Mengajak Anak-anak Belajar Berhemat Sejak Dini

Mengajak Anak-anak Belajar Berhemat Sejak Dini

Berhemat atau pelit? Apa bedanya? Sounds similar ya.

Kalau buat saya, hidup hemat itu membelanjakan sesuatu yang penting-penting aja. Sebagaimana target hidup saya ke depan bahwa hidup hemat merupakan bagian dari hidup minimalis, yaitu hidup sesuai dengan kebutuhan yang paling esensial, dan melepaskan apa yang tidak lagi esensial.

Kalau pelit, pastinya berbeda. Beda-beda tipis, sih. Tapi kalau pelit, kita akan mencoba mengurangi anggaran, tanpa memperhatikan apakah ada yang merugi akibat pengurangan itu.

Misalnya, saya dan suami terbiasa membeli pulsa 100 ribu sebulan. Karena ingin berhemat, kami mengurangi porsi pemakaian pulsa. Jadi masing-masing membeli 75 ribu/bulan. Nah ini namanya penghematan.

Kalau kasusnya begini, saya dan suami biasa membeli pulsa 100 ribu sebulan. Tapi karena ingin hemat, suami tidak boleh membeli segitu, melainkan dipotong menjadi 75 ribu. Tidak peduli apakah ada kesepakatan sebelumnya atau nggak. Hihihi semoga contoh yang saya jelaskan tepat ya.

Yang pasti sih, banyak manfaat dari hidup hemat. Salah satunya adalah terhindar dari jeratan hutang, karena kita akan selalu mempunyai simpanan uang untuk kebutuhan yang mendadak. Selain itu juga bisa membuat hidup berkecukupan, karena kita hanya akan membeli dan menggunakan berbagai barang sesuai dengan kondisi keuangan yang kita miliki alias tidak berlebihan tidak pula berkekurangan.

Berhemat Sejak Dini

Berhemat merupakan gaya hidup. Mengajarkan gaya hidup yang menjadi value keluarga sebaiknya dimulai sejak kecil melalui contoh dan pembiasaan. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memulai hidup berhemat sejak dini. Diantaranya:

  1. Hindarkan kebiasaan hadiah dan hukuman.

Sesekali tak apa, misalnya saat berulang tahun atau kenaikan kelas. Tapi tidak baik jika terlalu sering, cukup dengan pujian saja sudah bisa membuat hati anak senang tanpa perlu hadiah saat ia melakukan suatu hal yang baik. Jika dibiasakan metode hadiah dan hukuman ini, dikhawatirkan saat ia berbaur dengan masyarakat akan merasa kaget bahwa sistem tersebut tidak berlaku dalam masyarakat.

  1. Terapkan konsekuensi.

Hal ini sama dengan menerapkan disiplin pada si kecil. Jadi biasakan dia untuk mengetahui konsekuensi yang akan terjadi jika ia melakukan sesuatu. Misalnya jika ia tidak meletakkan baju kotornya di tempat cucian, maka ia tak akan dapatkan baju bersih untuk dipakai. Jika sepatu tidak dicuci di hari Minggu, maka hari Senin ia terpaksa pakai sepatu kotor. Menghabiskan uang saku di pagi hari membuat waktu istirahat jadi lapar karena tak bisa membeli makan siang dan seterusnya.

  1. Ajak anak menabung.

Banyak sekali bank yang menyediakan layanan tabungan untuk si junior, dengan buku tabungan dan kartu ATM sendiri yang desainnya menarik perhatian si kecil. Dari mulai gambar tokoh kartun, serial animasi kesayangannya sampai dengan foto pribadi si kecil pun bisa jadi penghias tabungan dan ATM yang akan ia dapatkan jika membuka rekening di bank tersebut. Kemudian ajak si kecil menabung setiap minggu atau setiap bulan.Β Β BRI dan BCA adalah contoh bank yang memiliki tabungan untuk anak.

harbolnas

  1. Biasakan hidup hemat dengan si kecil.

Ajaklah si kecil belanja dan beritahu ia tentang harga mahal, murah dan diskon. Kenalkan si kecil dengan cara berhemat, seperti belanja ukuran jumbo untuk penggunaan seluruh keluarga, pandai memilih antara dua produk sejenis dengan harga lebih ekonomis dan kelebihan belanja dalam momen diskon.

Mengajak si kecil belanja di momen Harbolnas adalah pilihan yang tepat, momen Hari Belanja Nasional 2016 nanti diadakan bulan Desember dan si kecil bisa diajak belanja ekonomis.

Mengajarkan berhemat sejak dini sekaligus menghemat anggaran belanja menyenangkan, bukan? Tentu manfaatnya tidak hanya diperoleh oleh si anak, namun juga orang tua πŸ˜€

Share:

10 Comments

  1. December 2, 2016 / 1:07 pm

    Kalo ngajak anak anak berhemat agak susah ya mbak. Mereka belum ngerti berhemat itu gimana. Ponakan saya lho, suka nabung tapi habis itu habis juga dijajani πŸ˜€ jadinya nabung buat beli jajanan yang diinginkan, kotak pensil atau mainan, padahal yang lama masih ada dan bagus. Kalo tak suruh nabung, harus ada iming iming yang lain sebagai gantinya. # hahaha.. Bagian yang ini ortunya yang kasih pengertian.

  2. December 2, 2016 / 6:03 pm

    Bagian konsekuensi ini aku catet banget deh, Mbak.
    Makasih yaaa tipsnya :*

  3. December 2, 2016 / 6:48 pm

    Iya ya, kadang saya suka lupa ngajarin konsekuensi pada krucil. Padahal ini termasuk hal yang penting ya dalam hidup.

  4. December 3, 2016 / 9:01 am

    Saya diajarin mama berhemat sejak kecil. Sampai sekarang kalau apa2 saya lebih perhitungan dari suami. Hihihi… Jadi walau megang atm dan tokennya suami, dia ga khawatir saya belanja2 kebablasan. Hihihi…

  5. December 3, 2016 / 11:26 am

    Alhamdulillah, untuk urusan hemat, anak-anak saya udah biasa. Malah saya yang sering diingetin mereka. Misal saat beli sepatu buat mereka. Saya pilih yang harganya lumayan, eh anak-anak maunya yang biasa. Sering malu sendiri jadinya. πŸ™‚

  6. December 5, 2016 / 1:37 pm

    alhamdulilah aku dulu juga sering diajarin mama untuk hemat, sampe sekarang udah jadi remaja kerasa banget selalu bisa manage uang..

  7. December 6, 2016 / 10:53 am

    tapi kalau saya malah kasihan mbak, ketika diajarin hemat dia emang bner2 nurut, cuman jadi kasian liatnya.. kayak nahan2 gitu padahal dia mau..

  8. December 7, 2016 / 9:02 pm

    memang harus dari dini untuk mengajari anak berhemat… biar menjadi kebiasaan

  9. December 14, 2016 / 9:04 am

    aku dulu dari kelas 5 SD dikasih uang jajan bulanan mbak, jadi kalo seminggu udah abis ya puasa jajan deh tuh smp bulan berikutnya hihihihi. Jadi terbiasa well planned, alhamdulillah terbawa smp skrg, berapa pun ‘jatah’nya insyaalloh cukup, makan sm daging ayam atau cuma tahu tempe mah itu lain urusan lah ya #eh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *