Fobia Kucing itu Bisa Sembuh, Kok. Beneran!

Fobia Kucing itu Bisa Sembuh, Kok. Beneran!

Fobia kucing, ini yang saya alami di sepanjang hidup saya. Sejak kecil, saya takut pada hewan apapun. Jangankan yang serem seperti ular dan buaya, yang lucu macam kelinci dan anak ayam aja saya pernah lari tunggang-langgang karena ketakutan.

Entah apa yang saya alami waktu kecil, sehingga saya seperti punya trauma tersendiri saat berhadapan dengan hewan. Apalagi kalau lihat cecak dan jenis reptil lainnya. Lihat lewat gambar aja takut. Jadi jangan suruh dekat-dekat deh.

Saya nggak pernah nyangka, apalagi berharap untuk punya anak pecinta hewan. Tapi ketika menemukan fakta bahwa anak-anak saya ternyata pecinta hewan, rasanya gentar sekali. Apalagi Kayyisha, dia nggak takut memegang hewan apapun. Rasanya hanya ulat yang dia agak gentar untuk pegang. Tapi yang lain, dia malah suka (baca: Kayyisha dan Passionnya di Dunia Hewan)

Pernah suatu kali, anak-anak memelihara cecak. Awalnya karena kasihan pada si cecak yang kurus kering dan susah mendapatkan makan. Anak saya menyimpan cecak itu dalam sebuah wadah transparan, beserta makanan untuknya. Saya geliiiii banget setiap lihat cecak itu. Geli di sini maksudnya jijik lho ya. Si cecak kecil ini dipegang-pegang, dielus dan dicium segala.

Karena kesukaannya pada hewan, mereka juga jadi ingin memelihara binatang. Entah sudah berapa jumlah marmot (guinea pigs) yang mereka pelihara sejak tinggal di Australia dulu. Lalu juga kelinci.

Buat saya, hewan ini masih aman untuk dipelihara karena mereka ditaruh dalam kandang, nggak berkeliaran. Saya juga membiarkan anak-anak main dengan hewan-hewan ini selama jauh-jauh dari saya. Pokoknya semua urusan perawatan mereka yang urus.

Saya senang sih, karena dengan memelihara hewan, ternyata melatih anak-anak tentang tanggung jawab. Mereka harus belajar memahami kebutuhan fisik dan psikologis hewan, belajar tentang hewan yang dipeliharanya dan membersihkan kotoran & kandangnya.

Tapi ada yang berbeda ketika anak-anak minta memelihara kucing. Iya, KUCING.

Tahu sendiri gimana karakternya kucing. Dia tidak mungkin dikandangi, karena bisa stress. Kotorannya bau seperti kotoran manusia. Anak kucing itu sangat aktif, lari kesana-kemari, biaya perawatan mahal dan sebagainya.

Rasanya seperti NIGHTMARE.

Saya bilang belum siap untuk memelihara kucing. Hingga suatu saat, pintu belakang rumah kami didatangi seekor kucing kampung yang kurus dan kulitnya sebagian rusak.  Saya yang takut kucing aja merasa iba, apalagi anak-anak. Akhirnya anak kucing ini dirawat oleh anak-anak, namun ditempatkan di teras rumah. Dia disediakan makanan setiap hari, dimandikan dan diajak main.

Saya? Masih tetap punya fobia kucing. Merawat kucing seperti ini menurut saya aman, karena anak-anak nggak perlu sampai bersih-bersih kotorannya. Anak kucing, yang diberi nama Charlie ini, punya tempat khusus untuk buang air, yang bukan di area rumah kami.

Dia tumbuh sehat dan sekarang sudah dewasa. Malah, sudah punya keluarga (istri dan 4 ekor anak) 😃.

Tantangan saya selanjutnya adalah ketika anak-anak ingin punya kucing yang dipelihara di rumah. Alasannya sih karena si Charlie kadang kabur entah kemana ketika di masa “birahi”nya. Sempat hilang beberapa lama sampai akhirnya datang kucing betina bernama Kate, yang sekarang hidup bersama Charlie.

Tapi karena anak-anak nggak lagi bisa merawat Charlie secara full, mereka butuh kucing lain. Dengan dukungan penuh dari suami, anak-anak memelihara MILO, seekor kucing Persia yang kami adopsi ketika usianya kurang dari 3 bulan.

Baca juga: Memilih Makanan Kucing yang Tepat.

manfaat merawat kucing

Milo punya karakter yang berbeda. Dia sangat aktif, suka menggigit-gigit apa saja yang ada di dekatnya, termasuk jari kaki, tangan dan kepala. Kebayang kan, saya paranoidnya kayak apa. Milo kami letakkan di kamar belajar anak-anak, kadang juga bermain di ruang keluarga.

Tapi kalau saya mulai terganggu, biasanya saya menjerit ketakutan dan anak-anak mengajak Milo masuk kamar. Kehadiran Milo memang menyenangkan, anak-anak punya teman main dan mereka merawat full Milo termasuk mengatur jadwal membersihkan pasir dan memandikannya.

Suatu kali, anak saya bilang, “Ummi, please try to pet him. Milo’s fur is so soft. You gonna like it.”

What? Baiklah, saya pegang dikit aja. Pakai ujung jari.

Sungguh, saya sebenarnya mulai suka Milo. Dia kucing yang lucuuuu banget, bulunya bagus. Rasanya kepingin dekat-dekat Milo, tapi kalau sudah didekati saya gemetaran. Apalagi Milo merupakan kucing yang agresif. Dia nggak segan-segan menyambar kaki kita kalau lewat di dekatnya. Senang gigit-gigit apa saja.

Hingga suatu hari, anak saya merayu lagi, “Mi, could you stay closer to Milo. Just let him walk near you and don’t go away.” Saya bilang, “Nanti ya pelan-pelan. Ummi kan udah berani elus dikit-dikit. Kalau sampe duduk bareng, kayaknya nanti deh.”

Perlahan, rayuan anak saya ini membekas terus, terngiang-ngiang. Hingga pelan-pelan saya menurunkan fobia kucing saya, mencoba berdamai bahwa kucing adalah hewan yang aman untuk didekati. Buktinya anak-anak dan suami bisa kruwelan sama Milo.

Kalau saya bisa bilang ke mereka “FACE YOUR FEAR” saat mereka takut melakukan sesuatu. Harusnya saya juga bisa bilang ke diri sendiri hal yang sama.

memelihara kucing

Akhirnya, pelan-pelan fobia kucing saya berkurang. Saya sekarang sudah bisa elus-elus dan sayang-sayang Milo, meski belum berani gendong karena kadang Milo masih agresif. Umur Milo sekarang sudah menjelang 7 bulan, badannya sudah besar karena bulunya lebat.

Nggak ada yang nggak bisa menyayangi Milo karena dia memang lucu dan menggemaskan. Dan anak saya masih menagih janji saya, bahwa suatu saat saya akan berani menggendongnya.

menghilangkan fobia kucing

 

 

Share:

8 Comments

  1. April 5, 2017 / 7:46 am

    Aku malah suka kucing. Tapi sayang gak boleh pelihara :'(

  2. April 5, 2017 / 12:26 pm

    Si Kakak di rumah sukaa banget sama kucing. Sayangnya dia ada alergi sama kucing. Kasian sih, tapi yaa akhirnya dipilih alternatif lain dengan ngasih makan aja di luar rumah tapi ga bersentuhan langsung.

  3. April 5, 2017 / 12:35 pm

    aku bukannya takut, tapi geli mba

  4. April 5, 2017 / 2:27 pm

    Aku awalnya geli juga. Tapi sejak adikku piara kucing (yang awalnya aku tentang banget opps) lama-lama malah kita yang ngurusin kucingnya. Tapi kucingnya udah diadopsi orang lain, jadi gak keurus, dikurung terus soalnya suka nyakar perabotan haha.

  5. April 5, 2017 / 2:54 pm

    kalau saya dari kecil malah udah terbiasa punya kucing. sekarang kucing di rumah ada 8. kadang bikin sebel karena pup-nya sembarangan tapi nggak tega mau buang

  6. April 13, 2017 / 12:04 pm

    aku dulu sempat memelihara kucing, namun karena kucing nya berulah jadi sebel deh …
    tapi sekarang biasa aja, namun kalau harus merawat kucing susah kali ia …

  7. May 20, 2017 / 8:28 pm

    Aku sih nggak takut kalau ngeliat kucing lucu cuma kalau dekat atau nempel ke bulunya suka geli. Apalagi kalau ekornya gerak-gerak nempel di kulit pasti langsung kaget atau merinding.

  8. May 21, 2017 / 10:55 pm

    hi Milo cakep amaat mba 😍dirumah ada 2 persia satu jantan n betina bagiku kehadiran mereka kasi hiburan bgt sama tingkahnya mereka yg kadang nyebelinkadang gemesin ☺️

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *