Emak-emak, Ayo Jangan Gaptek Lagi

Emak-emak, Ayo Jangan Gaptek Lagi

Empat tahun yang lalu, ketika saya baru memulai oprak-oprek blog, saya sering mengeluh “Duh, saya gak paham beginian. Gaptek kronis. Tolong dong, “ pinta saya pada seorang sahabat, dokter gigi yang juga blogger.

Dia sering ngingetin saya, “Lu harus kalahkan gaptek ini. Ayo belajar.”

Tapi ya, yang namanya emak-emak, tanpa background ilmu teknologi, sulit harus mengejar ilmu yang satu ini dari bawah. Apalagi background saya dunia Kedokteran Gigi. Yang praktis, nggak banyak bersentuhan dengan dunia teknologi perangkat lunak. Hanya sedikit aja kenal teknologi material kedokteran gigi dan peralatan yang sudah built in, tinggal pakai saja. Kalau ada masalah, tinggal panggil teknisi.

Kemudian ketika memasuki dunia komputer, tentu akan kalah jauh jika dibandingkan dengan mereka yang sudah menekuni bidang ilmu ini lebih lama. Apalagi saya kan termasuk angkatan jadul, yang belajar chatting dulu di MiRC dan ngecek email belum tentu sebulan sekali ini *ini sebenernya pengakuan umur secara terang-terangan*.

Begitu masuk ke dunia emak-emak (bahasa kerennya: motherhood), sepertinya urusan popok dan dapur mendominasi, mana sempat belajar tentang teknologi. Sepertinya otak macet kalo diajak membahas teknologi.

Namun lama-lama, siapa aja pada akhirnya terbawa juga arus teknologi yang perkembangannya tidak terbendung ini. Apapun disiplin ilmunya, semua dipaksa untuk melek teknologi. Minimal untuk menggunakan smartphone, yang isinya ada photo editing, digital make up dan nyanyi jarak jauh itu. Ujung-ujungnya, mulai deh nini-nini yang paling merasakan pergantian zaman pun ikut membuka wawasan mereka.

Apalagi saya, yang masih muda ini (perlu bukti?) dan masih jauh kalau dibandingkan nini-nini ya. Rasanya mau gak mau harus belajar memahami teknologi. Bukan hanya agar dianggap up to date, tapi untuk mendapatkan manfaat yang lebih luas.

Berikut beberapa manfaat yang saya rasakan dengan belajar memahami teknologi:

  1. Bisa mengemukakan buah pikiran

Salah satu media yang saya gunakan untuk mengeluarkan isi kepala adalah blog. Dan ini merupakan sebuah kesempatan yang luar biasa buat saya bisa menulis blog, memahami setting perbloggingan mendasar, seluk beluk perangkat lunaknya dan memonetisasinya sehingga menjadi sumber inkam tambahan di keluarga.

Thanks to technology.

Menulis blog bagi para emak, selain bisa mengikat ilmu, juga bisa membagi sebuah pola pikir (fikrah) yang baik, berbagi ilmu dan mencegah munculnya beragam penyakit. Sebutlah beberapa penyakit yang berhubungan dengan daya ingat, ini insya Allah bisa dicegah dengan menulis, membaca dan berpikir.

Belakangan, blogging semakin memberi kesempatan saya untuk belajar banyak tentang teknologi. Meski masih dibilang simpel, tapi at least, saya sudah bisa mengotak-atik tampilan blog sendiri sesuai selera dan mulai paham ilmu-ilmu SEO meski belum sepenuhnya dipraktikkan.

Baca juga: Blogging itu ternyata hardcore juga dan Aplikasi yang harus ada di hapenya blogger.

 

  1. Menemani anak menekuni dunianya

Alhamdulillah saya sempat memaksakan diri untuk lepas sedikit demi sedikit dari kegaptekan. Dari belajar sendiri, berguru secara online hingga mencari guru tatap muka, saya coba lakukan. Meski berat, karena bagaikan memulai sebuah proses belajar dari awal lagi, saya paksain. Ujungnya memang bikin kepala ngebul, tapi kemudian saya rasakan manfaatnya.

Ya, kita nggak bisa menyamakan kecepatan otak kita dengan otak anak-anak kita. Cara mereka memahami teknologi memang dahsyat. Namun, setidaknya, kita nggak jauh-jauh amat lho kalau kita melatih diri untuk mengasah logika teknologi.

Jadi ketika anak kita mengajak ngobrol tentang dunianya, kita paham. Ketika anak kita mulai melangkah lebih jauh, kita bisa mengantisipasi mereka. Menjaga mereka dan menemani anak-anak menjalani passionnya. 

Tidak sedikit orangtua yang gak mau tahu tentang teknologi ujung-ujungnya ditinggal oleh anak. Ketika anaknya masuk dunia yang salah, mereka gak paham. Nah ini bahaya. Jangan jadi emak gaptek, ya.

 

  1. Membantu pekerjaan rumah terutama yang menggunakan alat-alat teknologi.

Jadi jangan tuh ada emak-emak yang bilang, “Gak ah, gak mau pake kompor listrik karena nggak bisa pakenya” atau mengandalkan orang lain saat menyalakan salah satu perangkat rumah tangga.

Jaman sekarang, semua mudah dipelajari. Semua yang dulu hanya bisa dilakukan oleh kaum lelaki, kini menjadi mudah untuk dikerjakan perempuan. Mulai dari peralatan dapur hingga mengetahui indikasi AC rusak, emak-emak bisa belajar.

Lihat videonya di youtube, ikuti tutorialnya dan jangan malas membaca. Segala hal bisa kita peroleh di internet, dunia seakan terbuka lebar menuju kemana saja dengan adanya jaringan dunia maya yang luas.

Udah nggak musim ya emak-emak tergantung orang lain. Kita harus bisa hidup mandiri dan anti mati gaya.

 

  1. Membuka kesempatan para emak untuk improvisasi dan upgrading ilmu.

Sekarang sudah banyak emak-emak cerdas yang berprofesi sebagai vlogger, digital designer, grapher dan sebagainya. Meski bukan sebagai profesional yang bekerja untuk perusahaan tertentu, melainkan untuk menunjang kebutuhan keluarganya. Namun secara nggak langsung, memberi manfaat untuk orang lain.

Dengan memahami teknologi, emak-emak bisa berbagi ilmu dari rumah, tentang mengurus anak, mengolah makanan, mendidik keluarga, dan sebagainya. Semuanya nggak selalu dinilai dengan uang. Namun, rasakan betapa besar manfaatnya ketika ilmu tersebut jatuh ke orang yang benar-benar membutuhkan.

Dengan berbagi, secara nggak langsung kita juga sedang mengasah dan meningkatkan kemampuan kita. Semakin kita mencoba hal baru, bertambah juga kapasitas kita. Nggak salah kok jadi emak kekinian.

 

Jadi para emak, ayolah. Kalau masih merasa “Saya mah gaptek”, buang pikiran itu jauh-jauh. Mulai dari sekarang, buka mata dan telinga kita. Baca situasi sekeliling. Lebarkan sayap kita sedikit aja, nggak perlu jauh-jauh, agar suami dan anak-anak masih bisa menjangkau kita saat mereka membutuhkan.

Dunia ini masih butuh kita lho. Terutama dunia yang terdekat, yaitu keluarga. Bebaskan diri dari gaptek dan jangan lagi merasa dunia kita sempit. Buka pikiran dan wawasan. Kenali potensi orang-orang terdekat, “curi” ilmunya dan serap energinya.

Insya Allah, kita masih bisa berbuat sesuatu untuk dunia. Nggak percaya? Coba aja sendiri.

 

emak gaptek

 

“Jangan remehkan emak-emak dasteran yang ngaku gaptek. Begitu mereka kenal teknologi, kelar hidup lo.”

 

Share:

6 Comments

  1. December 19, 2016 / 11:42 am

    hihihi…. foto terakhirnya dgn kalimat kekinian 🙂 berkat ngeblog, sedikit demi sedikit kegaptekan saya mulai terkikis *halah* 😀

    • Anne Adzkia
      December 19, 2016 / 12:00 pm

      Iya mba, samaa. Blogging membuka jalan spy mengurangi gaptekku yg parah

  2. December 21, 2016 / 10:42 am

    haseeeekkkk quote terakhirnya kekinian bgt mbaaaak qiqiqiqi

  3. December 31, 2016 / 11:00 am

    Saya setuju semua, terutama yang nomor tiga, kak. Karena zaman sekarang nggak semua hal terkesan hanya bisa dilakukan lelaki saja saja, tapi perempuan juga. Saya sebagai calon emak-emak juga harus menunjukan hal ini.
    Aduh, tulisannya menarik nih kak ane. Saya share ya demi mengurangi kegaptekan dari kalangan emak-emak? 🙂

  4. January 18, 2017 / 9:08 am

    aku ini lhooo klo tekno yg ribet dikit langsung tepar deh kumaha duh kumaha
    macem infografik kmrn ituu, keluar kelas bubar ilmunya hadeeeh…
    tp klo ada yg bs dikuasai meski tingkat rendah, bawaannya hepi bangeet

    • Anne Adzkia
      January 23, 2017 / 2:18 pm

      Lah samaaaa…ttg infografis itu udah menguap yuk dadah babay 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *