      September 18, 2016 / 6:55 am

      Masih menyimpan kenangan di baju ya mbak, hihi. Itu yg bikin penuh kayaknya

  51. September 24, 2016 / 4:45 am

    hi mba, mungkin prinsipku bukan minimalis ya…tapi selalu punya barang yang memang membuat hati senang saja..kalau tidak discard….akhirnya ternyata akan terseleksi sendiri..
    kalau sampai tampak seperti minimalis itu bonus…hihihi

  52. September 27, 2016 / 11:30 pm

    Alhamdulillah kebetulan sudah saya terapkan semua. Hanya untuk poin 3 dan 4 awalnya rada susah. Saya berprinsip bener2 minimalis utk poin 3 tapi terpaksa kebalikannya ( jadi saya sukanya pake 1sendal (teplek) dan 1 sepatu untuk semua suasana,eh pas di acara/ pesta ada yang protes ngeliatin kakiku kayak ada yang salah cuma karena gak pake sendal pesta cewek ). Karena gak enak, besok2nya tak belilah sendal cewek yang feminim gitu (hampir mendekati wedges lah). Trus point 4, prinsipnya cukup 2 piring dan 2 gelas (1 untuk sendiri,1 untuk tamu,klo ada. Hehehe.. ) tapi yang sedih itu ketika harus pisah sama buku2ku. Hobi banget baca dan beli buku soalnya. Awalnya berat banget, tapi Alhamdulillah bisa juga melepas dengan ikhlas. Pasrah wae, insha Alloh diganti dengan yang lebih baik.
    Oya salam kenal mbak anne

  53. October 8, 2016 / 2:07 pm

    Salam kenal mba Anne, ini kali pertama saya berkunjung di blog mba Anne dan saya langsung betah. Hehe jangan bosen kalo nanti saya sering mampir ya mba… betul sekali mba saya setuju jika decluttering itu adalah step yang ngga mudah dan cukup menguras emosi dan energi. 2 bulan yang lalu saya memutuskan untuk menjalani gaya hidup minimalis dan hingga saat ini saya masih dalam proses, tak ada yang saya lakukan dengan cepat dan singkat mengingat saya juga harus fokus merawat balita saya. Untuk sekedar berselancar di dunia maya saya lakukan saat anak saya tidur. Saya juga merasakanhal yang sama saat harus melepas buku buku….hufft berat sekali rasanya, juga barang barang yang punya nilai historis dan emotional, tapi itulah yang selama ini juga ternyata membuat hidup kita terasa berat ya. Senang baca tulisan mba anne yang kompak dengan suami, alhamdulillah suami saya pun demikian. Terimakasih sudah berbagi ceritanya, ditunggu postingan2 berikutnya yah mba…

  54. diptra
    October 20, 2016 / 7:22 pm

    yeaayy akhirnya nemu tulisan yang membahas hidup minimalis. 🙂
    first time here, keren sudah menjalankan hidup minimalis bersama keluarga.
    selama ini saya baru nerapin ke diri sendiri sambil meng-influence kepada keluarga walo belum berhasil hihihi..
    anyway saya juga nulis-nulis tentang hidup minimalis, jadi senang rasanya punya teman seperjalanan…

    • October 20, 2016 / 8:10 pm

      Wah ada mas Diptra, blog mas diptra termasuk salah satu sumber saya belajar hidup minimalis di Indonesia.. Salut buat blogger yang bisa konsisten menjalani gaya hidup minimalis dan sharing di blognya. Ingin rasanya bisa menulis yang baik seperti mereka. Sepertinya saya harus ikut kelasnya mba anne nih.

  55. January 12, 2017 / 11:10 pm

    konsep minimalis ini sebenarnya impian banget sih, cuman terkadang meninggalkan keinginan untuk membeli barang barang yang tidak perlu itu merupakan tantangan sendiri….

    • Anne Adzkia
      January 23, 2017 / 2:26 pm

      No pain no gain memang, dan hrs bertahap juga

  56. February 27, 2017 / 2:59 pm

    Mba, apakah sekarang buku-buku Mba masih disimpan? Aku masih sulit untuk menyumbangkan buku-bukuku tapi itu pula yang cukup menyita tempat. Oh ya, bagaimana dengan perabotan makan? Aku rencana menikah tapi aku juga males lihat perabotan makanku di kos banyak begitu.

    Terima kasih.

    • Anne Adzkia
      March 1, 2017 / 11:22 am

      Buku masih kusimpan mbak. Itu satu2nya yg gak bs aku sumbangkan buat siapapun. Kalo perabot dapur mendingan dipilih yg paling penting aja. Biar ga menuh2in

  57. March 31, 2017 / 5:04 pm

    Salam kenal, hehe.
    Aku pernah bilang sama orangtua ingin hidup minimalis, misalnya mengurangi piring, gelas dan panci jangan banyak-banyak secukupnya aja, soalnya piring dirumah banyak, belom lagi hadiah apa gitu dapet piring/gelas cantik. Panci juga di rak ngabisin space.

    Tapi dibilangnya nggak bisa hidup kayak gitu, piring itu perlu kalau ada apa apa.. walah..

    • Anne Adzkia
      March 31, 2017 / 5:07 pm

      Salam kenal juga…
      Kita bisa mulai hidup minimalis saat punya rumah sendiri kelak 🙂 semoga lancar yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *